alexametrics

Absennya ”Aturan Main” di Kebijakan PPKM Darurat

Oleh AKH. MUZAKKI *)
9 Juli 2021, 19:48:53 WIB

Don’t think, but look!

KUTIPAN di atas adalah peringatan seorang filsuf kenamaan abad ke-20 Ludwig Wittgenstein dalam karya fenomenalnya, Philosophical Investigation (1958:31). ”Jangan dipikir, tapi lihat!” Begitu nasihatnya jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam argumennya, Wittgenstein mengingatkan bahwa sesuatu memiliki kemiripan dan/atau keserupaan dengan yang lain meskipun pada saat yang sama ketidakserupaan juga muncul. Bergantung pada aturan main yang mengikat sesuatu itu dari lainnya.

Peringatan Wittgenstein ini lalu melahirkan konsep language game (permainan bahasa) yang menunjuk ke relasi antara bahasa dan tindakan. Dalam pandangannya, sebuah kata atau bahkan kalimat memiliki makna hanya sebagai akibat dari ”aturan” dari ”permainan” yang dimainkan, bergantung pada konteksnya. Dia memberi contoh ucapan ”Air!” bisa berarti perintah, jawaban atas pertanyaan, atau bentuk komunikasi lainnya, bergantung aturan permainan yang disepakati antara petutur dan lawan tutur sesuai dengan konteks ujarannya.

Saya teringat teori Wittgenstein di atas saat mengikuti hiruk pikuk yang menyertai pelaksanaan aturan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat dan respons masyarakat terhadapnya. Seperti dijelaskan Presiden Joko Widodo dalam siaran live YouTube Sekretariat Presiden (1/7/2021), PPKM darurat itu berujung pada penutupan sejumlah kegiatan masyarakat dan pembolehan sejumlah yang lain untuk tetap beroperasi.

Salah satu yang krusial terkait dengan penutupan tempat ibadah seperti masjid, musala, gereja, pura, wihara, dan kelenteng untuk sementara waktu selama pelaksanaan PPKM darurat. Sejumlah tokoh agama merespons aturan itu secara berbeda-beda, mulai mengerti lalu mematuhi hingga mengkritik keras dan bahkan menolaknya.

Baca Juga: Dokter Muda Pelopor Lulusan Oita University Jepang Itu Berpulang

Publik pun bingung harus bagaimana, terutama saat menyimak resistansi sejumlah tokoh agama terhadap penutupan tempat ibadah, sementara aturan PPKM darurat justru menghendaki penutupan sementara.

Saya menerima pesan WhatsApp dari seorang teman di Surabaya sebagai berikut: ”Apa di masa PPKM darurat masjid masih diperbolehkan buka, karena terjadi pro dan kontra di lapangan antara ketentuan PPKM darurat dan berita tersebut…kami sebagai satgas covid di tingkat RW menjadi bingung juga menyikapinya.”

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads