alexametrics

Meringkus Predator Jarit

Oleh REZA INDRAGIRI AMRIEL *)
5 Agustus 2020, 19:48:22 WIB

PUBLIK menyebut orang ini sebagai ’’predator jarit (jarik)’’. Kelakuannya janggal sekaligus mengerikan. Mahasiswa salah satu PTN di Surabaya itu memersuasi orang lain agar mengenakan jarit alias jarik dengan dalih riset. Ternyata bukan satu–dua orang saja yang menjadi korban si predator.

Membaca cuitan antara si predator dan korbannya, sebagaimana tersebar di media sosial, tampaknya terdapat tiga persoalan.

Pertama, apabila kelakuan pelaku bermotif seksual, boleh jadi oknum mahasiswa tersebut memiliki kondisi fetish (fetishism). Inti fetish adalah individu yang mengalami keterangsangan seksual dengan objek-objek yang umumnya tidak diasosiasikan dengan seks. Objek tak lazim para fetish banyak ragam. Sepatu, kantong plastik, dan benda-benda lainnya yang tidak bersangkut paut dengan seks. Dalam episode kehidupan manusia, bisa saja seseorang (siapa pun) tertarik dan terangsang secara seksual pada objek yang tidak biasa. Karena itulah, patut dibedakan antara fetish dan fetishistic disorder atau gangguan fetish. Menjadi gangguan ketika obsesi seksual tak lazim itu menghilangkan kemampuan yang bersangkutan untuk terangsang dengan cara atau pada objek seksual. Juga diklasifikasi sebagai gangguan fetish manakala individu yang bersangkutan kehilangan produktivitas dan terganggu relasi sosialnya akibat tidak mampu menahan dorongan fetish-nya.

Kedua, si predator jarit dikabarkan hanya mengincar para lelaki sebagai sasaran perilaku fetish-nya. Karena ada kesamaan jenis kelamin antara si predator dan para korbannya, terkesan kuat bahwa si predator adalah seorang homoseksual (gay). Orientasi seksual sejenis patut pula ditangani secara tepat mengingat tendensi seperti itu dinilai luas bertentangan dengan fitrah manusia yang hanya menerima dan membenarkan heterokseksual.

Ketiga, mahasiswa yang mempunyai obsesi tidak wajar pada jarit itu patut ditengarai telah melakukan pelecehan seksual terhadap sekian banyak orang. Disebut pelecehan seksual karena sasaran si predator berkeberatan dengan ulah si predator. Orang-orang tersebut barangkali –paling tidak, pada awalnya– tidak mengira bahwa mereka telah menjadi objek seksual menyimpang si predator. Si predator jarit memanfaatkan statusnya selaku mahasiswa senior untuk menguasai adik-adik angkatannya agar menampilkan perbuatan seperti yang ia instruksikan. Relasi topdog-underdog semacam ini merupakan kelaziman dalam berbagai aksi kejahatan seksual. Orang-orang yang diincar si predator tidak menerima perlakuan intimidatif secara vulgar. Perlakuan yang ’’biasa-biasa saja’’ membuat mereka lengah sehingga kian terbelit dalam penguasaan si predator jarit.

Pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dapat dipertimbangkan oleh otoritas penegak hukum untuk menindak si predator. Pertanyaannya, bagaimana mengenakan pasal tersebut kepada si predator?

Pasal 289 KUHP berbunyi, ’’Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul dihukum karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana selama-selamanya sembilan tahun.’’

Ada dua kata kunci pada pasal tersebut yang membutuhkan tafsiran dan penerapan kontemporer agar bisa diaplikasikan pada kasus fetish di Surabaya tersebut. Kata kunci pertama: ’’kekerasan’’. Diasumsikan bahwa, pada masa penyusunan KUHP, kekerasan pada pasal 289 merupakan serangan fisik. Dengan asumsi tersebut, agar suatu perbuatan bisa disebut sebagai kekerasan, perbuatan itu berlangsung hanya ketika pelaku dan korban berada pada satu lokasi yang memungkinkan raga pelaku menyerang raga korban. Tempat kejadian perkara (TKP) didefinisikan berdasar lingkungan geografis tertentu, yaitu satu titik yang menjadi lokasi pertemuan antara pelaku dan korban.

Kini, ketika dunia maya (virtual, siber) sudah menjadi realitas yang bersisian dengan dunia nyata (riil), pelaku dan korban yang berjauhan secara fisik ternyata bisa saja berdekatan secara virtual. Dengan kata lain, dua orang tersebut berada di dua lingkungan geografis yang berbeda, namun berada di satu lokasi maya. Serangan (kekerasan) tidak lagi dilancarkan sebatas di dunia nyata, tapi juga bisa dilakukan dengan perantara gelombang internet. Dari sisi geografis, TKP kekerasan tersebut memang tetap dua, yakni pelaku berada di satu lokasi dan korban di lokasi lainnya. Tapi, gelombang internet membuat kedua pihak berada pada satu ruang interaksi yang sama.

Kata kunci kedua: ’’pencabulan’’. Bisa dibayangkan, pada saat KUHP disusun, pencabulan diidentikkan dengan serangan seksual yang juga mengharuskan adanya persentuhan fisik. Jadi, seseorang disebut melakukan kekerasan (pencabulan) ketika tubuhnya menyentuh secara tidak menyenangkan tubuh orang lain. Tanpa kontak fisik antara pelaku dan korban, kekerasan (pencabulan) dianggap tidak terjadi. Sekali lagi, pembatasan makna seperti itu masuk akal karena KUHP disusun ketika dunia belum mengenal internet dan media sosial.

Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, para ilmuwan menyimpulkan bahwa cedera psikis sesungguhnya sama seriusnya dengan cedera fisik. Persentuhan yang tidak menyenangkan atau serangan juga bisa berlangsung secara psikologis. Jadi, kendati antara pelaku dan korban sama sekali tidak terjadi kontak fisik, kontak psikis tetap bisa berlangsung. Atas dasar itu, kata ’’pencabulan’’ pada pasal 289 KUHP patut ditafsirkan mencakup pula serangan secara psikis yang bermotif seks dari seseorang kepada orang lain.

Pasal 289 KUHP sesungguhnya tidak mencantumkan adanya batasan geografis tertentu sebagai syarat bagi berlangsungnya kekerasan atau pencabulan. Sehingga, blessing in disguise: pada rumusan pasal dalam produk hukum bahela itu tersedia ruang bagi adanya tafsiran kekinian seperti diuraikan di atas.

Apalagi, selama ini masyarakat sudah akrab dengan perbendaharaan kata cybersex (kegiatan seks melalui siber). Otoritas hukum pun sudah mengidentifikasi pemanfaatan dunia virtual sebagai area kejahatan, misalnya pada kejahatan perbankan yang menggunakan cryptocurrency. Para predator seksual juga tidak sedikit yang secara keji memanipulasi korban, utamanya anak-anak, untuk merusak organ vital mereka sendiri sehingga dikenal istilah perkosaan daring.

Atas dasar itu, perluasan tafsir atas kata ’’kekerasan’’ dan ’’pencabulan’’, yakni ’’dari fisik ke psikis’’ dan ’’dari dunia nyata ke dunia virtual’’, sudah sewajarnya pula dilakukan guna meringkus predator jarit dan para bedebah lainnya yang melancarkan aksi kejahatan seksual mereka di dunia virtual (siber). (*)


*) Reza Indragiri Amriel, Alumnus Psikologi Forensik The University of Melbourne

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads