alexametrics

Strategi Transdisiplin dalam Pandemi

Oleh KUKUH YUDHA KARNANTA *)
5 Juli 2021, 19:48:14 WIB

KAJIAN-KAJIAN akademis menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 tidak cukup dihadapi dengan pendekatan ilmu kesehatan/kedokteran, melainkan juga ilmu-ilmu lain, termasuk sosial-humaniora. Fakta bahwa tenaga medis dan ilmu kedokteran berperan sangat vital dan mutlak dalam penanganan pasien, hal itu tak bisa dibantah. Namun, aspek-aspek lain seperti pandangan hidup serta perilaku/aktivitas manusia juga perlu mendapatkan perhatian sebagai bagian integral sistem ketahanan hidup dan rencana mitigasi di masa pandemi. Aspek-aspek sosiokultural apa sajakah yang sebaiknya perlu dikerjakan bersama-sama untuk membangun sistem ketahanan hidup tersebut?

Penelitian Aslan (2021) berjudul Can transdisciplinary approaches contribute to the Covid-19 fight? dalam jurnal Global Health Promotion bisa dijadikan basis pemahaman awal. Aslan mengatakan pendekatan multidisiplin dalam menghadapi pandemi tidaklah cukup. Dia berargumen bahwa kelemahan pendekatan multidisiplin adalah masing-masing disiplin ilmu, semisal kesehatan, ekonomi, psikologi, dan sosial, masih bersifat ”tradisional”. Artinya, masing-masing disiplin ilmu memiliki konvensi dan corak kajian yang berbeda yang tidak/sulit berintegrasi satu sama lain.

Contoh sederhana, pro-kontra rekomendasi penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat tidak akan pernah bisa ”mendamaikan” kepentingan yang didasarkan dari ilmu kesehatan di satu sisi dan ilmu ekonomi di sisi lain. Maka, Aslan mengusulkan pendekatan transdisiplin, yakni ”…engages different disciplines in implementing potential solutions to societal issues and the engagement creates a holistic approach. The approach facilitates transforming knowledge and societal transformation.”

Dengan demikian, tantangan para ilmuwan dan kaum cendekia lintas ilmu adalah bersama-sama merumuskan langkah-langkah dan rekomendasi yang tidak hanya strategis, melainkan juga holistik yang membawa dampak jauh lebih signifikan tidak hanya kepada publik, melainkan juga pada perkembangan paradigma keilmuan. Tujuan utama dari pendekatan transdisiplin itu adalah kondisi ketika ”science, society, and other related components contribute to the solution. All population dynamics play a role in organizing the response to the ’need’.”

Pertanyaannya, selain medis dan ekonomi, kebutuhan seperti apa lagi yang perlu mendapat perhatian untuk memperkuat ketahanan masyarakat di masa pandemi ini?

Pertama, penguatan edukasi dan sosialisasi kepada publik melalui strategi komunikasi budaya yang tepat. Fakta bahwa hingga hari ini masyarakat masih terpolarisasi antara yang percaya dan tidak percaya pada Covid-19 boleh jadi disebabkan cara komunikasi yang kurang jitu. Kebijakan penyekatan di Jembatan Suramadu beberapa saat lalu, misalnya, dipersepsi sebagai suatu bentuk stigmatisasi pada etnis tertentu.

Framing yang dilakukan media massa, berikut juga forum-forum diskusi warga di media daring, sulit disangkal semakin menguatkan pesan/representasi negatif terhadap salah satu etnis. Hasilnya, kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan setelah direaksi begitu keras, bahkan diwarnai insiden demonstrasi serta aksi kekerasan dari warga terdampak. Maka, alangkah lebih elok bila pemerintah mengajak sosiolog, pakar komunikasi publik, budayawan, dan agamawan untuk merumuskan langkah jitu cara berkomunikasi dan edukasi kepada publik sasaran.

Kedua, strategi tracing yang lebih ”humanis”. Pengalaman pribadi penulis yang dinyatakan positif dua minggu lalu, sesungguhnya pelayanan yang diberikan pemerintah sudah sangat-sangat terukur, profesional, dan cepat. Namun, kedatangan rombongan tim tracing dari puskesmas yang didampingi anggota kelurahan, polisi, dan TNI jujur saja terkesan menyeramkan bagi banyak orang.

Baca Juga: Tanah Warisan Tak Diurus, Tahu-Tahu Jadi Pujasera

Tidak heran bila Covid-19 masih dipersepsi sebagai aib alih-alih wabah. Tidak heran, sebutan warga pada praktik tracing adalah ”tercakup”, ”ditahan”, ”ngamar”, dan istilah-istilah lain yang bernada negatif. Karena dianggap aib, akibatnya masih banyak orang yang sedang positif Covid-19 cenderung menutupi fakta bahwa dirinya sedang terinfeksi karena takut/malu citra dirinya jatuh di mata warga lain.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads