alexametrics

Masa Depan Anak Korban Kekerasan Seksual

Oleh BAGONG SUYANTO *)
5 Juni 2021, 19:48:56 WIB

SALAH satu kasus terbaru tindak kekerasan seksual yang dialami anak-anak terjadi di lembaga pendidikan. Kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan pemilik sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Kota Batu kini tengah menjadi perbincangan masyarakat. Bermula dari laporan Komnas Perlindungan Anak (PA), kasus kekerasan seksual yang sudah lama tersembunyi akhirnya bisa dibongkar. Tindak pemerkosaan yang dilakukan guru atau pendidik tidak bisa ditoleransi dengan alasan apa pun.

Ditengarai, puluhan anak sekolah SPI tidak hanya menjadi korban kekerasan verbal, fisik, dan eksploitasi ekonomi. Anak-anak yang semestinya mendapatkan perlindungan dan kasih sayang justru menjadi korban tindak kekerasan seksual gurunya.

Sisi Korban dan Pelaku

Aparat saat ini sedang melakukan penyelidikan terhadap dugaan kasus kekerasan seksual yang terjadi di sekolah SPI. Kasus ini perlu diusut hingga tuntas agar masa depan anak-anak yang menjadi korban dapat diselamatkan. Sedangkan pelaku, jika terbukti bersalah, harus memperoleh hukuman yang benar-benar setimpal.

Ada dua permasalahan utama yang perlu mendapatkan perhatian sehubungan dengan kejadian kekerasan seksual yang menimpa anak di bawah umur. Pertama, bagi anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual, mereka perlu mendapat perhatian khusus karena dampak psikologis yang dialami sungguh berat. Kekerasan seksual adalah tindak kejahatan kemanusiaan yang paling mengerikan. Dampaknya acap kali menimbulkan luka traumatis yang mendalam.

Anak perempuan korban pemerkosaan biasanya mengalami trauma psikologis yang akut dan tak terperikan. Banyak kajian yang membuktikan bahwa anak perempuan korban pemerkosaan sesudahnya tidak dapat lagi melakukan hubungan seksual yang wajar karena menderita vaginismus, di mana otot dinding vagina selalu berkontraksi atau menguncup ketika melakukan hubungan intim. Tidak jarang anak korban pemerkosaan juga mengalami dispareunia, yaitu rasa nyeri atau sakit yang terjadi justru dalam aktivitas prokreasi seksual.

Menyelamatkan masa depan anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual tentu tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga. Mereka memerlukan rehabilitasi dan pendampingan yang berkelanjutan. Di sini peran pemerintah dan kelompok sekunder di masyarakat sangat penting.

Kedua, bagi pelaku tindak kekerasan seksual, sanksi yang dijatuhkan perlu berempati kepada nasib korban dan perasaan keluarganya. Para predator seksual yang memilih korban anak-anak perempuan di bawah umur harus mendapatkan tambahan sanksi karena posisinya yang memanfaatkan kelemahan korban.

Dibandingkan perempuan dewasa, data memperlihatkan bahwa anak perempuan lebih berpotensi menjadi korban tindak kekerasan seksual. Selain karena faktor kebejatan mental si pelaku, secara psikis dan fisik, anak-anak umumnya memang sangat rentan dan mudah menjadi korban tindak pemerkosaan.

Studi yang dilakukan Universitas Airlangga (1992) menemukan mayoritas tindak kekerasan seksual terjadi karena adanya ancaman dan paksaan (66,3 persen). Namun, sebagian pemerkosa biasanya mencoba menaklukkan korban dengan cara bujuk rayu (22,5 persen) atau dengan menggunakan obat bius (5,1 persen). Dengan bujuk rayu berupa janji akan diberi uang atau iming-iming permen saja, itu semua acap kali sudah cukup manjur untuk memikat hati si anak dan kemudian memperdaya mereka hingga dilakukan percabulan atau serangan seksual.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads