alexametrics

Obsesi Investasi dan Kemelut Kesenjangan

Oleh SARAS DEWI, Dosen Filsafat UI
8 Februari 2020, 13:35:16 WIB

MENJELANG pertemuan World Economic Forum di Davos, lembaga nirlaba Oxfam mengeluarkan laporan mengenai status ekonomi global. Laporan tersebut menyampaikan data yang menyedihkan terkait kesenjangan ekonomi antara kaya dan miskin yang jurangnya semakin menganga. Melalui data yang digabungkan tersebut, dapat dipelajari bahwa 2153 individu-individu terkaya di dunia ini, menguasai lebih banyak uang dari 4.6 miliar orang-orang miskin. Data mengenai kesenjangan yang ekstrem ini, menguak pula fakta bahwa sebagian besar orang-orang termiskin yang dirugikan oleh sistem ekonomi semacam ini adalah, perempuan. Ketimpangan ini juga ditunjukkan melalui perbandingan bahwa 22 laki-laki di dunia kekayaannya melebihi kekayaan seluruh perempuan yang berada di negara-negara Afrika.

Sanggahan kritis yang perlu diajukan adalah, mengapa prinsip pertumbuhan ekonomi yang dianut secara global, tidak serta merta menghasilkan kesetaraan maupun pemerataan, bahkan dalam data Oxfam, justru menghasilkan ketimpangan. Seorang ekonom dan pengajar di Universitas Oxford bernama Kate Raworth menantang pendewaan terhadap pertumbuhan ekonomi. Ia melanjutkan, bahwa ilusi dan obsesi pada pertumbuhan ekonomi menyebabkan dua kondisi fatal, yang pertama adalah konsentrasi kekayaan hanya pada 1 persen kelompok elit, dan yang kedua adalah kondisi lingkungan hidup yang kini nyaris mencapai titik nadir, sehingga tidak dapat diperbaiki kembali.

Melalui panorama ekonomi global ini, bagaimana dengan Indonesia? Tidak terkecuali, data TNP2K tahun 2019 menyatakan bahwa 50 persen aset nasional dikuasai oleh 1 persen orang saja. Tidak meratanya ekonomi di Indonesia mengharuskan pemerintah mengevaluasi kembali, langkah-langkah kebijakan yang perlu ditempuh agar mencapai ke substansi permasalahan, yakni bagaimana menciptakan keadilan sosial-ekologis. Polemik Omnibus Law yang kini tengah berlangsung patut dikritisi, apakah pemangkasan serta penyederhanaan regulasi tersebut demi melayani kepentingan umum? Atau hanya menguntungkan bagi 1 persen kalangan elit saja? Selain itu, dibutuhkan suatu transparansi proses penyusunan perundang-undangan. Hal yang dikhawatirkan adalah kemudahan investasi yang disasar melalui Omnibus Law ini dapat mengancam keberlanjutan lingkungan hidup. Publik memiliki hak untuk berpartisipasi dalam mencermati dan mendiskusikan bersama pemerintah, terkait dengan isi dari Omnibus Law tersebut.

Dalam bukunya An Introduction to Ecological Economics, Robert Costanza bersama rekan-rekannya menggarisbawahi keutamaan untuk melakukan reintegrasi antara ekologi dan ekonomi. Salah satu poin penting yang mereka usung adalah, tujuan dari kebijakan yang tidak lagi terfokus pada model ekonomi konvensional yakni pertumbuhan ekonomi sebagai solusi semua persoalan. Menurut Costanza, Produk Domestik Bruto (PDB) tidak lagi memadai sebab tidak mencerminkan perkembangan yang melibatkan kontinuitas lingkungan hidup, kebahagiaan juga kesejahteraan hidup (wellbeing).

Kritik senada dilontarkan oleh Raworth, model ekonomi yang ia usulkan sangat dipengaruhi oleh pikiran ekonom-ekonom pembaharu seperti E.F Schumacher, Manfred Max-Neef, Amartya Sen, Elinor Ostrom yang meperkenalkan ekonomi yang memprioritaskan kapabilitas dan kebahagiaan manusia. Model ekonomi yang berbentuk lingkaran ini mengkombinasikan batasan-batasan planet bumi yang disebut sebagai langit-langit lingkungan hidup (environmental ceiling), sedangkan pada dasarnya adalah fondasi sosial (social foundation). Raworth mengingatkan bahwa overshooting (melampaui/melewati) batas langit-langit telah mengakibatkan krisis ekologis seperti; pemanasan global, asidifikasi lautan, kelangkaan air bersih, menghilangnya biodiversitas, polusi dan limbah, menipisnya lapizan ozon, dsb. Pada fondasi sosial, elemen-elemen kesejahteraan dan kebahagiaan manusia dalam skema Raworth merekognisi; kesehatan, pendidikan, energi, pendapatan, kesetaraan, partisipasi, kebebasan, komunitas, pemerataan dsb.

Alangkah mengherankan, meski dengan kehadiran krisis iklim yang gamblang di hadapan umat manusia, model ekonomi semacam yang ditawarkan oleh Raworth, Sen, atau Ostrom dianggap sebagai utopia, sesuatu yang mengawang-awang, atau impian semata. Raworth berargumentasi bahwa dalam sejarah ekonomi, di Yunani kuno, para filsuf seperti Xenophon dan Aristoteles menyebut ekonomi sebagai seni. Lantas mengapa, ilmu ekonomi seolah-olah terputus dari filsafat ekonomi? Ekonomi menjadi kering, dan berjarak dari problem-problem sosial ekologis. Menggunakan model ekonomi Raworth, aktivitas ekonomi bergerak seperti siklus yang regeneratif. Terinspirasi filosofi alam, prinsip ekonomi ini mencari keselarasan antara dinamika langit-langit dan fondasi. Tentunya, model ini sekaligus menjadi kritik terhadap desain ekonomi yang selama ini dominan yakni pola hierarkis; yang melumrahkan ketimpangan, eksploitasi dan kelas.

Seniman surealis bernama René Magritte pernah berkata dalam ceramahnya di Antwerp tahun 1938, bahwa alam adalah kebebasan dari pemuliaan semu yang melanda masyarakat modern. Karya-karya dari Magritte menjadi sumber ilham bagi filsuf, Michel Foucault untuk meramu teori heterotopia, tentang ruang-ruang baru yang tranformatif. Ruang-ruang alternatif ini dapat berkembang menggunakan daya seni, yang membutuhkan kepekaan, imajinasi, dan intuisi. Magritte mengatakan, tentu surealisme dicerca pada masa kemunculannya, sebab gerakan itu mendobrak stagnasi dalam seni, memporak porandakan habitus juga bahasa yang mengungkung seni. Serupa dengan upaya untuk menciptakan ruang yang menciptakan diskursus baru relasi manusia bersama lingkungan hidupnya. Terobosan ekonomi ekologis—yang sering disebut sebagai utopia, sepertinya ditakuti oleh mereka yang berusaha mengekalkan status quo.

Editor : Ilham Safutra


Close Ads