alexametrics

Antisipasi Dampak Coronavirus, Belajar dari Kasus SARS

Oleh ILMIAWAN AUWALIN*
10 Februari 2020, 17:31:44 WIB

PEMERINTAH di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, mulai melakukan langkah antisipasi menyebarnya virus korona.

Salah satu yang terbaru, Selasa (4/2) pemerintah Jepang mengarantina sebuah kapal pesiar setelah salah seorang penumpang terjangkit coronavirus ketika kapal berlabuh di Hongkong sebelum melanjutkan perjalanan ke Jepang. Di Indonesia, salah satu langkah antisipasi adalah rencana penghentian sementara impor dari China (Jawa Pos, 5 Feb 2020).

Munculnya coronavirus pada akhir 2019 dan merebaknya penyebaran virus tersebut pada awal 2020 mengingatkan kita pada kasus virus SARS (severe acute respiratory syndrome) yang muncul pada 2002 dan menyebar pada 2003. Sampai akhir epidemi SARS pada akhir 2003, tercatat 8.096 kasus SARS yang terkonfirmasi dengan jumlah korban meninggal 774 orang.

Kemunculan dan Persebaran SARS

Kasus SARS di China ditemukan kali pertama pada pertengahan November 2002. Sedangkan kasus pertama di luar China dilaporkan pada Februari 2003 di Hongkong yang waktu itu belum menjadi bagian dari China. Mendekati pertengahan 2003, persebaran SARS meluas ke berbagai negara. Kasus SARS dilaporkan muncul di 32 negara di luar China, termasuk Indonesia.

Seperti halnya coronavirus tahun 2019, pada awal 2003 para peneliti juga berkejaran dengan waktu mempelajari virus SARS. Persebaran SARS relatif mulai bisa dikendalikan mendekati pertengahan 2003. Pengendalian tersebut terutama berkat kerja sama internasional antara WHO dan negara-negara di dunia untuk mengarantina mereka yang diduga penderita ataupun pembawa virus SARS. Metode karantina tersebut relatif efektif. Belajar dari pengalaman itu, prosedur karantina juga dilakukan berbagai negara untuk mencegah tersebarnya coronavius.

Selain karantina, menurut Hanna & Huang (2004), dua ekonom Citigroup, faktor lain yang membantu membendung wabah SARS pada 2003 adalah akses informasi yang lebih mudah. Penyebaran informasi yang lebih cepat dan lebih murah tentang SARS pada waktu itu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit tersebut. Itu membantu strategi pencegahan persebaran SARS.

Pada 2003, merebaknya SARS menimbulkan ancaman serius terhadap aktivitas perekonomian. Dampak langsung dalam jangka pendek yang disebabkan SARS adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi. Penyebabnya adalah penurunan permintaan secara global, terutama di negara-negara yang terpapar virus SARS.

Dalam laporan ADB yang dirilis pada Mei 2003, disebutkan bahwa penurunan permintaan terjadi melalui beberapa saluran. Saluran pertama melalui penurunan keyakinan konsumen yang anjlok sangat drastis sehingga mengakibatkan belanja konsumsi mengalami penurunan sangat signifikan. Penurunan keyakinan konsumen terutama disebabkan oleh ketidakpastian dan kekhawatiran terhadap penyebaran SARS. Banyak orang lebih memilih tetap di rumah untuk mengurangi kemungkinan terjangkit SARS. Sejak kemunculannya pada akhir 2002 sampai pertengahan 2003, belum ditemukan pengobatan untuk SARS.

Saluran kedua melalui sektor jasa, khususnya pada sektor pariwisata yang terguncang karena mengalami pukulan hebat dengan menurunnya jumlah wisatawan. Saluran ketiga melalui penurunan investasi yang diakibatkan penurunan permintaan agregat, serta meningkatnya ketidakpastian dan risiko. Pada waktu itu, investasi asing mengalami penurunan di negara-negara yang terpapar SARS.

