alexametrics

Perubahan Iklim, Nelayan, dan Kemiskinan

Oleh AGUS SUBALI *)
7 April 2021, 19:48:52 WIB

BUMI sedang tidak baik-baik saja. Ekosistem bumi sedang menghangat akibat polutan yang menutupi lapisan stratosfer. Polutan itu membuat cahaya matahari yang seharusnya terpantul ke luar angkasa tertahan dan memantul lagi ke bumi.

Setelah revolusi industri, rata-rata suhu bumi naik 1 derajat Celsius. Menurut Potsdam Institute for Climate Impact Research, Indonesia menyumbang emisi karbon 2,4 miliar ton rata-rata per tahun. Setara 4,8 persen emisi global dunia. Tahun 2015 Indonesia menjadi negara nomor empat pencemar udara. Sebagian besar akibat deforestrasi dan kebakaran lahan gambut.

Saat ini es di kutub mencair lebih cepat daripada yang dibayangkan. National Snow and Ice Data yang dilansir majalah National Geographic menunjukkan tingkat pencairan Greenland meningkat enam kali lipat sejak 1980-an. Arktik menyusut 3 juta kilometer persegi sepanjang 50 tahun terakhir. Kelimpahan dari es yang mencair akan menggenangi lautan. Dampaknya sangat besar bagi ekosistem masyarakat pinggir pantai.

Perubahan volume laut juga berpengaruh terhadap suhu air laut. Hal ini akan mengubah aliran udara di muka bumi. Perubahan iklim akan terjadi. Anomali iklim bisa muncul. Hujan semakin deras, kekeringan melanda, dan topan semakin ganas.

Masyarakat Indonesia harus menaruh perhatian dengan adanya pemanasan global ini. Sebab, Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki bentangan pantai sejauh 95.181 km. Greenpeace melaporkan bahwa setiap naik 1 cm, air laut akan menenggelamkan 1 juta orang yang berada di pingggir pantai. Dan kita tahu bahwa pinggir pantai adalah wilayah tempat komunitas nelayan tinggal, membangun sistem sosial, budaya, dan ekonomi. Jika terganggu, berdampak pada sistem sosial ekonomi yang sudah berjalan. Termasuk budaya yang sudah turun-temurun.

Paling Terdampak

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads