“Samurai” Makin Maju di Piala Dunia, Indonesia Kapan?

Oleh Moch N. Kurniawan *)
5 Desember 2022, 22:57:46 WIB

PADA Piala Dunia 2022 ini, kita disuguhi sepak bola Jepang yang makin mendekati Eropa dan Amerika Latin, menjauhi Asia, menjauhi kita Indonesia. Jepang membabat dua negara juara dunia Jerman dan Spanyol. Masing-masing 2-1 untuk memuncaki grup E dan lolos ke fase gugur. Terlihat kualitas permainannya sudah tidak kalah dengan negara Eropa.

Sedangkan Indonesia? Kita masih berkutat sebagai petarung di Asia Tenggara, penggembira di Asia dan penonton di level dunia. Padahal pada 1986, Indonesia dan Jepang sama-sama nyaris tampil di Piala Dunia Meksiko. Di Kualifikasi AFC Zona B (Timur), Indonesia kalah di semifinal dari tim kuat Korea Selatan, yang kemudian di final menaklukan Jepang. Jepang waktu itu tidak lebih kuat dari Indonesia. 

Semangat Bushido Samurai

Bangsa Jepang mewarisi semangat Bushido Samurai diantaranya nilai kesetiaan dan kehormatan (pada negeri sendiri). Tim nasionalnya juga demikian, menjiwai kedua nilai itu sehingga tidak pernah mau kalah dengan siapapun apalagi dengan juara dunia sepak bola Jerman dan Spanyol. Jikapun kalah, mereka harus bekerja keras, bertarung dengan hebat, sehingga kehormatan negeri mereka tidak hancur.

Kata kunci yang membuat semangat Bushido Samurai tetap kokoh bagi bangsa Jepang adalah disiplin, detail, dan presisi. Ini adalah reputasi mereka. Mereka tidak pernah menganggap enteng satu pekerjaan, bekerja begitu serius, punya kedisiplinan yang kuat, serta memberi perhatian sampai ke hal-hal yang kecil.

Di semua lini seperti itu. Kita bisa mengecek hasil kerja keras Jepang di berbagai bidang misalnya pendidikan, ekonomi, teknologi, industri, seni budaya, kuliner, atau wisata. Semua maju dan bagus, sehingga bikin kita terkagum-kagum bagaimana cara mereka melakukannya.

Dalam urusan sepak bola, sebenarnya Jepang baru memutuskan mengembangkan olahraga ini secara serius, profesional dan berkelanjutan sejak 1989, didorong oleh nyaris tampilnya Jepang di Piala Dunia 1986 dan beberapa klub semiprofesional Jepang menjadi juara Asia atau masuk final Asia antara 1986-1989 (Horne & Bleakly, 2002).

Jepang pun membuat target. Dalam jangka panjang, sepakbola Jepang harus mampu bersaing di tingkat dunia, dan dalam jangka pendek menjadi salah satu yang terkuat di Asia serta kultur penggemarnya harus terbentuk. Menjadi tuan rumah Piala Dunia juga ditargetkan, yang berhasil didapatkan bersama Korea Selatan pada 2002.

Pada periode awal transformasi sepakbolanya, dibentuk liga profesional Jepang atau J.League, dan untuk mengakselerasi standar kemampuan bermain sepakbola serta meningkatkan animo fans, pemain dunia seperti Zico, Gary Lineker, Dunga, Hristo Stoichkov, Michael Laudrup, didatangkan untuk bermain di J.League. Pelatih asing Philippe Troussier didatangkan untuk memperkuat tim nasional Jepang untuk Piala Asia 2000 dan Piala Dunia 2002. Jepang dengan cepat menjadi Juara Asia 2 kali yakni 1992, 2000, dan berpartisipasi di Piala Dunia 1998 dan 2002.

Kampanye yang sukses tersebut dilanjutkan hingga sekarang, dan hasilnya juga bagus. Jepang sanggup 2 kali lagi juara Asia pada 2004 dan 2011, serta konsisten masuk Piala Dunia 2006, 2010, 2014, 2018, dan 2022. Dengan performa seperti itu, bintang sepak bola dunia yang sudah senior seperti Andres Iniesta, Hulk, dan Lukas Podolski juga tidak ragu bermain di Jepang.

Disamping itu, secara paralel dikembangkan sepakbola usia dini di akar rumput untuk memoles bakat-bakat pesepakbola alami Jepang dalam jangka panjang. Fokusnya bukan langsung menekankan bertanding sepak bola secara grup kepada anak-anak, melainkan pada “ball mastery” atau penguasaan bola, kualitas menerima dan mengirimkan operan, serta bermain bola satu lawan satu. Tujuannya adalah agar anak nyaman, mencintai dan percaya diri dalam memainkan bola di kakinya, mampu bekerja sama dalam mengendalikan bola, dan memiliki pemikiran kreatif saat berhadapan satu lawan satu.

Tom Byer atau Tom-san, pria berkebangsaan AS dan tinggal di Jepang, adalah pioneer yang sangat sukses mengembangkan sepakbola usia dini hal tersebut di Jepang sejak tahun 1990-an dan telah menghasilkan gelombang bakat pesebakbola Jepang untuk Liga Jepang maupun Eropa yang tiada henti termasuk di antara Shinji Kagawa. Tom-san mengakui bahwa Jepang memang memiliki disiplin tinggi, peka pada detail dan terorganisir, sehingga tidak heran jika di masa kini dan masa depan banyak pesepakbola Jepang bermain di liga tertinggi Eropa. Omongannya terbukti, kualitas pemain Jepang kini maju dengan pesat dan sejalan dengan itu makin maju pula tim nasional Jepang. Sesuatu yang cukup ideal untuk Indonesia bisa jadikan benchmark.

Kisah Indonesia

Indonesia, selain nyaris tampil di Piala Dunia 1986 Meksiko, juga tampil apik di Asian Games 1986 dengan maju ke semifinal. Dua prestasi ini sebenarnya merupakan kesempatan emas untuk mengembangkan sepakbola tanah air.

Namun sesudahnya jalur yang ditempuh Jepang dan Indonesia jauh berbeda. Jepang dengan transformasi sepakbolanya pada 1990-an kini sudah masuk level dunia, sedangkan Indonesia masih berjuang keras untuk dipandang di Asia.

Jalan Indonesia untuk meningkatkan kualitas sepak bola dimulai dengan mengirimkan tim muda elit berlabel Primavera dan Baretti untuk berlatih di Italia pada 1990-an, namun lulusannya gagal mengangkat performa tim nasional Indonesia. Lama tidak ada tanda-tanda bangkit, tahun 2008-2012 program pesepakbola elit muda digelar di Uruguay yang dinamai Sociedad Anonima Deportiva (SAD). Program ini sedikit membawa hasil, dengan timnas U-19 juara AFF tahun 2013 dan lolos ke Piala Asia 2014, tapi gugur di babak grup.

Justru pencarian bakat yang dipimpin pelatih Indra Sjahfri menunjukkan hasil bagus. Sebagai tuan rumah Piala Asia U-19 2018, timnas U-19 didikannya lolos hingga perempat final. Ini disusul timnas U-19 binaan pelatih Fakhri Husaini yang juga lolos ke Piala Asia 2020, namun sayang event-nya dibatalkan karena Covid-19. Kemudian berlanjut timnas U-19 besutan pelatih Shin Tae Yong (STY) lolos ke Piala Asia U-20 2023, sekaligus persiapan ke Piala Dunia U-20 2023 saat Indonesia menjadi tuan rumah. Pada dua timnas U-19/U-20 terakhir ini beberapa pemain muda yang tergabung dalam program pengembangan Garuda Select ke Inggris sejak 2019 menjadi pilarnya.

Pada era pelatih STY ini, stabilitas performa dan mental mulai tampak di tim nasional U-19, U-23 dan senior. Ia menggantikan pelatih dari Spanyol Luis Milla yang dianggap menghadirkan karakter permainan timnas yang tenang, mendominasi, operan yang bagus, namun belum bisa bicara banyak di level Asia.

Di bawah STY, tim nasional senior (peringkat 152) terbukti mampu lolos ke Piala Asia 2023, dan beberapa kali menumbangkan tim peringkat FIFA di atas-nya seperti Kuwait (146) dan Curacao (84). Karakter permainan tim nasional Indonesia juga jelas yakni cepat, tidak kenal menyerah, agresif, berani adu badan, kualitas operannya makin berkembang serta kaya taktik. Tim nasional senior dan U-23 juga tidak minder melawan tim–tim kuat, walaupun mentalitas inferior ini masih menjadi isu yang harus dibenahi untuk timnas U-19.

Bagaimanapun, peningkatan prestasi tim nasional Indonesia ke level Asia belakangan ini merupakan kesempatan emas kedua untuk mentransformasi sepakbola Indonesia secara besar-besaran, setelah benar-benar gagal memanfaatkan momentum prestasi 1986.

Bhinneka Tunggal Ika

Jika Jepang mewarisi semangat Bushido Samurai, Indonesia mewarisi fisolofi pencak silat yakni eksistensi, saling mengenal, dan bersatu-sebagai bangsa. Konteksnya memang sangat Indonesia yang terdiri dari 16.766 pulau dan 1.340 suku bangsa (BPS 2010 & 2021). Saking banyaknya suku bangsa, maka tugas pertama di Indonesia adalah saling mengenal dengan baik, lalu bersatu untuk menunjukkan eksistensi bersama. Ini sama persis dengan semboyan negara Indonesia yakni Bhinneka Tunggal Ika,  berbeda-beda tapi tetap satu juga.

Akar masalah sepak bola di Indonesia juga klise, yakni masing-masing stakeholder masih fokus pada perbedaan, ego kelokalan, kepentingan pribadi serta kelompok, sehingga yang terjadi adalah perpecahan. Buntutnya 36 tahun sejak Indonesia hampir lolos ke Piala Dunia 1986, sepakbola Indonesia jalan di tempat, sarat dengan politik kelompok, politik saling menjatuhkan antar klub, dan politisasi sepakbola untuk karir politik.

Jika memang ingin memajukan sepakbola Indonesia, ada baiknya mendengarkan cuitan Tom-san dalam twitter-nya pada 2021 yang mengakui bahwa kultur fan dan kecintaan sepak bola di Indonesia adalah yang terkuat di Asia. “Indonesia bisa menjadi Brasil-nya Asia Tenggara selama politik tidak terlibat,” tuturnya.

Kini momentum untuk memajukan sepakbola Indonesia datang untuk kedua kalinya. Momentum utamanya adalah naiknya prestasi tim nasional U-19 masuk Piala Asia berturut-turut pada 2018, 2020, 2023 dan tim nasional senior juga lolos ke Piala Asia 2023 setelah absen 16 tahun. Momentum kedua adalah Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 yang jelas akan memompa semangat tim nasional U-20 untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.

Ketiga, transformasi sepak bola Indonesia sedang digulirkan pemerintah Indonesia, PSSI dan FIFA usai tragedi berdarah Kanjuruhan terkait sepak bola tahun ini. Keempat, kepercayaan diri bangsa Indonesia sedang tinggi paska Presidency G20 2022, Indonesia dikagumi mampu membaurkan para pemimpin dunia di tengah perang Rusia-Ukrania dan secara ekonomi terus tumbuh menjadi the bright spot di tengah ancaman resesi ekonomi dunia. Dan kelima, menularnya semangat kemenangan tim Asia-Jepang, Korea di Piala Dunia 2022 sebagai sesama negara Asia ‘tulen’ yang mengalahkan tim-tim raksasa dunia sepak bola.

Jadi bisakah kita memanfaatkan serangkaian momentum ini untuk memajukan sepak bola Indonesia? Setahun ke depan adalah periode krusial sehingga kita jangan sampai kehilangan momentum itu. Ayo bersatu dan tunjukkan transformasi sepak bola Indonesia bisa berhasil!.


*) Moch N. Kurniawan, Dosen dan Pemerhati Sepakbola

 

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads