alexametrics

RUU Harus Akomodasi Perkembangan Musik

Oleh GLENN FREDLY, Musisi
7 Februari 2019, 16:34:55 WIB

JawaPos.com – Adanya Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan ini seharusnya disambut positif oleh musisi sendiri. Artinya, musik sudah menjadi perbincangan di ranah kebijakan yang dibuat legislatif.

Saat ini momennya saya kira tepat. Ini harus betul-betul kita manfaatkan. Tapi, jangan sampai dipikir hal itu hanya inisiatif kami para musisi.

Saya sempat heran ketika legislatif menanyakan draf RUU-nya sampai di mana. Anggota fraksi belum terima. Padahal, yang membuat RUU Permusikan itu mereka. Kami hanya mengusulkan sebaiknya apa saja yang dibahas dan harus dimasukkan sebagai poin dari RUU itu. Begitu prosesnya masuk ke legislatif, tentu itu sudah menjadi ranah mereka.

Saya berharap, ketika dibahas sejak naskah akademik, RUU Permusikan bisa disosialisasikan dengan baik. Tapi, kenyataannya itu kemudian dibahas di internal DPR sendiri. Saya hanya ikut rapat dengar pendapat satu kali, setelah itu tidak tahu. Karena itu, saya cukup kaget ketika terima draf RUU itu muncul. Saya cuma bisa tertawa. Ini pasti bakal seru nanti. Jadi polemik yang panjang.

Saya sendiri punya ekspektasi tinggi pada RUU itu. Kalau dibilang kecewa, ya iya lah. Saya tidak setuju dengan pasal-pasal karet yang ada di dalamnya. Setelah saya skimming dengan teman-teman musisi, kami sepakat ada banyak pasal yang harus dikaji ulang. Tapi, saya mendukung adanya RUU Permusikan ini karena sama aspirasinya. Kita ingin ada perbaikan dalam konteks bermusik.

Persoalan besarnya sekarang adalah sentra data. Kita tidak punya sentra data yang terkoneksi dalam hal musik. Sementara musik dunia sudah mengarah ke sana. Kita lihat saja contohnya karya saya sendiri, harus bisa masuk ke semua platform digital. Harus dipikirkan bagaimana menyikapi perubahan di era digital ini.

Kebutuhan masyarakat akan musik berubah dan terus berkembang. Otomatis akan berpengaruh pula pada pola bisnis musik. Saat ini kita punya banyak peraturan yang berhubungan dengan musik, dalam hal ketenagakerjaan untuk kesejahteraan musisi atau tentang kebudayaan.

Tapi, apakah aturan yang sudah ada itu akan cukup mengakomodasi perkembangan musik yang ada? Apakah akan cukup kuat dalam konteks politik domestiknya sendiri? Artinya, kita harus lebih bijak dalam menyikapi itu dengan melihat perjalanan musik.

Apalagi dengan fakta bahwa musik hanya 0,47 persen berkontribusi dalam produk domestik regional bruto (PDRB). Lebih kecil daripada sektor kreatif lain seperti fashion dan kriya. Bila demikian, berarti ada yang terlewat dalam tata kelola musik kita. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (disarikan dari diskusi RUU Permusikan di Kafe Selatan, Kemang/deb/c9/git)

Copy Editor :

RUU Harus Akomodasi Perkembangan Musik