Mewujudkan Inklusi Disabilitas

Oleh SUJARWANTO *)
6 Desember 2022, 19:48:38 WIB

SEJAK 1992, setiap 3 Desember selalu diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional (HDI) yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tujuan utama dari perayaan HDI adalah untuk membangun kesadaran mengenai disabilitas dan memobilisasi dukungan untuk pemerolehan hak dan kesejahteraan individu dengan disabilitas. Setiap tahun berbagi aktivitas silih berganti diselenggarakan, mulai perlombaan, seminar, sampai pemecahan rekor untuk mencapai tujuan itu. Sudah 20 tahun berlalu, bagaimanakah perwujudan inklusi disabilitas di Indonesia saat ini?

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, individu yang termasuk dalam kelompok disabilitas adalah individu yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga. Laporan tahun 2021 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, diperkirakan 1,3 miliar warga dunia atau hampir 16 persen mengalami kondisi disabilitas.

Di Indonesia, hasil survei sosial ekonomi nasional oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020 menunjukkan, hampir 22,5 juta warga negara Indonesia mengalami disabilitas. Angka ini diprediksi akan terus naik dari tahun ke tahun karena berbagai kondisi. Jumlah yang besar tersebut sayangnya belum dibarengi dengan upaya masif untuk memastikan inklusivitas, suatu upaya pemerataan hak tanpa memandang kondisi, termasuk disabilitas.

Hasil Indeks Inklusivitas Global pada tahun 2020 menunjukkan, Indonesia masih menempati peringkat ke-125 di dunia dan peringkat ke-5 di ASEAN. Kondisi ini tentu menjadi indikasi masih kurang optimalnya upaya yang kita lakukan untuk mendukung inklusi disabilitas. Merujuk komitmen pemerintah Indonesia sesuai dengan berlakunya UU Nomor 8 Tahun 2016, perlu ada upaya nyata untuk pemenuhan seluruh hak bagi individu dengan disabilitas di Indonesia.

Mengurai akar penyebab lambatnya perkembangan inklusi disabilitas di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Banyak faktor penyebab. Pertama, upaya mencapai inklusi disabilitas melibatkan berbagai aktor dari berbagai sektor. Sebagai contoh, pemenuhan hak pendidikan bagi penyandang disabilitas tidak semata-mata menjadi tanggung jawab tunggal dinas pendidikan saja, melainkan tanggung jawab dinas sosial dan dinas kesehatan juga. Tujuannya untuk memastikan peserta didik dengan disabilitas dapat bersekolah dalam kondisi prima.

Faktor penyebab kedua adalah stigma yang diberikan kepada penyandang disabilitas oleh banyak anggota masyarakat. Narasi terhadap disabilitas umumnya berfokus pada ketidakberdayaan dan ”beban”. Hal ini membuat penerapan regulasi sering kali tumpul dan sulit. Mengatasi faktor penyebab yang bisa dikatakan sistemis ini, perlu peran organisasi yang sistemis juga. Di Indonesia terdapat berbagai organisasi maupun asosiasi yang berfokus pada pengembangan inklusi disabilitas, salah satunya yang memiliki jangkauan nasional adalah Asosiasi Profesi Ortopedagog Indonesia (APOI).

APOI yang dulu dikenal juga sebagai Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) merupakan perkumpulan ahli dan profesional di bidang pendidikan khusus/pendidikan luar biasa yang juga disebut dengan ortopedagog. Bidang kajian dari pendidikan khusus juga mencakup pengembangan inklusi disabilitas. Anggota APOI umumnya adalah dosen pendidikan khusus, guru pendidikan khusus di sekolah luar biasa, guru pembimbing khusus, peneliti di bidang pendidikan khusus, serta praktisi dan pemerhati pendidikan khusus lainnya yang tersebar hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Sampai saat ini tercatat terdapat 405 anggota aktif APOI.

Sejauh ini beberapa agenda telah dilaksanakan oleh APOI untuk mendukung inklusi disabilitas. Pertama, terlibat langsung dalam perumusan berbagai kebijakan pemerintah untuk mendukung inklusi disabilitas. Kedua, menyelenggarakan pertemuan ilmiah dalam format seminar maupun konferensi untuk menghimpun gagasan dalam mendukung inklusi disabilitas. Ketiga, menyusun kurikulum inti untuk program studi sarjana pendidikan luar di Indonesia.

Target ke depan, APOI akan memastikan pemerataan guru pendidikan khusus di Indonesia. Sampai saat ini jumlah guru pendidikan khusus masih terbatas dan umumnya terpusat di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan hanya terdapat 23 program studi pendidikan khusus di seluruh Indonesia. Kondisi guru yang terbatas ini berdampak pada layanan pendidikan untuk peserta didik dengan disabilitas yang belum optimal.

Upaya konkret pemerataan guru pendidikan khusus dapat dimulai dengan menyusun database sebaran guru pendidikan khusus di Indonesia. Berdasar database tersebut, dapat dipetakan program-program strategis yang akan dilakukan untuk upaya pemerataan.

Salah satu program strategis yang bisa dilakukan adalah pendampingan pembukaan program studi pendidikan khusus baru di Indonesia. Dalam jangka pendek, upaya yang dapat dilakukan adalah melalui mengadakan upaya pengembangan kompetensi bagi guru-guru di sekolah inklusif melalui bimbingan teknis maupun pelatihan.

Target utama lain dari APOI adalah memastikan penyandang disabilitas dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Hal ini didasari dari fakta bahwa baru 7,6 juta penyandang disabilitas di usia produktif yang bekerja dari 17 juta penyandang disabilitas usia produktif berdasar data BPS 2022. Upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan penelusuran minat dan bakat sejak dini serta kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri.

Dalam perayaan Hari Disabilitas Internasional tahun ini, seyogianya memang kita harus menyadari bahwa upaya untuk memenuhi inklusi disabilitas harus menjadi peran aktif semua pihak. APOI sebagai organisasi memang memiliki berbagai peran sentral. Namun, pemenuhan inklusi disabilitas harus dilakukan oleh berbagai sektor. Upaya yang berhasil dalam mewujudkan inklusi disabilitas dapat menjadi tanda utama bahwa Indonesia telah mencapai tujuannya untuk memajukan kesejahteraan umum. (*)


*) SUJARWANTO, Ketua Asosiasi Profesi Ortopedagog Indonesia (APOI)

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads