alexametrics

Waspada Panic Buying Ivermectin di Apotek

Oleh ANDI HERMANSYAH *)
8 Juli 2021, 19:48:49 WIB

SENIN pagi yang lalu, saya terlibat diskusi menarik dengan beberapa tetangga perihal penggunaan obat cacingan, Ivermectin, yang sedang populer saat ini. Pertanyaan tetangga berkisar pada keamanan, kemanjuran, dan cara mendapatkan Ivermectin untuk mengatasi infeksi virus Covid-19. Termasuk, apakah Ivermectin dapat dibeli di apotek sekitar rumah.

Hari Ahad sebelumnya, beberapa jamaah subuh juga bertanya apakah mereka dapat menggunakan Ivermectin sebagai pencegahan agar tidak terinfeksi virus Covid-19. Dan lagi-lagi, ada pertanyaan apakah mereka bisa membeli Ivermectin dengan bebas di apotek. Dua peristiwa ini seakan melengkapi cerita kolega apoteker yang apoteknya ramai dikunjungi pelanggan hanya untuk mencari obat Ivermectin.

Masih segar dalam ingatan kita, di awal masa pandemi, masyarakat ramai mendatangi apotek untuk mencari deksametason yang seharusnya hanya bisa dilayankan dengan resep dokter. Ketika tren penggunaan deksametason masih hangat-hangatnya, muncul kemudian klorokuin –obat antiparasit bagi penyakit malaria– sebagai obat yang diklaim manjur untuk mengatasi infeksi virus Covid-19.

Alhasil, apotek kembali didatangi warga secara berbondong-bondong untuk mencari klorokuin. Tidak hanya dua obat tersebut, suplemen makanan, vitamin, obat herbal, hand sanitizer, disinfektan, dan masker adalah produk yang laris diborong masyarakat pada periode panic buying antara April sampai dengan Juli 2020.

Permintaan obat dan produk kesehatan pada periode tersebut sangat tinggi. Bahkan hingga mencapai enam kali lipat dari permintaan sebelum pandemi terjadi. Jamak dilihat, apotek-apotek menuliskan ’’masker kosong” atau tulisan sejenisnya karena saking tingginya permintaan yang sayangnya tidak dibarengi dengan suplai yang memadai dari sektor industri di hulu.

Panic buying juga berakibat melambungnya harga obat dan produk kesehatan sehingga sulit diterima nalar. Sebagai contoh, masker yang biasa dibanderol di kisaran Rp 15 ribu–30 ribu per kotak sebelum pandemi melonjak menjadi Rp 300 ribu–400 ribu. Kali ini, sepertinya giliran Ivermectin yang menjadi produk primadona. Hal ini ditambah derasnya informasi di media sosial yang mengklaim kemanjuran penggunaan Ivermectin untuk Covid-19 meskipun klaim itu masih menjadi kontroversi di antara para pakar.

Apotek dan apoteker merupakan garda terdepan dalam pelayanan kefarmasian di republik ini. Peraturan perundangan memercayakan kepada apoteker untuk dapat melayankan produk dan jasa kefarmasian. Kondisi panic buying tentu menjadikan pelayanan kefarmasian lebih pelik. Di satu sisi, apotek dan apoteker dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan terapi yang aman dan rasional bagi pasien. Namun di lain sisi, ketersediaan obat dan produk kesehatan yang kerap kali kosong memengaruhi kualitas pelayanan kefarmasian. Hal ini menempatkan pasien dalam posisi yang berisiko karena seharusnya menerima obat yang dibutuhkan, namun tertunda gara-gara ketiadaan suplai obat.

Lantas, bagaimana mengantisipasi kondisi panic buying di apotek-apotek kita? Pertama, pemerintah selaku regulator sekaligus administrator sistem farmasi memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan obat di pasaran. Langkah pemerintah meningkatkan produksi obat Ivermectin dan menetapkan harga eceran tertinggi (HET) tentu harus diapresiasi. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya panic buying dan pemberian harga (mark-up) yang terlampau tinggi akibat harga yang sudah kadung tinggi di sektor hulu.

Baca Juga: Wali Kota Eri: September, Seluruh Warga Surabaya Sudah Divaksin Kedua

Meski demikian, banyak pihak yang mewanti-wanti agar kebijakan ini dibangun di atas fondasi pengobatan yang rasional. Bagaimanapun, Ivermectin belum disepakati sebagai bagian dari standar pengobatan untuk Covid-19. Pemerintah perlu mempertimbangkan proses uji klinis yang sedang berjalan agar nantinya Ivermectin tidak bernasib seperti klorokuin yang akhirnya dilarang untuk digunakan karena risikonya jauh lebih besar dari kemanfaatannya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads