alexametrics

Ancaman Bencana Banjir dan Hutan Tuhan

Oleh PURNAWAN ANDRA *)
9 November 2021, 19:48:16 WIB

BANJIR bandang di Kota Batu beberapa waktu lalu memakan korban sekian banyak orang meninggal, sementara bangunan dan lahan tersapu air bah. Kota Batu sebenarnya memiliki posisi strategis dengan disabuki gunung dan dipagari hutan. Tapi, bendung air alami tersebut kemudian jebol meluap hingga menghancurkan permukiman warga.

Banjir menjadi permasalahan klasik yang tak pernah terselesaikan secara tuntas di kota-kota di Indonesia. Ia adalah masalah kompleks yang selalu mengancam. Berbagai analisis sumber permasalahan dilakukan, berbagai saran solutif dirumuskan, dan langkah-langkah penanggulangan direalisasikan. Namun, semua seperti menemui jalan buntu. Tak mencapai jalan keluar.

Dalam kasus bencana Kota Batu, banjir dipicu oleh luapan sungai yang tak mampu menampung debit air. Saking besarnya material banjir, bencana itu juga dirasakan ratusan warga Kabupaten dan Kota Malang. Kerusakan sungai yang terjadi sejak di hulu karena hutan yang gundul dan beralih fungsi membuat ancaman lingkungan semakin nyata di depan mata. Hal itu ironis karena hutan kita adalah kekayaan luar biasa yang menyimpan berbagai macam bahan. Mulai pangan, manufaktur, hingga elemen produktif lainnya. Inilah persoalan sosial masyarakat kita.

Makna Hutan

Hutan bukan cuma wilayah ekologis, tapi juga bermakna kultural hingga religius. Nenek moyang kita dulu membuka lahan, membangun permukiman, hingga memperoleh makanan dari hasil hutan. Hutan bagi masyarakat adat Nusantara adalah arena pematangan kemampuan fisik, teknik, dan pribadi bagi inisiasi hidup kaum lelakinya. Seseorang dianggap dewasa jika sudah menjelajah hutan, menundukkan hewan liar kuat penguasa hutan, atau menangkap buruan di hutan.

Kebanyakan narasi lakon, mitos, legenda, atau babad berawal atau bersumber pada interaksi tokohnya dengan hutan. Seperti kisah sang Buddha, Ramayana, hingga Panji Inu Kertapati. Dunia pewayangan kerap menceritakan kesatria yang berjalan jauh, menemui rintangan, dan berhasil mengalahkannya. Lantas bertapa brata meski diganggu makhluk penunggu hutan, tapi mampu memperoleh aji kesaktian dan senjata ampuh.

Wayang menggambarkan isi hutan dalam wujud kayon. Tergambar pepohonan rindang dengan cabang yang merangkul dan pucuk yang tinggi menyembul dalam ukiran renik: sesuatu yang teduh. Di kerimbunan yang agung itu seperti hidup wilayah kehidupan yang lain, yang berlangsung tenang dan syahdu. Ada burung merak di antara harimau, banteng, dan kera, juga gapura dengan tempat kunci berbentuk teratai. Simbolisme imaji harmoni secara horizontal dan vertikal.

Dalam sufisme, hutan adalah wahana dan wacana kesatuan dengan Tuhan. Candra Malik (2015) menyebut hutan sebagai kumpulan pohon yang mengajarkan kepada manusia bahwa untuk hidup, kita harus mengakar dan menunjang dari mulai batang, dahan, ranting, daun, bunga, sampai buah. Akar menyerap air, yang merupakan sumber kehidupan. Bahwa untuk hidup, kita harus kukuh laksana batang pokok, menjaga dahan-ranting agar tak mudah lapuk dan patah, serta menyerap energi semesta seperti dedaunan terhadap sinar matahari. Bahwa untuk hidup, kita memberikan yang terbaik sebagaimana bunga. Tak hanya elok dipandang, tapi juga sedap aromanya.

Bahwa untuk hidup, seperti pohon, kita pada akhirnya berbuah, yang di dalamnya terkandung biji yang tak lain adalah benih bagi kehidupan berikutnya. Dari pohon kita belajar kapan pun kita pasti kembali ke tanah. Bisa karena diterpa angin dan gugur, bisa pula roboh karena usia. Maka jika pepohonan ditebang sembarangan dan tidak ada upaya menanam kembali pohon-pohon baru, sesungguhnya kita telah memadamkan pelita hidup.

Darurat

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads