alexametrics

Norma Lama yang Jadi Norma Baru

OLEH : SIRIKIT SYAH *)
6 Juni 2020, 19:48:52 WIB

A: Jadi dinner gak sih?

B: Aku gak ada masker.

A: Itu di lemari banyak masker.

B: Gak ada yang cocok sama bajuku.

A: Ada tuh yang biru tua.

B: Itu sudah sering aku pakai.

Kayaknya perlu beli masker baru lagi…

ILUSTRASI di atas adalah ilustrasi khayalan yang beredar di WA group, tetapi sangat mungkin menjadi kenyataan saat ini. Itu salah satu norma baru: masker sebagai fashion. Kalau empat bulan lalu perempuan memadupadankan warna hijab dengan baju, kini masker menjadi atribut signifikan dalam penampilan seseorang di depan publik.

Bisa dibayangkan juga anak-anak PAUD atau TK saling mengagumi masker kawannya yang bergambar Hello Kitty, Little Pony, atau Frozen. Para mama akan kewalahan mendengar rengekan putra-putrinya yang ingin masker seperti punya temannya. Fashion hanya satu aspek dalam norma baru. Lebih dalam dari itu adalah persoalan ”berdamai dengan korona” dan ”apa sesungguhnya norma baru itu”.

Berdamai dengan Korona

Presiden Jokowi mengajak kita ”berdamai dengan korona”. Esensi ajakan itu masuk akal. Sayang, presiden kekeringan narasi. Anjuran untuk ”berdamai dengan korona” tidak disertai penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan frasa tersebut dan bagaimana melaksanakannya. Kita menunggu para staf ahli, staf khusus, menteri, atau asisten untuk membantu Presiden Jokowi mengelaborasi ajakan itu, tapi sia-sia. Presiden dirundung karena dianggap ”tega pada rakyat” dan beberapa tokoh/organisasi mendeklarasikan penolakan ”berdamai dengan korona”.

Mengapa ”berdamai dengan korona” masuk akal? Sebagai penyandang kanker, saya mengalami momentum memutuskan ”berdamai dengan kanker”. Sel kanker ada di tubuh kita. Diusir sedemikian rupa (kemoterapi, radiasi, maupun obat oral), dia masih ada, mungkin tiarap sejenak, kelak bermestastasis ke organ lainnya di tubuh kita. Saya kemudian memutuskan untuk ”berdamai saja”, artinya: life goes on. Tidak usah sedih, terpuruk, putus asa, mikir mati, menjauhi semua makanan enak yang malah bikin stres. Saya beradaptasi dengan kanker: hidup sewajarnya, berpikir positif, hindari stres, bergerak (olahraga), beramal (materi atau ilmu), bergembira menikmati sisa hidup.

Menganalogikan dengan korona, saya ingin membantu presiden dengan menjelaskan bahwa bagaimanapun kita mesti melanjutkan hidup. Berhenti bersembunyi, yang mau macul (cari nafkah), jalan saja; yang mau beramal (mengajar atau merawat orang sakit), lakukanlah. Yang penting: patuhi protokol. Yang punya banyak tabungan dan karena itu tidak perlu keluar rumah, berhentilah mengecam yang keluar rumah demi sesuap nasi atau bayar SPP anak sekolah. ”Berdamai” atau ”beradaptasi” berarti: kalau kau punya kanker, ya jangan makan udang seperempat kilo tiga kali seminggu. Kalau kita tahu virus korona masih berkeliaran, ya jangan berkerumun dan berdesakan. Kita mesti eling lan waspada, ingat bahwa virus masih ada, waspada dengan cara menaati protokol.

Selain frasa ”berdamai dengan korona” yang tak terjelaskan dengan memadai, istilah baru new normal juga membingungkan masyarakat, terutama kalangan pendidikan dan pembelajar bahasa. Tulisan ini tak hendak membahas kaidah tata bahasa, tapi ada istilah yang lebih berterima, dan dalam bahasa Indonesia, yaitu norma baru. Artinya tatanan baru, kelaziman baru. Norma baru ke depan adalah hidup dengan protokol berbasis korona: jangan gampang keluyuran kalau gak penting banget; kalau keluar pakai masker; gak perlu salaman, apalagi cipika-cipiki dan peluk-pelukan; rajin cuci tangan, kalau antre yang rapi dan jaga jarak; kalau batuk/bersin, ditutup pakai sapu tangan. Nah, bukankah itu semua sudah pernah diajarkan orang tua kita? Jadi, itu sebenarnya norma lama, bukan?

Tidak ada lagi anak muda pangku-pangkuan dan peluk-pelukan di Pantai Kenjeran, yang bukan keluarga inti tak perlu cipika-cipiki. Salim cium tangan hanya sama orang tua; sama guru, ulama, pendeta, atau orang tua lain, tidak perlu. Kita masih ingat bahwa rumah orang tua kita di desa selalu menyediakan gentong besar berisi air dan gayung (ciduk), gunanya agar siapa pun cuci kaki dan tangan sebelum masuk rumah. Kamar mandi zaman dulu juga terlepas dari rumah induk. Orang harus membersihkan diri dulu sebelum masuk rumah. Sekarang kamar mandi malah berada di dalam kamar tidur. Mau membersihkan diri agar segala sawan dan virus berguguran, virus dan sawannya sudah masuk kamar tidur.

Maka, norma baru adalah norma/nilai-nilai lama yang baik, yang pernah dilupakan dan kini harus diadopsi kembali. Di dunia pendidikan, tak jarang dosen mengajar satu kelas 60–80 mahasiswa. Proses pembelajaran tidak mengindahkan tujuan kualitas, hanya kuantitas. Seandainya sekolah-sekolah dan kampus-kampus dibuka kembali, dan bagaimanapun itu harus dilakukan, seyogianya diterapkan pola lama dengan rasio guru berbanding siswa yang ideal. Jumlah siswa/mahasiswa di dalam kelas harus dikurangi. Rasio ideal adalah 1:20 atau maksimal 1:30. Satu pengajar, 20–30 siswa.

Dalam dua bulan lagi, semester baru dimulai. Dengan optimisme norma baru, proses pembelajaran tatap muka dapat dijalankan lagi, dengan kelas-kelas yang diperkecil. Ini terutama penting bagi wilayah-wilayah terjauh dan terpencil, di mana internet tak tersedia, yang mengakibatkan pendidikan terhenti total tanpa tatap muka. Konsekuensi dari norma baru ini, lembaga pendidikan harus bersedia menambah jumlah pengajar (karena kelas-kelas dipecah dua atau tiga) dan para orang tua siswa/mahasiswa harus bersedia membayar lebih karena kualitas pembelajaran lebih baik dan keamanan kesehatan terjamin.

Mengutip catatan Yuval Noah Harari (dalam Sapiens), di era revolusi agrikultur ”manusia didomestikasi oleh sistem perladangan/persawahan”. Sekian milenium kemudian, kita mengalami didomestikasi oleh virus korona. Meski Harari memandang sinis pada revolusi agrikultur dan dampaknya, sebaiknya kita optimistis domestikasi kali ini bisa jadi merupakan tonggak baru kemajuan peradaban manusia. Berbekal kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan serta didasari nilai-nilai adab dan moral nenek moyang yang luhur, kita bersama mengukir masa depan. (*)


*) Sirikit Syah, Pengajar ilmu bahasa dan komunikasi, dosen luar biasa di Universitas Ciputra Surabaya

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads