alexametrics

Virus Korona 2019-nCoV Antara Ada dan Tiada

 Oleh FEDIK A. RANTAM *)
7 Februari 2020, 19:48:46 WIB

PADA 31 Desember 2019, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan peningkatan kasus pneumonia (infeksi pada paru) di Wuhan, Tiongkok. Sepekan kemudian atau 7 Januari 2020, pemerintah Tiongkok mengidentifikasi bahwa virus penyebab pneumonia di Wuhan adalah virus korona (coronavirus) yang diberi nama sementara 2019-nCoV.

Wabah penyakit yang disebabkan 2019-nCoV merupakan kabar yang menggemparkan di awal 2020. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat (AS) per 27 Januari 2020 menunjukkan bahwa virus itu menyebar di 16 negara (Tiongkok, Hongkong, Makau, Thailand, Taiwan, Australia, Kamboja, Kanada, Prancis, Jepang, Malaysia, Nepal, Singapura, Korsel, AS, dan Vietnam) serta kini sudah masuk ke Australia. Sementara itu, hingga 27 Januari 2020, CDC Eropa mencatat, virus tersebut telah menginfeksi 2.820 orang di dunia dengan total 81 kematian.

Apa Itu Virus Korona?

Virus korona (CoV) adalah kelompok virus terbesar yang termasuk dalam ordo Nidovirales, yang meliputi famili Coronaviridae, Arteriviridae, dan Roniviridae. Coronavirinae (CoV) merupakan satu dari dua subfamili dalam keluarga Coronaviridae. Coronavirinae kemudian dibagi lagi menjadi empat kelompok: alfa, beta, gamma, dan delta.

CoV dapat menginfeksi mamalia, burung, dan reptil, termasuk manusia, babi, sapi, kuda, unta, kucing, anjing, hewan pengerat, burung, kelelawar, kelinci, ferret, ular, dan berbagai spesies hewan liar lainnya. Virus tersebut umum dijumpai pada berbagai jenis binatang dan lebih sering menginfeksi binatang, bukan manusia. Meski demikian, korona dapat berevolusi dan menular ke manusia. Virus korona pada manusia kali pertama diidentifikasi pada pertengahan 1960. Hingga saat ini ada tujuh virus korona yang dapat menginfeksi manusia, termasuk 2019-nCoV.

Virus korona bersifat zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Virus korona yang menginfeksi binatang dapat berevolusi dan menimbulkan penyakit baru pada manusia. Sebelumnya infeksi virus korona pada manusia tidak begitu mendapat perhatian hingga jenis virus korona baru yang mengakibatkan wabah pada manusia dilaporkan. Yaitu, pada 2002 ditemukan virus korona penyebab severe acute respiratory syndrome (SARS) yang menjangkiti lebih dari 8.000 orang di dunia dan pada 2012 ditemukan virus korona penyebab Middle East respiratory syndrome (MERS). Pada akhir 2019 ditemukan jenis virus korona baru di Wuhan.

Penularan pada Manusia

Virus tidak bereplikasi di luar sel hidup. Virus yang menular dapat bertahan pada permukaan lingkungan yang terkontaminasi dan durasi bertahan virus yang hidup dipengaruhi secara nyata oleh suhu dan kelembapan. Penelitian K.H. Chan (2011) menunjukkan bahwa virus korona penyebab SARS adalah virus stabil yang berpotensi menular melalui kontak tidak langsung maupun melalui benda perantara (fomites). Hasil itu dapat menunjukkan bahwa permukaan yang terkontaminasi (contaminated surface) dapat memainkan peran utama dalam penularan infeksi di rumah sakit dan masyarakat.

Berdasar hasil penelitian, kelelawar diidentifikasi sebagai hewan yang membawa (reservoir) virus korona pada pandemi SARS (2002) dan MERS-CoV pada 2012. Kelelawar dikenal sebagai hewan pembawa berbagai virus penyakit yang baru muncul karena jumlah populasi, distribusi, dan mobilitasnya yang tinggi sehingga risiko kelelawar untuk dapat menularkan ke hewan lain menjadi tinggi.

Asal usul virus 2019-nCoV masih menjadi perdebatan. Penelitian yang dilakukan Ji et al. menuliskan kemungkinan ular sebagai hewan pembawa 2019-nCoV berdasar adanya kesamaan struktur protein pengikat yang mungkin mengarahkan terjadinya transmisi antarspesies, dalam hal ini antara ular dan manusia. Hal itu didukung fakta bahwa Pasar Huanan di Wuhan, yang diduga sebagai titik awal persebaran 2019-nCoV, juga menjual berbagai hewan liar seperti ular, kodok, dan musang. Namun, penelitian lain berpendapat bahwa bukti tersebut belum cukup kuat untuk memastikan ular sebagai reservoir 2019-nCoV yang mengakibatkan outbreak (wabah) di Tiongkok.

Sumber 2019-nCoV masih belum diketahui meski kasus awal dikaitkan dengan Pasar Huanan. Meski banyak pasien awal yang bekerja atau sekadar mengunjungi pasar, tidak satu pun dari kasus yang ada di luar Tiongkok memiliki kontak dengan Pasar Huanan. Hal itu mengindikasikan adanya penularan dari manusia ke manusia atau sumber penularan dari hewan yang lebih luas.

Data mengenai penularan dari manusia ke manusia masih terbatas pada kasus awal. Terdapat satu keluarga yang terinfeksi 2019-nCoV, yang tiga anggota keluarganya bekerja di pasar. Akan tetapi, terdapat pula pasangan suami istri yang terinfeksi 2019-nCoV yang tidak memiliki kontak dengan pasar. Berdasar data itu, infeksi langsung dari manusia ke manusia mungkin terjadi. Juga terdapat kemungkinan lain, yaitu penularan dari benda yang terkontaminasi di pasar karena seluruh permukaan Pasar Huanan positif 2019-nCoV. Meskipun demikian, penularan dari manusia ke manusia mungkin terjadi.

Mungkinkah Masuk Indonesia?

Dalam penelitian K.H. Chan (2011), kasus virus korona penyebab SARS menunjukkan bahwa suhu tinggi pada kelembapan relatif tinggi memiliki efek sinergis pada inaktivasi virus. Sementara suhu yang lebih rendah dan kelembapan yang rendah mendukung kelangsungan hidup yang lama dari virus pada permukaan yang terkontaminasi. Dengan demikian, kondisi lingkungan Indonesia tidak kondusif bagi kelangsungan hidup virus yang berkepanjangan.

Di negara-negara seperti Singapura dan Hongkong di mana terdapat penggunaan pendingin udara yang intensif, transmisi sebagian besar terjadi di lingkungan yang ber-AC. Lebih lanjut, studi terpisah telah menunjukkan bahwa selama epidemi, risiko peningkatan insiden (kasus baru) harian SARS adalah 18,18 kali lipat lebih tinggi pada hari-hari dengan suhu udara lebih rendah daripada hari-hari dengan suhu yang lebih tinggi di Hongkong dan wilayah lain. Secara keseluruhan, pengamatan tersebut dapat menjelaskan mengapa beberapa negara Asia di daerah tropis (dengan suhu tinggi pada kelembapan relatif tinggi) seperti Malaysia, Indonesia, dan Thailand tidak memiliki wabah SARS nosokomial.

Berdasar hal tersebut, apabila penularan 2019-nCoV menyerupai SARS, pada daerah iklim tropis seperti Indonesia, kemungkinan virus itu mewabah adalah kecil. Meski demikian, dengan tingginya lalu lintas perdagangan dan perjalanan antarnegara saat ini, sangat dimungkinkan masuknya 2019-nCoV tersebut ke Indonesia. Di samping itu, 2019-nCoV merupakan virus ”baru” sehingga menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan karena ”baru” menyiratkan sesuatu yang ”tidak diketahui”.

Hingga kini belum ada laporan penyakit tersebut di Indonesia. Namun, masyarakat diharuskan senantiasa waspada dengan seluruh kemungkinan yang dapat terjadi. Di sisi lain, pemerintah harus merilis wabah yang ditimbulkan 2019-nCoV sebagai upaya komunikasi risiko kepada masyarakat dan sarana edukasi sebagai upaya preventif. (*)


*) Fedik A. Rantam, Guru besar virologi dan imunologi Fakultas Kedokteran Hewan Unair, peneliti stem cell, dan ketua Airlangga Disease Prevention and Research Center

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads