alexametrics

Menanam Pisang, Berharap Durian

Oleh Eka Kurniawan, Novelis
9 Mei 2020, 14:13:02 WIB

SEPERTI orang lain, kadang saya kesal dengan apa yang tidak saya punya. Misal, melihat orang yang begitu ganteng macam Brad Pitt. Sadar saya tak bisa menyaingi kegantengannya, jadi berpikir, ”Apalah artinya ganteng, udah mati toh jadi tengkorak.”

Padahal, kegantengan mereka lahir dari bangunan imajinasi di kepala saya, yang terus dicekokin film, media hiburan, internet, dan lain sebagainya, bahwa wajah macam artis Hollywood itu ganteng.

Kegantengan bisa juga ada hubungannya dengan olahraga terkontrol, makanan penuh nutrisi, perawatan tubuh. Tapi, karena saya tak mau capek-capek mikirin itu maupun mengkritisi pikiran sendiri, cara paling gampang tentu penyangkalan dan bawa-bawa mati.

Setidaknya itu menghibur saya sejenak. Nanti, di dalam tanah, saya dan siapa pun tak ada bedanya. Penghiburan yang tak menjawab persoalan Brad Pitt ganteng dan saya tidak. Dan selama kami sama-sama hidup, kejengkelan saya barangkali abadi.

Saya juga suka gemas melihat negara dan bangsa lain maju secara ilmu dan teknologi. Gagasan-gagasan filsafat berkembang pesat di Eropa, memberi landasan bagi ilmu dan teknologi modern. Lihat kemajuan industri Eropa, Amerika, Israel, Jepang, Tiongkok, Korea.

Bukan hanya itu, lihat daftar pemenang hadiah Nobel. Banyak ahli fisika, kimia, biologi, kesehatan, ekonomi. Sialnya, tak satu pun ilmuwan Indonesia tercatat di sana. Apa yang selama ini kita lakukan? Katanya banyak yang pintar, kenapa mereka lenyap begitu saja?

Lagi-lagi, saya menghibur diri. Nanti, di akhirat, orang tak memerlukan telepon genggam. Tak ada media sosial. Tak ada mobil listrik tanpa sopir. Tak ada stasiun luar angkasa. Tak ada gunanya mengetahui seperti apa Pluto, sebagaimana tak ada gunanya mencari tahu apakah ada kehidupan di luar angkasa.

Di dunia kekal itu, juga tak akan ada penyakit. Tak perlu repot-repot jadi ahli pengobatan untuk tahu virus, antivirus, dan vaksin. Di sana juga tak akan ada orang kelaparan. Jadi, buat apa pusing memikirkan cara menghasilkan benih varietas unggul agar semua orang bisa makan?

Bahkan, bisa jadi keadaan akan berbalik. Saya dan saudara-saudara sebangsa dan setanah air akan hidup bahagia di alam baka karena kita pada dasarnya orang-orang baik. Kita bisa terbang, bisa mengangkat gunung cuma karena ingin rebahan, dan karena saya tak suka susu, bolehlah membayangkan sungai es cendol yang melimpah.

Masalahnya, saat ini kita hidup di dunia, dan mungkin masih akan hidup beberapa puluh tahun ke depan. Kita akan merasakan lapar, sebagaimana bisa sakit. Kita akan menggunakan produk teknologi, dan karena tak bisa membuatnya, maka membelinya ke negara lain. Untuk segelas es cendol, saya harus bekerja dan menghasilkan uang. Memang lebih gampang memikirkan hal yang jauh daripada kenyataan yang menyulitkan di depan mata. Emang gampang menghasilkan ilmuwan kaliber Einstein? Emang gampang menghasilkan pabrik-pabrik manufaktur teknologi tinggi? Emangnya gampang menghasilkan universitas dengan kebebasan akademik yang luas?

Jelas itu bukan kerja semalam. Ketika kita mencoba mengejar, mungkin mereka sudah bergerak pula entah beberapa langkah di depan.

Bisa jadi sikap fatalis saya lahir dari nasihat-nasihat lama yang sering saya dengar waktu kecil. Belakangan pun masih sering saya dengar dari seseorang yang bahkan lebih muda daripada saya. Nasihat itu berbunyi serupa, ”Harta tak akan dibawa mati.”

Memang betul. Harta di sini merupakan dunia material, tak melulu uang dan kekayaan. Ia bisa melebar ke berbagai hal duniawi lainnya: ilmu, teknologi, dan tentu saja termasuk kegantengan dan kecantikan.

Kamu jago main bola? Di kuburan enggak ada yang nonton. Bisa akting bagus di film? Itu cuma hiburan dunia.

Masalahnya, sekali lagi, kita bisa lapar dan sakit. Untuk membangun rumah ibadah, kita butuh ilmu bangunan dan arsitektur. Untuk menuliskan pikiran saya ini, saya butuh laptop. Untuk tulisan saya dibaca oleh orang lain, kita butuh internet, kertas, mesin cetak, tinta.

Tak ada yang salah memikirkan dunia setelah mati. Kita semua penasaran soal itu. Yang keliru adalah tidak memikirkan persoalan dunia hanya karena dunia ini fana. Yang keliru, mengharapkan durian, tapi menanam pisang. Ingin ganteng, tapi yang dipikirkan adalah urusan dikubur jadi tengkorak.

Harta dan ilmu pengetahuan, sialnya, memiliki kesamaan. Keduanya bisa diakumulasi, dikumpulkan, dan bisa menciptakan kesenjangan lebar. Semakin lebar kesenjangan, semakin sulit untuk sebagian orang meraihnya. Alih-alih memahami kesenjangan itu ada, malah menyangkal bahwa itu hal penting untuk diperjuangkan.

Apakah kita perlu menghentikan nasihat lama ”harta tak dibawa mati”? Tidak perlu, saya kira. Yang perlu sekadar menjawabnya, ”Iya. Tapi, harta bisa diwariskan buat anak cucu bikin start-up dan ilmu bisa dipergunakan oleh generasi yang akan datang.” (*)

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads