alexametrics

Neraka Sialan dan Anak Babi yang Pemalu

Oleh Iqbal Aji Daryono*
9 Februari 2020, 16:20:16 WIB

AGEN Mossad A tidak pernah memaki. Dia sangat religius dan dibesarkan dengan aturan yang ketat mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan. Dia meletakkan gagang telepon, duduk di ranjang, dan berkata, ”Neraka sialan.”

Bwahaha! Meledaklah tawa saya.

Memang saya beberapa kali tertawa kecil saat membaca versi terjemahan novel lucu Jonas Jonasson itu, yang berjudul The Girl Who Saved the King of Sweden. Namun, tawa kecil-kecil karena celetukan Jonas itu ternyata kalah keras oleh tawa akibat membaca kata ”neraka sialan” di halaman 215.

Meski novel itu ditulis Jonas dalam bahasa Swedia, edisi Indonesia-nya merupakan terjemahan dari bahasa Inggris. Saya sudah memastikannya di halaman kolofon buku. Maka, seketika saya menduga, ”neraka sialan” tak lain adalah terjemahan dari fucking hell, umpatan yang lazim dalam bahasa Inggris. Sayangnya, kelaziman umpatan dalam bahasa Inggris itu tidak berlanjut di versi bahasa Indonesia.

Inilah tantangan penerjemahan. Penerjemahan bukanlah aktivitas mengganti bahasa secara parsial. Ia bukan cuma pengalihan bahasa dalam makna sempit, melainkan lebih luas lagi, yakni pengalihan wacana.

Dalam buku Meaning-Based Translation: A Guide to Cross-Language Equivalence, Mildred L. Larson memaknai terjemahan sebagai perubahan bentuk dari bahasa sumber ke dalam bahasa penerima, di mana makna dijaga agar tetap sama.

Ya, makna. Itulah kata kunci dari penerjemahan. Tentu saja makna sebuah kata atau kalimat tak akan lepas dari semesta pembicaraan, juga sangat lekat dengan konteks sosiolinguistik masyarakat yang menuturkannya. Karena itulah, yang dilakukan saat menerjemahkan bukanlah mencari arti kata, melainkan menemukan padanan kata.

Begini jelasnya. Kata fucking bisa saja diterjemahkan sebagai ”sialan” (meskipun ada beberapa makna lain). Adapun kata hell tentu sah diterjemahkan sebagai ”neraka”. Itulah yang akan terjadi ketika dua kata itu diterjemahkan secara terpisah.

Meski demikian, untuk membentuk sebuah umpatan yang sepadan dalam bahasa penerima (dalam hal ini bahasa Indonesia), kita tak dapat lepas dari faktor kelaziman. Tanpa kelaziman, makna fucking hell sebagai umpatan dalam bahasa Inggris akan sulit ditransfer ke dalam bahasa Indonesia.

Pertanyaannya, lazimkah umpatan ”neraka sialan” dalam bahasa Indonesia? Silakan menjajal umpatan itu di jalan dan lihat saja respons orang yang Anda umpati. Saya bertaruh dia malah akan kebingungan. Kebingungan itu menjadi tanda bahwa telah terjadi kegagalan transfer makna.

Umpatan memang bukan sekadar kata. Ia juga mengandung emosi. Karena itulah, umpatan termasuk yang paling sulit diterjemahkan apa adanya. Sebab, pengalihan muatan emosinya itu yang rumit. Menerjemahkan umpatan bisa-bisa sama beratnya dengan menerjemahkan puisi.

Tidak usah jauh-jauh ke bahasa Inggris. Umpatan dalam bahasa Jawa varian Jogja saja sudah berbeda dengan bahasa Jawa ala Surabaya. Di Jogja, mengumpat asu (anjing) itu sudah kasar sekali. Tapi, ketika kata asu dipakai untuk mengumpat saat Anda bersenggolan di jalanan Surabaya, bisa-bisa yang Anda umpati malah ngakak geli.

Omong-omong tentang binatang, selain anjing, ada juga babi. Itu dua binatang yang dianggap kotor dalam pandangan dunia muslim. Saya ingin menarik pandangan dunia tersebut ke hal selain umpatan yang rasanya lebih rumit lagi untuk diterjemahkan, yaitu lelucon.

Ceritanya, kami sekeluarga lumayan lama tinggal di Australia. Anak pertama kami menjalani masa kecil di sana dan proses awal dia dalam memahami dunia sangat dipengaruhi cara pandang masyarakat Australia.

Nah, sepulang ke Jogja, saya melontarkan guyonan mahalawas kepadanya: Kenapa anak babi jalannya menunduk?

Anak saya menjawab tidak tahu. Lalu, sebagaimana protokol baku dalam lelucon jadul itu, saya bilang anak babi menunduk karena malu.

”Kenapa malu, Pak?” anak saya bertanya sambil memasang wajah penasaran. Saya pun menabuh gong penutupnya. ”Dia malu karena ibunya babi! Hahaha!”

Malang, anak saya malah melongo. Sama sekali dia tidak paham di mana lucunya. Kenapa ada anak babi malu punya ibu babi?

Barulah kemudian saya sadar. Lelucon itu muncul dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.

Ajaran Islam mengharamkan babi sehingga citra babi tampak kotor, buruk, dan rendah (sebagaimana anjing yang muncul sebagai umpatan). Gara-gara itulah si anak babi malu punya ibu babi.

Lelucon anak babi itu jadi sangat sulit saya jelaskan kepada anak saya. Selama di Australia, dia cukup sering melihat babi. Di sana, ada pekan raya tahunan yang salah satu area stannya memamerkan hewan-hewan ternak, termasuk babi. Babi-babi yang dipamerkan di situ bersih-bersih, lucu-lucu, warnanya merah jambu.

Selain menjumpai babi-babi betulan, anak saya juga selalu menonton Peppa Pig, film kartun bikinan Inggris yang rutin diputar di televisi Australia. Film itu menceritakan satu keluarga babi yang sakinah dan penuh cerita seru. Sampai-sampai anak saya punya boneka dan kaus Peppa Pig.

Dengan situasi seperti itu, jelas saja dia tidak pernah memersepsikan babi sebagai binatang kotor dan bikin malu. Malah bisa-bisa dia sayang sama babi dan otomatis tidak bakal mau memakannya tanpa saya harus memakai doktrin agama. Maka, ”anak babi malu punya ibu babi” itu adalah konsep yang sangat tidak masuk di alam kesadarannya.

Kita masih bisa mencari padanan umpatan. Fucking hell, rasanya, pas diterjemahkan dengan bajingan. Emosinya dapat, meski tak ada kaitan arti kata per kata. Malangnya, ternyata kita sangat sulit menerjemahkan lelucon. Sebab, lelucon tidak hanya mensyaratkan emosi, tapi juga membawa beban konteks sosial yang terlalu luas. (*)

*) Penulis buku Berbahasa Indonesia dengan Logis dan Gembira

Editor : Ilham Safutra


Close Ads