Saluran keempat melalui belanja pemerintah yang meningkat guna mitigasi dampak SARS. Di satu sisi, peningkatan belanja tersebut dapat meminimalkan dampak SARS. Namun, di sisi lain, kenaikan belanja tersebut makin mengurangi kemampuan pemerintah yang relatif terbatas untuk menghidupkan kembali perekonomian yang lesu, terutama di tengah penurunan belanja yang signifikan oleh sektor swasta.

Epidemi SARS pada 2003 menghantam perekonomian China dengan keras. Produk domestik bruto (PDB) China diperkirakan turun 0,5 sampai 1 persen. Negara-negara Asia yang lain juga terkena dampak ekonomi, terutama pada sektor pariwisata. Hal itu, antara lain, disebabkan adanya larangan perjalanan ke negara-negara yang terpapar SARS. Butuh beberapa tahun agar sektor pariwisata di Asia bisa pulih kembali seperti periode sebelum epidemi SARS.

Jika dibandingkan dengan kasus SARS tahun 2002–2003, banyak pengamat ekonomi yang khawatir pada dampak ekonomi lebih parah akibat epidemi coronavirus. Ada beberapa alasan yang mendasari kekhawatiran itu.

Pertama, pada 2003, perekonomian China belum sebesar saat ini. Saat itu China masih berada di urutan ke-6 jika dilihat dari ukuran perekonomiannya. Sedangkan saat ini China adalah negara dengan perekonomian terbesar ke-2 di dunia. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan, China memberikan kontribusi 39 persen terhadap pertumbuhan ekonomi global pada 2019. Hal itu berarti jika China mengalami perlambatan akibat coronavirus, perekonomian global akan terkena dampaknya.

Kedua, saat ini wisatawan dari China merupakan yang terbesar di dunia. Pada 2003 jumlah wisatawan dari China bahkan tidak masuk lima besar di dunia. Hal tersebut tentu berdampak pada industri pariwisata secara global. Di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, sektor pariwisata memberikan sumbangan besar terhadap PDB. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan yang terus-menerus dalam hal jumlah kunjungan wisatawan dari China selama lima tahun terakhir. Pada 2019 tercatat lebih dari 2 juta wisatawan China berkunjung ke Indonesia. Penghentian sementara semua penerbangan dari China tentu saja berdampak pada turunnya kunjungan wisman dari China. Tentunya hal tersebut akan berdampak negatif pada sektor pariwisata di Indonesia.

Alasan ketiga adalah peran penting China dalam perdagangan global. Saat ini China merupakan importer sekaligus eksporter terbesar di dunia. Jika permintaan konsumen dan aktivitas produksi di China menurun sebagai dampak coronavirus, permintaan impor China juga akan menurun. Hal itu jelas akan berdampak pada negara-negara yang selama ini mengandalkan ekspornya ke China. Untuk Indonesia, pada 2019, ekspor ke China sekitar 15 persen dari total ekspor Indonesia. Jika ada penurunan permintaan di China, kemungkinan dampaknya tidak terlalu parah bagi ekspor Indonesia. Permasalahannya adalah pada sisi impor Indonesia dari China. Pada 2019 hampir 30 persen impor Indonesia berasal dari China. Dengan adanya epidemi coronavirus di China, sangat mungkin aktivitas produksi di China terkena dampaknya. Memang, situasi itu juga akan membuka peluang bagi produsen lokal atau produsen dari negara lain untuk mengisi suplai yang mungkin tidak bisa disuplai dari China. Namun, jika harga yang ditawarkan tidak kompetitif, peluang tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal.

Ya, kita tetap berharap agar coronavirus tidak tersebar di Indonesia. Kita juga berharap segera ditemukan obat atau vaksin untuk mengatasi epidemi kali ini. Upaya edukasi publik dengan penyebaran informasi yang tepat juga perlu terus dilakukan seperti halnya ketika epidemi SARS ataupun flu burung terjadi. Hal tersebut bisa membantu strategi pencegahan penyebaran coronavirus. Di luar itu, tentunya pemerintah dan dunia usaha perlu antisipasi dampak ekonomi yang mungkin bakal terjadi akibat merebaknya coronavirus.

*) Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Airlangga, alumnus program doktoral School of Economics, The University of Sydney, Australia

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/oni

Alur Cerita Berita

Lihat Semua

Close Ads