alexametrics

Musim Mudik Tahun Ini, Balik Naik Kapal Lagi

Oleh DJOKO SETIJOWARNO, Pengamat Transportasi
9 Mei 2019, 17:36:28 WIB

JawaPos.com – Badan Litbang Perhubungan memprediksi bahwa pemudik 2019 mencapai 18,2 juta orang. Mereka berasal dari Banten, Jabodetabek, dan Bandung Raya. Maklum saja, selama ini wilayah-wilayah tersebut banyak didiami perantau.

Pemudik tersebut akan pulang kampung ke beberapa wilayah. Ke Jawa Tengah 5,6 juta jiwa, Jawa Barat 3,7 juta jiwa, dan Jawa Timur 1,7 juta jiwa. Alat transportasi yang digunakan juga beraneka. Mobil pribadi 4,3 juta unit, bus ekonomi 2,4 juta, dan bus eksekutif 2,1 juta, pesawat udara 1,4 juta orang, dan sepeda motor 942 ribu unit. Nah, untuk pulang kampung itu, mereka yang di Jawa bisa mengandalkan tol trans-Jawa. Diprediksikan, jumlah pengguna tol akan naik.

Selain mobilitas yang tinggi, potensi perputaran uang demikian besar. Mencapai Rp 10,3 triliun uang akan dibelanjakan. Karena itu, daerah-daerah di sepanjang tol trans-Jawa harus pintar-pintar menangkap peluang. Salah satunya dengan menyiapkan fasilitas area istirahat di kota/kabupaten tersebut. Daerah yang dilalui jalan tol dapat menjadi area istirahat. Karena itu, pemudik perlu merencanakan pilihan daerah yang hendak dijadikan tempat istirahat saat mudik nanti.

Badan usaha jalan tol mesti aktif mengedukasi masyarakat dan pemudik untuk beristirahat di luar jalan tol atau di daerah yang dilalui jalan tol. Operator jalan tol juga harus menyiapkan sistem yang membuat pemudik tak perlu membayar saat keluar masuk di salah satu pintu tol trans-Jawa untuk istirahat di daerah tersebut. Hal tersebut penting untuk mendorong pemudik memanfaatkan daerah yang dilalui jalan tol sebagai tempat istirahat.

Gerbang tol Salatiga dapat menjadi contoh karena area untuk istirahat pemudik berdekatan dengan pintu tol. Saya menyarankan, area untuk istirahat bagi pengguna jalan tol sebaiknya berjarak 200-300 meter dari pintu tol.

Sejumlah rest area tidak akan mencukupi kebutuhan pemudik yang akan singgah. Perlu upaya Ditjenhubdat untuk membatasi rentang waktu berada di rest area. Harus dilengkapi instrumen untuk membatasi waktu tersebut. Misalnya, disediakan gate elektronik yang bisa mencatat keluar masuk kendaraan. Jika melebihi batas waktu, dikenakan tarif yang cukup tinggi.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang berada di luar Jawa. Sebelum tiket pesawat naik seperti sekarang, banyak yang mengandalkan pesawat untuk bepergian dari satu pulau ke pulau lain. Mereka memanfaatkan murahnya harga tiket. Dampaknya memang tak banyak lagi kapal cepat yang beroperasi. Tentu setelah harga tiket pesawat tidak segera turun, keberadaan kapal cepat bisa dibutuhkan lagi.

Untuk tahun ini, saya memperkirakan jumlah pemudik menggunakan kapal laut akan lebih banyak daripada tahun lalu. Paling besar adalah tujuan ke Jawa. Perantau yang selama ini bermukim di Kalimantan akan berangkat dengan menggunakan kapal yang berada di Pontianak, Kumai, Sampit, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Tarakan, dan Nunukan. Sedangkan yang tinggal di Sulawesi akan berangkat dari Makassar dan Parepare. Karena itu, aktivitas di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, dan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, akan sibuk.

Tahun ini jumlah armada bus itu harus ditambah, baik di Pelabuhan Tanjung Emas maupun Pelabuhan Tanjung Perak. Harus dihindari beroperasinya angkutan umum pelat hitam yang sering merugikan pemudik dengan tarif semaunya. Mungkin, lembaga advokasi konsumen di daerah dapat membuka posko pengaduan di kedua pelabuhan tersebut.

Demikian pula sediaan angkutan lanjutan wajib ada di beberapa simpul transportasi di daerah, seperti terminal dan stasiun. Bukan menyerahkan angkutan lanjutan kepada roda dua dan roda empat daring. Pemda sudah saatnya menata transportasi umum di daerah masing-masing.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (disarikan dari wawancara/lyn/c10/git)