alexametrics

Ketangguhan Masyarakat Menghadapi Bencana

Oleh PROF SARATRI WILONOYUDHO *)
8 Desember 2021, 19:48:16 WIB

BENCANA letusan gunung berapi seperti Semeru dan sebagainya merupakan hal yang ”wajar” karena itu merupakan hukum alam yang tidak dapat ditolak. Yang harus dilakukan pemerintah adalah bersama rakyat yang berada di daerah rawan bencana untuk selalu mengembangkan mitigasi bencana bersama yang berbasis teknologi dan kearifan lokal.

Negeri ini berada dalam wilayah cincin api. Pulau-pulau yang membentang di Indonesia terbentuk dari kekuatan tektonik dan vulkanik yang mendorong daratan. Sering kali menyebabkan letusan atau magma dan abu. Di sinilah mitigasi dan manajemen bencana diperlukan. Sebab, gunung berapi yang sambung-menyambung sejak dari Pulau Sumatera hingga Nusa Tenggara juga membawa berkah kesuburan.

Karena terbiasa menghadapi bencana, nenek moyang kita sejak dulu sebetulnya memiliki kearifan lokal dan ilmu ”titen”, kapan bencana akan terjadi dan bagaimana cara menyelamatkan. Persoalannya, ilmu titen tersebut kini makin tergerus karena umumnya manusia zaman teknologi modern ini semakin jauh dari alam. Bahkan, banyak ritual untuk merawat alam dicap ”bidah” dan sebagainya, tanpa menyimak lebih jauh apa makna dari simbol-simbol ritual tersebut.

Ini berbeda dengan Jepang. Meski menguasai teknologi modern, Jepang tetap mampu mendisiplinkan warganya dalam menghadapi bencana berbasis budaya yang arif. Di Jepang sistem peringatan dini telah melembaga di setiap jengkal tanah dan di setiap dada anggota masyarakat.

Negeri Matahari Terbit tersebut sadar bahwa bencana harus serius ditangani. Sebab, akibat bencana itu sangat melemahkan hasil-hasil investasi pembangunan dalam jangka waktu yang sangat pendek. Dan menjadi hambatan besar dalam pembangunan berkelanjutan serta pengurangan kemiskinan.

Kemiskinan baru tercipta karena sejak tahun 2010 hingga kini kerugian rata-rata ekonomi global akibat bencana adalah sekitar USD 110 miliar. Tsunami Aceh juga menambah jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan menjadi 30 sampai 50 persen. Bencana pada umumnya akan menghilangkan aset dan kesempatan berusaha, merusak sarana pendidikan dan kesehatan, serta menggerogoti tabungan warga.

Karena demikian besar dampak ekonomi ini, sebenarnya investasi untuk melakukan mitigasi jauh lebih murah ketimbang dampak yang dihasilkan. Sebagai contoh, setiap USD 1 yang diinvestasikan untuk pengurangan risiko bencana dapat mengurangi USD 4–7 dari dampak suatu bencana.

Pengalaman bencana di Ethiopia dan Honduras menunjukkan bahwa jaring pengaman sosial yang dibiayai dari dana publik sangat mendukung keluarga miskin selama dan pascabencana guna pemulihan penghidupannya. Program pengaman sosial tersebut mampu menyediakan pangan dasar, membantu mengalihkan upaya-upaya dan strategi-strategi untuk pertahanan hidup, seperti untuk mencegah penjualan aset-aset produktif guna bertahan hidup. Dengan jaring pengaman sosial juga dapat diarahkan berbagai kegiatan yang bisa memberikan penghasilan yang dapat membantu membangun aset serta meningkatkan pendapatan (Carter et al, 2004).

Atas dasar itulah ketahanan komunitas dan budaya pencegahan bencana, termasuk strategi prabencana, terus dijadikan investasi yang besar dan digalakkan dari berbagai tingkat individu dengan dukungan kedisiplinan masyarakat yang kuat serta keseriusan pemerintah yang luar biasa. Kata kunci penanganan bencana adalah: 1). Tata kelola (kelembagaan, kerangka kerja legal, dan kebijakan); 2). Identifikasi risiko, pengkajian, monitoring, dan peringatan dini; 3). Pengelolaan pengetahuan dan pendidikan; 4). Pengurangan faktor-faktor risiko yang mendasar serta kesiapsiagaan untuk respons dan pemulihan yang efektif.

Pelajaran bagi Kita

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads