alexametrics

Banjir Kota Batu, Berdamai dengan Alam

Oleh SARATRI WILONOYUDHO *)
8 November 2021, 19:48:51 WIB

MESKI karena hujan lebat yang terjadi, banjir bandang di Kota Batu juga menyisakan banyak pertanyaan. Mengapa kota yang berada di ketinggian rata-rata 862 meter di atas permukaan laut tersebut bisa terlanda banjir? Karena itu, ada pekerjaan rumah yang harus diperhatikan. Adakah yang salah dalam tata ruang di sekitarnya? Mengingat kota tersebut merupakan tujuan wisata yang banyak berubah tata guna lahannya, dari lahan hijau hutan menjadi daerah yang terbangun.

Hasil penelitian Nurrizqi dan Suyono (2012), dalam kurun waktu empat tahun penggunaan lahan di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas hulu mengalami penurunan luas hutan sebesar 6 persen dan sawah sebesar 6 persen dari 2003 hingga 2007. Peningkatan secara signifikan pada luas lahan adalah permukiman sebesar 9 persen dari 29,18 kilometer persegi menjadi 31,81 km² dan perkebunan sebesar 7 persen dari 13,80 km² menjadi 14,82 km².

Wirosoedarmo dkk (2015) menemukan luas perubahan penggunaan lahan Kota Batu pada 2008–2015 sebesar 2.080,94 hektare (ha). Perubahan itu meliputi luas permukiman bertambah 135,29 ha, luas pariwisata bertambah 10,17 ha, dan luas tegalan bertambah 565,18 ha. Sedangkan luas hutan berkurang 748,06 ha, hutan kota berkurang 1,40 ha, dan luas sawah berkurang 291,01 ha. Sementara luas kawasan industri tidak mengalami perubahan. Demikian pula hasil penelitian Yudichandra dkk (2019), hasil identifikasi penggunaan lahan dan tutupan lahan menunjukkan bahwa luas hutan berkurang hingga 5 persen dan lahan terbangun meningkat hingga 5,2 persen dari tahun 2006 hingga 2018.

Dari hasil penelitian-penelitian tersebut jelas bahwa sebenarnya bencana alam seperti banjir bisa terdeteksi dan diantisipasi. Karena banjir diduga akibat rusaknya tata guna lahan. Sejumlah kawasan lindung kita banyak yang sudah berubah peruntukannya, misalnya menjadi lokasi wisata dan aktivitas bisnis lainnya.

Pemerintah (daerah) semestinya rajin melakukan survei rutin dengan cara pemotretan dari udara, pemetaan dari darat, survei verbal, lisan dengan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan sosial-ekonomi masyarakat. Jika data fisik seperti kelandaian, kecuraman, tekstur tanah, curah hujan, dan seterusnya tersebut dapat digabungkan dengan data sosial-ekonomi, akan didapatkan kualitas lahan dan dapat melakukan klasifikasi tata guna lahan yang dikehendaki. Dari titik itulah dapat diketahui seberapa parah DAS sudah kritis atau tata guna lahan sudah tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan dan daya tampung sosial.

Mitigasi

Pembangunan daerah harus dilengkapi dengan mitigasi. Ada empat hal penting dalam mitigasi bencana. a) Tersedia informasi dan peta kawasan rawan bencana untuk tiap jenis bencana. b) Sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bencana karena bermukim di daerah rawan bencana. c) Mengetahui apa yang perlu dilakukan dan dihindari serta mengetahui cara penyelamatan diri jika bencana timbul. d) Pengaturan dan penataan kawasan rawan bencana untuk mengurangi ancaman bencana. Kelemahan utama dalam penanganan manajemen bencana adalah banyak kabupaten/kota yang tidak melakukan penelitian secara intensif; membuat peta rawan bencana yang akurat, rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis, serta pemberdayaan masyarakat.

Mestinya pemerintah daerah memiliki rencana tindakan yang jelas untuk jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Misalnya merehabilitasi lahan-lahan kritis dan merumuskan arahan pemanfaatan DAS, apakah untuk daerah lindung, fungsi penyangga, maupun fungsi budi daya. Yang lebih penting lagi adalah adanya penyuluhan yang kontinu kepada masyarakat di sekitar sungai dan penegakan hukum bagi yang berani melanggar.

Rencana Pembangunan

Rencana pembangunan daerah jangan hanya merupakan seonggok kertas untuk sekadar memenuhi syarat administratif. Namun harus dilengkapi data tentang lingkungan yang valid dan up-to-date. Pemerintah daerah juga harus secara kontinu memperbarui peta-peta rawan bencana dan peta-peta penggunaan lahan.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads