Status Imunitas pada Puasa Ramadan

Oleh ARI BASKORO *)
9 April 2021, 19:48:27 WIB

UMAT Islam di seluruh dunia yang saat ini diperkirakan berjumlah 1,5 miliar jiwa menjalankan puasa Ramadan dalam beberapa hari lagi. Suasana Ramadan tahun ini mungkin sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, hingga saat ini dunia berada dalam masa genting menghadapi pandemi Covid-19 yang belum bisa diprediksi kapan berakhirnya.

Perhatian para ahli dan peneliti bidang kesehatan saat ini terpusat pada pertanyaan seputar dampak puasa yang berlangsung 29–30 hari di aspek kesehatan manusia pada masa pandemi. Khususnya tentang aktivitas sistem imun selama Ramadan dalam menghadapi paparan mikroba. Termasuk virus korona.

Banyak literatur yang membahas secara ilmiah dampak sistem imun selama menjalankan puasa Ramadan. Sebagian memberikan wacana kehati-hatian. Terutama pada kondisi-kondisi spesifik tertentu yang mungkin bisa berdampak kurang menguntungkan bagi kesehatan. Namun, sebaliknya banyak riset yang bisa mengungkap manfaat puasa bagi kesehatan manusia. Khususnya performa sistem imun dalam menghadapi berbagai ancaman mikroba, tidak terkecuali SARS-CoV-2 sebagai virus penyebab Covid-19.

Beberapa elemen yang menghubungkan aktivitas berpuasa dengan dampaknya bagi kesehatan adalah persoalan mekanisme inflamasi, stres oksidatif, metabolisme, berat badan, serta perubahan komposisi kompartemen susunan tubuh. Perubahan-perubahan pada komposisi dalam diet makanan dan pola hidup menjadi bahan kajian yang menarik bagi para peneliti. Misalnya, asupan cairan/status hidrasi, lama dan perubahan pola waktu tidur, jumlah asupan kalori per hari, perubahan pola waktu makan, aktivitas sosial (misalnya buka puasa bersama), serta spiritual (misalnya pengajian di masjid).

Inflamasi

Inflamasi atau peradangan sebenarnya merupakan respons pertahanan tubuh yang fisiologis terhadap rangsangan mikroba ataupun cedera jaringan. Dalam derajat tertentu, memang inflamasi diperlukan tubuh untuk mekanisme pemulihan. Namun, bila berlebihan dan tidak terkendali (hiperinflamasi), hal itu justru sangat merugikan dan dapat menimbulkan berbagai kerusakan jaringan.

Belajar dari kasus-kasus yang fatal pada Covid-19, terjadinya mekanisme hiperinflamasi menjadi biang penyebab kematian tertinggi pada penyakit yang disebabkan virus ”cerdas” yang rajin mengalami mutasi tersebut. Tidak semua individu akan mengalami kondisi buruk seperti itu. Hanya orang-orang tertentu yang dikenal mempunyai komorbid dan potensi lebih berisiko mengalami keadaan yang menjurus menjadi lebih berat.

Dokter yang merawat pasien Covid-19 dengan komorbid tertentu seperti kencing manis, hipertensi, lansia, kegemukan/obesitas, perokok, ataupun penyakit-penyakit kronis lainnya akan bertindak lebih berhati-hati. Sebab, orang-orang dengan kondisi seperti itu berada dalam keadaan low-grade inflammation. Dengan adanya paparan virus korona, peradangan dengan derajat rendah dalam waktu yang lama/kronis seperti ini mampu menimbulkan dampak yang potensial sangat berbahaya.

Banyak peneliti yang telah membuktikan, parameter inflamasi yang dapat diukur dalam sirkulasi darah akan mengalami penurunan yang cukup signifikan selama individu tersebut menjalankan puasa Ramadan dan kembali pada keadaan normal dalam beberapa waktu kemudian. Temuan itu paralel dengan fungsi sel darah putih yang performanya semakin meningkat untuk menangkal mikroba, khususnya bakteri (contohnya Salmonella typhimurium yang telah diketahui sebagai penyebab penyakit tifus dan Mycobacterium tuberculosis sebagai penyebab penyakit TB).

Efek proteksi yang sama bisa ditujukan terhadap virus Varicella-zoster (mengakibatkan penyakit cacar ular/cacar api) dan virus Ebola (dapat ditularkan primata kepada manusia dengan perantaraan kelelawar dan penyakit ini pernah mewabah di Afrika). Meski demikian, riset tentang peranan sel-sel imun selama puasa Ramadan dalam menangkal dampak Covid-19 masih terus berlangsung.

Di sisi lain, puasa Ramadan dapat meningkatkan komponen-komponen yang bersifat anti-inflamasi yang juga bisa memberikan manfaat proteksi terhadap susunan saraf pusat. Khususnya memelihara fungsi kognitif dan membantu mencegah degenerasi ataupun memperlambat penurunan fungsi imunitas yang disebabkan faktor usia (immunosenescence).

Berat Badan

Dampak fisiologi yang menguntungkan dalam menjalankan puasa Ramadan adalah perubahan berat badan dan komposisi kompartemen struktur tubuh. Berdasar data Riskesdas Indonesia 2018, angka obesitas di negara kita mencapai 21,8 persen. Kecenderungannya memang meningkat dari tahun ke tahun. Dalam dunia kedokteran, obesitas merupakan suatu tanda dari sindrom metabolik yang dapat berakibat pada penurunan respons imunitas terhadap timbulnya infeksi oleh mikroba.

Kompartemen tubuh yang menimbulkan akibat buruk pada kondisi demikian adalah lapisan lemak di dinding perut yang disebut white adipose tissue (WAT) atau lemak visceral. WAT tidak hanya bersifat sebagai ”gudang” penyimpanan energi yang dapat ”dibongkar” selama berpuasa. WAT juga mengandung komponen-komponen yang bersifat memicu inflamasi sehingga bisa berakibat pada peningkatan berbagai risiko penyakit. Misalnya, kencing manis, tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, stroke, penuaan dini, kanker, perlemakan hati, dan beberapa penyakit lainnya yang dilandasi proses low-grade inflammation yang berlangsung kronis.

Baca Juga: Bakal Terima 126 Bus, Eri Siapkan Warga Jadi Driver

Puasa Ramadan terbukti sukses menurunkan berat badan, khususnya mengurangi lingkar perut yang merupakan ukuran standar WAT. Pada gilirannya, berkurangnya kompartemen WAT dalam tubuh seseorang dapat meningkatkan performa sistem imun.

Perhatian Khusus

Selama menjalankan puasa Ramadan, perlu diperhatikan jumlah asupan cairan yang cukup. Tujuannya, menghindari terjadinya dehidrasi yang dapat menimbulkan penurunan daya pembersihan tubuh terhadap mikroba saluran napas. Perhatikan juga komposisi makanan yang seimbang. Terdiri atas karbohidrat, sayuran, buah-buahan, polong-polongan, dan kacang-kacangan yang mengandung banyak vitamin dan mineral serta polifenol sebagai antioksidan yang dapat membantu meningkatkan aktivitas sistem imun. Karena masih situasi pandemi, kita tetap harus disiplin mematuhi protokol kesehatan selama menjalankan ibadah secara bersama-sama. (*)


*) Ari Baskoro, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: