alexametrics

Dari Pergerakan untuk Indonesia Emas

Oleh M. HASANUDDIN WAHID *)
6 April 2021, 19:48:33 WIB

DI tengah upaya keluar dari pandemi Covid-19 dan recovery ekonomi nasional, tiba-tiba menyeruak ke publik ratusan intelektual Islam Indonesia alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar muktamar pemikiran mulai 5 hingga 7 April 2021. Muktamar ini bukan sembarang muktamar. Sebab, yang dikontestasikan adalah pemikiran, gagasan, ide, dan intelektualitas.

Galibnya, publik memahami muktamar itu adalah perhelatan permusyawaratan tertinggi dari organisasi sosial keagamaan, organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik. Tetapi, kali ini, ratusan profesor maupun doktor dan dosen dari pelbagai perguruan tinggi di tanah air berkumpul dan berkolaborasi menggelar hajatan muktamar pemikiran. Tentu ini peristiwa luar biasa, membahas sesuatu yang luar biasa, serta menghasilkan rekomendasi maupun produk-produk yang luar biasa pula.

Keluarbiasaan itu juga tampak dari asbab diselenggarakannya muktamar. Yakni, kondisi Indonesia yang sedang menyambut bonus demografi berupa generasi emas (golden generation) pada 2045 mendatang. Karena itu, perlu penyiapan sumber daya manusia (SDM) unggul agar potensi bonus demografi itu tidak menjadi bencana demografi (demographic disaster). Para intelektual (dosen) alumni PMII yakin mampu menjadi gerbong besar penyedia lahirnya SDM unggul tersebut.

Selain itu, muktamar pemikiran ini digelar dalam rangka mendiskusikan problem-problem mutakhir bangsa Indonesia dalam rangka keluar dari pandemi Covid-19 dan ancaman krisis ekonomi nasional. Sebab, apalah artinya kaum intelektual jika mereka tidak berani keluar dari menara gading untuk berjibaku membantu pemerintah dan masyarakat mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi akibat pandemi.

Reasoning lain diselenggarakannya muktamar pemikiran PMII ini adalah upaya menggelorakan kembali keberanian para kaum intelektual untuk menyuarakan pemikiran merdeka mereka di public sphere yang semakin disruptif. Sedang di aras internasional, muktamar pemikiran ini dituntut untuk mengglobalkan Islam wasatiah (moderat) ala ahlussunnah wal jamaah. Islam yang selama ini diterapkan Nahdlatul Ulama dengan baik, bahkan menjadi bagian dari living tradition bangsa Indonesia.

Islam wasatiah NU ini bahkan menjadi jawaban selesainya hubungan agama dan negara maupun hubungan Islam dan demokrasi. Keduanya bisa hidup berdampingan saling menguatkan dan mengukuhkan. Tidak saling bertentangan, bahkan bertolak belakang.

Oase Kaum Intelektual

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads