alexametrics

Idul Fitri, Momen Mudik Kebangsaan

Oleh Candra Malik, Budayawan
8 Juni 2019, 18:26:59 WIB

JUNI ini bulan berkah bagi bangsa Indonesia. Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah bertepatan dengan Bulan Pancasila. Hari kedua Lebaran, yakni 6 Juni, diperingati pula sebagai hari lahir Soekarno, Putra Sang Fajar.

Yang kelak di kemudian hari melahirkan Pancasila pada 1 Juni 1945. Ini momen mudik kebangsaan.

Pada 1 Juni 1914, lahir putra Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, Wahid Hasyim, yang berperan amat penting dalam merumuskan Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Hingga pada akhirnya jadilah Pancasila yang final sejak 18 Agustus 1945. Tujuh kata pada sila kesatu Pancasila pun dihapus atas nama bangsa.

Idul Fitri adalah momen tradisi tahunan untuk mudik ke kampung halaman. Bulan Pancasila dalam suasana Lebaran tahun ini sepatutnya dijadikan pula momen kembali ke kampung halaman kita yang sejati. Yakni, Indonesia yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika dan berdasar asas tunggal Pancasila.

Berkat jasa para pendiri bangsa, terutama Tim Sembilan yang terdiri atas Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, KH Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakkir, Abikusno Tjokrosujoso, Haji Agus Salim, Mohammad Yamin, dan Ahmad Subardjo, lahirlah ideologi bangsa, Pancasila. Ia bukan ideologi agama.

Pada tahun-tahun ini, jiwa bangsa kita telah mengalami ujian besar. Sejumlah golongan berupaya keras melalui berbagai jalur untuk mengganti Pancasila dengan ideologi yang tak sesuai dengan kebinekaan kita. Politik kekuasaan telah menjadikan agama sebagai isu untuk memecah belah bangsa.

Keberagaman dalam keberagamaan anak bangsa Indonesia merupakan kekayaan tak terperi. Harus kita sendiri yang menjaga dan melestarikannya. Saling menghormati beda agama dan peribadahan adalah ikhtiar kita untuk melindungi rumah bersama. Siapa pun harus dilawan jika ia merusak rumah kita.

Suasana batin pengejawantahan Ketuhanan Yang Maha Esa (YME) terasa benar dalam Idul Fitri. Dari malam hingga salat Id dilaksanakan di berbagai belahan bumi keesokannya, takbir terus bergema di seantero langit Nusantara. Sebagai makhluk pribadi maupun sosial, kita bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan YME.

Kemanusiaan yang adil dan beradab terasa sangat manusiawi. Setiap orang mengakui kesalahannya, menyatakan penyesalan, dan meminta maaf, serta saling memaafkan. Tak ada manusia yang suci. Yang ada, manusia yang terus bersuci. Secara rohaniah, ritual bersuci itu juga dengan maaf-memaafkan.

Persatuan Indonesia pun jelas benar terlihat. Kita menyatukan hati, bersama mensyukuri Hari Kemenangan setelah sebulan penuh di Bulan Ramadan pun kita bersatu hati untuk berpuasa, Tarawih, tadarus Alquran, iktikaf, dan ibadah lainnya. Yang membahagiakan lagi, bukan hanya umat muslim yang bahagia.

Saudara-saudara kita sebangsa yang tidak seagama juga aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan buka puasa bersama dan silaturahmi Idul Fitri. Jiwa sila keempat turut memperoleh momentum untuk menguat lagi. Musyawarah dan gotong royong menjadi oase melegakan bagi kemarau bangsa ini.

Pada akhirnya, keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia bisa ditegakkan dengan memanfaatkan momentum Idul Fitri pula. Tak hanya dengan zakat fitrah dan mal, tapi juga dengan terus berbagi kebahagiaan dengan sesama, terutama dengan saudara-saudara yang membutuhkan kasih sayang kita.

Islam seiring sejalan dengan Pancasila. Tak perlu meragukannya lagi. Bersalaman, saling memaafkan, berdoa bersama untuk kebaikan dan masa depan bangsa Indonesia di Bulan Lebaran yang juga Bulan Pancasila semoga dapat memulihkan kembali luka-luka sosial politik pasca Pemilihan Umum 2019. (*)

Editor : Dhimas Ginanjar