alexametrics

Menyapu Sampah ke Bawah Permadani

Oleh Eka Kurniawan, Sastrawan
9 Februari 2019, 17:23:51 WIB

APA yang terjadi jika saya duduk di warung rokok, lewatlah seorang gadis yang pada dasarnya tidak saya kenal, kemudian saya memanggilnya, ”Neng, temenin sini, dong,” atau ”Hey, kamu manis, deh”?

Si gadis mungkin melengos dan bapak penjual rokok di warung akan tertawa atau malah ikut menggoda. Peristiwa itu dianggap kejadian biasa. Sebab, saya lelaki, tak peduli dengan apa pun yang dirasakan si gadis.

Sekarang bayangkan saya penulis terkenal, lalu seorang mahasiswi sastra ingin belajar atau sekadar penasaran karena dia kagum pada tulisan saya. Saya pergunakan kesempatan itu untuk mengajaknya bicara siang dan malam.

Di satu titik, saya membujuknya datang ke kamar dan menidurinya, kalau perlu dengan cekokan minuman sambil mengintimidasi, “Masak anak sastra enggak berani?”

Apa yang akan terjadi? Sangat mungkin masyarakat akan bilang, “Salah si cewek. Ngapain dia datang ke kamar buaya?” Sebab, saya lelaki, punya sedikit kuasa, tidak apa-apa jadi buaya pemangsa.

Skenario ketiga. Saya mahasiswa KKN dan teman mahasiswi saya terjebak hujan di pondokan saya. Saya mengizinkannya tidur di kamar. Bukannya tidur di kursi atau menjagai dia, saya malah ikut masuk ke kamar.

Saat dia tidur, saya mulai meraba tubuhnya. Teman saya terbangun dan marah. Ketika dia bersuara, apa yang akan terjadi?

Kampus sangat mungkin akan memanggil kami, menyuruh kami berdamai. Sebab, saya lelaki, dan kampus yang dipenuhi lelaki tak pernah mau berpikir bahwa lelaki memang bisa sebrengsek dan sejahat itu. Mereka akan mendorongnya menjadi tindak asusila.

Kasus-kasus semacam itu bukan kisah khayalan, juga bukan omong-kosong. Yang terkini terjadi pada seorang mahasiswi UGM bernama Agni (bukan nama sebenarnya) dan rektorat UGM malah memilih jalan damai.

Sebuah insentif dari institusi pendidikan bagi para predator seks. Sebuah keputusan memalukan bagi institusi pendidikan yang seharusnya berada di garis terdepan untuk melindungi civitas academica-nya dari segala jenis kekerasan.

Permakluman atas para predator seks, yang umumnya lelaki ini, memang sangat mengkhawatirkan di tengah masyarakat yang masih memuja maskulinitas, bahkan machoisme, di dalam budaya patriarki. “Kamu lelaki keren kalau kamu bisa memangsa perempuan”, “Ikan asin di meja, wajar dimakan kucing garong.”

Korban kekerasan seksual, umumnya perempuan, sering kali bungkam juga karena tekanan budaya semacam itu. Tekanan bahkan bisa datang dari sesama perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan #MeToo yang dipelopori para perempuan penyintas bangkit melawan budaya kekerasan seksual ini. Gerakan tersebut merebak dari Amerika, Asia, Eropa, dan tentu termasuk Indonesia meski situasinya masih tertatih-tatih.

Mengikuti gerakan tersebut, jelas kita tahu bukan hal mudah bagi para penyintas untuk bersuara. Dari sana kita juga bisa belajar satu hal yang sangat penting: mereka tak hanya menghadapi pelaku, tapi juga masyarakat yang buta dan penuh permakluman. Sering kali para lelaki, meskipun bukan predator, menjadi beban tambahan karena kita memutuskan diam, didera rasa sungkan yang tak patut.

Lihat, misalnya, kasus di Akademi Swedia. Pada awalnya mereka berusaha menutupi kasus pelecehan seksual yang dilakukan Jean-Claude Arnault, yang memiliki kerja sama dengan akademi. Bayangkan, bahkan anggota akademi itu sebagian adalah perempuan, termasuk istri si pelaku.

Pertemuan-pertemuan berakhir buntu, sebagian mungkin karena solidaritas sesama budayawan. Hal itu membuat beberapa anggota yang kritis akhirnya memutuskan keluar.

Perlu desakan masyarakat, termasuk kepada institusi-institusi otoritatif, untuk mengakhiri kekerasan seksual ini. Akademi Swedia bahkan akhirnya memutuskan tindakan ekstrem tidak menganugerahkan Nobel Kesusastraan tahun lalu. Itu dilakukan untuk membereskan dan mendefinisikan ulang peran-perannya sebagai institusi.

Kita juga bisa belajar dari tindakan Gereja Katolik beberapa hari terakhir. Rumor tentang perbudakan seks atas para biarawati sudah menjadi konsumsi publik bertahun-tahun lamanya. Bisa dibayangkan betapa sulitnya para biarawati bicara tentang hal ini, sebagaimana sulitnya bagi Gereja Katolik membuka kenyataan tersebut. Ini tak hanya menyangkut reputasi lembaga, tapi bahkan kesuciannya.

Meskipun begitu, Paus Fransiskus akhirnya berdiri di depan dan secara terbuka mengakui masalah ini. Itu langkah yang sangat besar bagi Gereja Katolik dan lebih besar bagi para korban serta penyintas secara umum.

Maka melihat apa yang dilakukan rektorat UGM atas kasus Agni, saya anggap sebagai kemunduran, terutama jika melihat tren yang sangat baik di belahan dunia lain. Ketika institusi-institusi berusaha berdiri bersama para korban dan penyintas, UGM justru memberikan insentif buruk bagi pelaku. UGM terkesan menyembunyikan sampah di bawah permadani indah, memastikan kampus sebagai tempat damai dengan segala perdamaiannya.

Jika kamu mahasiswa dan memukuli adik angkatanmu hingga babak belur, jangan khawatir, rektorat mungkin akan mengusahakan perdamaian. Jika kamu dilecehkan atau diperkosa, sebaiknya kamu diam tak bersuara. Hal-hal seperti inikah yang ingin dibangun UGM atau mungkin kampus-kampus lain di Indonesia?

“Benar,” kata Paus Fransiskus, “Ada pastor dan uskup yang melakukannya.” Sikap demikianlah yang seharusnya ditiru Rektorat UGM, sebab mengatakan kebenaran mestinya menjadi darah daging di lembaga intelektual semacam universitas. (*)

Editor : Dhimas Ginanjar

Menyapu Sampah ke Bawah Permadani