alexametrics

Puasa Menahan Hasrat Berlebih

Oleh HAEDAR NASHIR*
6 Mei 2019, 11:04:45 WIB

JawaPos.com – Marhaban ya Ramadan. Selamat datang puasa Ramadan. Kehadiran bulan penuh berkah ini selalu dinanti dan dijalani setiap muslim dengan gelora keagamaan tinggi.

Di setiap negeri muslim, hatta yang tinggal di negara-negara sekuler sekalipun, insan mukmin menyambut dan menjalani puasa. Dan, segala rangkaian ibadah Ramadan lainnya dengan semangat luar biasa disertai segala syiar aktivitasnya.

Pada perjalanan hidup setiap muslim, tentu sejumlah kali puasa Ramadan telah ditunaikan seiring rentang usia yang menyertai. Kegiatan ibadah yang paling masif itu bahkan disertai aktivitas sosial yang luar biasa menyeruak di setiap lingkungan jamaah umat. Para sosialita, bahkan program televisi pun, kian akrab dengan aktivitas Ramadan. Lebih-lebih, di era media sosial yang makin menjadi budaya baru, penyambutan dan syiar Ramadan kian bersemarak luas.

Pertanyaannya, apa yang membekas dalam diri dengan puasa dan rangkaian ibadah lainnya selama satu bulan setiap tahun itu? Sebuah pertanyaan yang memerlukan refleksi diri setiap muslim yang berpuasa, baik selaku individu maupun kolektif.

Benih rohani apa yang dapat ditanam dan dikembangkan dalam kehidupan umat muslim, khususnya di negeri yang mayoritas beragama Islam ini? Jawaban normatifnya, tentu setiap muslim atau umat Islam makin bertakwa karena sudah tergembleng keagamaannya selama sebulan pada setiap tahun sehingga terjadi akumulasi kualitas ketakwaan yang kukuh.

Benarkah itu semua? Apakah setiap diri kita yang telah menjalani puasa Ramadan plus puasa-puasa sunah lainnya seperti puasa Senin-Kamis dan puasa Daud telah menjelma menjadi insan muslim yang semakin berkualitas keislamannya?

Apakah watak-watak dan perangai buruk terkikis? Sebutlah sikap temperamental, arogan, mudah marah, berujar keburukan, aura kebencian, permusuhan, merendahkan sesama, mencerca golongan lain yang tak sepaham, dan segala perangai onar yang melambangkan perilaku primitif di ruang publik!

***

Setiap muslim paham puasa itu al imsaak, bermakna menahan diri. Menahan diri dari makan, minum, dan pemenuhan hasrat biologis sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Sesuatu yang sehari-hari dihalalkan pada waktu puasa diharamkan. Artinya, betapa puasa bukan sekadar rukun syariat belaka, karena relatif mudahnya orang secara fisik menahan tiga syahwat duniawi itu untuk ditunaikan, hatta meskipun berat bagi mereka yang berpuasa di atas 12 jam seperti di negeri-negeri Skandinavia.

Semudah itukah berpuasa, terlebih bagi yang sudah terbiasa? Secara rukun syariat, tentu mudah.

Tetapi, bagaimana dimensi hakikat dan makrifat dari puasa dan segala rangkaian ibadah di bulan yang agung itu? Hingga di sini, pada titik yang esensial dan eksistensial, fungsi kerohanian puasa penting untuk terus dipertanyakan dan dihayati setiap insan yang berpuasa dan beribadah lain di setiap kehadiran Ramadan.

Takhta, harta, dan segala kebutuhan indrawi itu memang manusiawi untuk dipenuhi, tetapi jangan berlebihan. Bukankah Allah SWT memperingatkan, “Wa-kuluu wasrabuu walaa tusrifuu” atau “Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan” (QS Al A’raf: 31).

Ketika seseorang atau sekelompok orang mengejar jabatan (takhta) maupun materi (uang, harta) dan segala kepentingan duniawi secara berlebihan, akan terjadi pemutlakan. Sehingga yang terlahir karakter to be or not to be atau sikap hidup-mati.

Bagi yang diberi mandat kuasa, memperoleh harta dan segala kesenangan duniawi, jangan merasa bangga, congkak, dan euforia tatkala berhasil. Belajarlah rendah hati dan bersyukur kepada Allah.

***

Ukuran sukses puasa dan ibadah Ramadan tentu pada sublimasi (penyucian diri) dan transformasi (perubahan) diri dalam bingkai kualitas takwa. Sukses atau tidaknya orang berpuasa ialah pada seberapa dalam dan jauh kualitas takwa itu menginternalisasi dalam diri setiap muslim yang menunaikannya. Yang kemudian berbuah segala kebaikan diri sebagai pancaran dari ketakwaan. Adakah semua itu terjadi dan menjelma dalam setiap insan muslim di negeri tecinta ini? Semoga demikian.

Menjadi bertakwa itulah tujuan berpuasa, sebagaimana firman Allah dalam Alquran yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah: 183).”

Setiap muslim mudah mengingat dan menghafalnya. Para mubalig pun dengan fasih menjelaskan dalam segala keindahan tafsir dan retorika ketika menguraikan ayat tentang puasa Ramadan itu.

Takwa, kata para ulama, ialah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Semudah itu. Tapi, apakah setiap insan muslim dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata?

Kenapa di negeri ini masih banyak korupsi, padahal mereka rajin puasa, salat, haji, dan segala ritual ibadah lainnya? Korupsi dilakukan oleh mereka yang -selain beragama Islam- malah terbilang tokoh-tokoh Islam yang paham Islam luar-dalam dan setiap hari menyuarakan Islam.

Kenapa di negeri ini masih berseliweran sikap, perangai, dan ujaran-ujaran yang mengirim kegaduhan, amarah, kebencian, perseteruan, permusuhan, dan amuk massa atas nama Islam dan dilakukan oleh sosok-sosok yang semestinya menjadi teladan umat? Bahkan, berpolitik pun menjadi gaduh dan dibawa ke ranah pertentangan keras.

Bukankah di antara ciri orang bertakwa ialah mampu menahan marah dan memberi maaf kepada sesama (QS Ali Imran: 134-135). Bukankah Rasul bersabda, ketika ada orang yang mengajak bertengkar, jawablah inni shaimun, aku sedang berpuasa.

Maknanya, ada mekanisme pertahanan diri yang kukuh untuk tidak terjebak pada segala tingkah permusuhan. Apalagi sampai menciptakan suasana permusuhan, amarah massa, dan kegaduhan sosial hatta atas nama amar makruf nahi mungkar.

Mengapa ada sosok-sosok warga atau elite muslim yang setiap hari menghujat dan menghakimi saudara seiman dengan berbagai label buruk, tajassus (mencari-cari kesalahan orang), gibah (menggunjing aib pihak lain), dan merendahkan sesama padahal pada saat yang sama mengumandangkan ukhuwah dengan suara indah.

Hatta ketika dapat angin kuasa sesaat, justru yang mencuat arogansi diri dan kebanggaan akan golongan sendiri. Di mana letak nilai-nilai Islam yang berakhlak mulia, uswah hasanah, dan rahmatan lil ‘alamin yang setiap hari disuarakan dengan dalil-dalil agama dan retorika indah? Telah bertakwakah orang yang berperangai demikian?

Sungguh sangatlah penting nilai-nilai puasa dan ibadah Ramadan ditransformasikan menjadi energi pencerahan yang menghadirkan Islam dan setiap insan muslim sebagai role model. Atau contoh utama dalam menyebarluaskan dan mewujudkan alam pikiran, sikap, dan tindakan yang sukses menahan segala hasrat duniawi yang berlebihan menjadi hidup qanaah dan tuma’ninah.

Seraya dengan itu secara pribadi maupun kolektif mewujudkan keteladanan hidup yang berkeadaban mulia dan rahmatan lil ‘alamin secara nyata dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal! (*)

*) Ketua umum PP Muhammadiyah

Editor : Ilham Safutra