alexametrics

Lebaran, Foto, dan Glorifikasi Desa

Oleh PURNAWAN ANDRA *)
10 Mei 2022, 19:48:12 WIB

HAJAT komunal ”mudik Lebaran” sudah berlalu. Masyarakat kota yang mayoritas berasal dari desa telah kembali ke kampung halaman untuk bertemu sanak keluarga, saling bermaafan, dan melepas rindu. Momen yang dua tahun sebelumnya diidamkan, tapi tak terwujud karena pandemi, kini menjadi kenyataan. Maka, semua bergembira, menghabiskan waktu bersama, atau berwisata ke tempat-tempat indah yang memang banyak terdapat di desa itu akhirnya terwujud.

Desa memang selalu identik dengan gambaran indah lanskap alam dan kualitas hidup hubungan antarmanusianya. Desa adalah imaji yang dirindukan kaum urban: pemandangan cantik, udara bersih segar, dan tempat berlibur yang melega-lenakan. Dibandingkan dengan kota yang begitu sibuk, riuh, penuh polusi, desa adalah antonim dari kondisi tersebut.

Terlebih dalam konteks Lebaran, gambaran suasana desa itu banyak bermunculan di berbagai platform media sosial. Hal itu terjadi karena orang mempunyai kesadaran dokumentatif, mengabadikan berbagai peristiwa yang dialami. Peristiwa yang tak setiap saat terjadi tak hendak dilewatkan dan hanya tersimpan dalam ingatan. Mulai dari menikah, meninggal, sampai yang remeh-temeh seperti mengunggah menu makan sebelum disantap.

Foto menjadi bagian dari nostalgia dalam konteks biografis. Banyak orang mengunggah foto bermacam lokasi dan kegiatan (tidak hanya berlebaran) di desa. Mulai para selebgram yang mempunyai banyak pengikut hingga politikus yang bersafari di desa kala Lebaran.

Kenyataan

Namun, sebenarnya unggahan tentang desa tersebut tidak pernah mampu menghadirkan desa secara utuh. Foto memang merekam sudut desa yang asri, aktivitas keseharian penduduk atau produk kuliner yang khas: gambaran yang memenuhi benak orang-orang yang kemudian ingin pergi ke desa.

Tapi, foto tidak pernah mampu mencatat kenyataan ketika tanah adat direbut korporasi, rendahnya harga jual hasil pertanian, hingga kebutuhan hidup yang mencekik sehingga sawah dan tanah harus dijual. Sementara banyak rencana pembangunan yang disusun: jalan tol, waduk, hingga perumahan, vila, hotel, dan kafe mengubah wajah desa. Gegar budaya yang dialami penduduk desa tak tergambar dalam kamera telepon pintar. Desa hadir secara artifisial dalam foto, berbeda makna dalam bentuk, jarak, dan waktu.

Orang yang ke desa lebih memilih memfoto/berfoto daripada menyadari permasalahan di balik kenyataan. John Berger (dalam Mawardi, 2009) menyatakan bahwa setiap foto menyajikan pesan menyangkut peristiwa yang dipotret dan terkait diskontinuitas. Dengannya, pemaknaan atas foto berada dalam arti kemenduaan. Relasi foto dan makna menjadi makin bias ketika diletakkan dalam konteks kondisi sosial desa yang sesungguhnya, problematis.

Ratusan foto selebgram tentang Pulau Komodo, misalnya, hampir tidak ada yang mengisahkan betapa terancamnya lingkungan dan nilai lokalitas di sana akibat rencana pembangunan kawasan wisata superpremium. Cara penggambaran desa oleh para selebgram dan penerimaan pengikut mereka akhirnya menciptakan sebuah glorifikasi yang menyesatkan: bahwa desa secara harfiah dimaknai sebagai tempat nan indah, penuh suasana hijau, dan menenangkan jiwa belaka (Cahyadi, 2021).

Pembangunan

Hal itu terjadi karena selama ini identitas desa telah tergadai oleh motivasi pengembangan prototipe konsumerisme sebagai bagian dari representasi gaya pembangunan modern. Keberhasilan desa dilihat dari infrastrukturnya. Orang desa (ndeso) adalah orang yang ”dipaksa” iri terhadap kota. Gaya hidup kota mengambil alih gaya hidup orang desa. Kecenderungan kuat modernisme menjadi bagian dari infiltrasi kognitif agar orang desa juga patuh pada gaya hidup kekinian. Maka, identitas desa justru tidak lagi dipandang secara bijaksana/wisdom (Mahpur, 2008). Hal ini berarti sebuah khilangan yang tak tergantikan.

Logika ini terjadi karena stereotipe yang telah ada dan diberikan sejak Orde Baru sampai pasar kontemporer saat ini: bahwa desa identik dengan kuno dan lama oleh karenanya tertinggal, katrok, atau bahkan sebagai liyan (other). Konsep liyan selama ini secara laten dipakai untuk membangun sebuah struktur hierarki budaya dominan-marginal, modern-etnik, dan global-lokal.

Jelas, hal ini bukan pandangan yang egaliter, tapi hanya ingin mengukuhkan superioritas yang dominan-modern-global atas yang marginal-etnik-lokal. Yang terakhir dihadirkan sebagai bentuk ekspresi eksotisme komunalitas yang lokal, sekaligus partikular, sebagai kontras dari rasionalitas modernitas global.

Itu sebabnya, kerap kita lihat para politikus memperlihatkan dirinya beraktivitas di desa, seperti menikmati pemandangan, berwudu di pancuran, atau memanen bahkan menanam padi di bawah ancaman petir kala hujan. Semua itu kerap diberlangsungkan ”dalam rangka” dan ”atas nama” semisal peringatan Hari Tani, panen raya, atau pencanangan desa wisata.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads