alexametrics

Harmoni dari Bali Utara

Oleh AHMADUL FAQIH MAHFUDZ*
5 Juni 2019, 12:05:42 WIB

JawaPos.com – Setiap malam Idul Fitri, Bu Mawiyah bersilaturahmi ke rumah Bu Wayan. Di malam takbiran itu, dia datang membawa kue-kue Lebaran. Dengan hangatnya suasana kekeluargaan, Bu Wayan pun menerimanya seraya mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada Bu Mawiyah.

Tidak hanya ketika momen Lebaran, sehari-hari keduanya juga hidup dalam kemesraan. Ketika Bu Mawiyah merenovasi rumahnya, misalnya, Bu Wayan yang memiliki usaha toko material menyumbang ratusan batang reng kayu untuk atap rumah Bu Mawiyah.

Meski sama-sama warga Desa Pemuteran, sebuah desa di Bali Utara, tepatnya di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, keduanya berasal dari latar suku dan agama yang berbeda. Bu Wayan asli Bali dan beragama Hindu, sedangkan Bu Mawiyah adalah seorang muslim yang berasal dari Madura.

Namun, latar suku dan agama tak menghalangi keduanya untuk membangun persaudaraan. Perbedaan suku dan agama di antara keduanya justru menjadi media untuk menyayangi satu sama lain.

Keduanya berhasil menjadi manusia-manusia Indonesia, lulus menjadi manusia-manusia Pancasila, tanpa perlu meneriakkan Indonesia dan Pancasila ke mana-mana atau di mana-mana tapi pada saat yang sama justru merusak nilai-nilai keindonesiaan dan kepancasilaan. Keduanya hidup toleran, tanpa berkoar-koar tentang toleransi tapi pada saat yang sama justru berperilaku intoleran kepada siapa pun yang dianggap berbeda.

Keduanya adalah potret gamblang dari apa yang bernama keteladanan. Suatu kearifan hidup yang pada zaman ini makin langka kita temukan. Lebih-lebih di zaman internet yang disesaki berbagai perangkat media sosial seperti saat ini. Betapa mudahnya kata-kata diucapkan, betapa gampangnya kalimat demi kalimat disemburkan, tapi alangkah sulit semua itu diwujudkan dalam tindakan.

Di media-media sosial, hampir setiap hari kita dipertemukan dengan kata-kata kebencian. Kelompok yang satu menyerang kelompok lain. Golongan yang satu membalas serangan golongan yang lain. Yang mengerikan, perbedaan yang semula hanya mengenai perbedaan pilihan politik -dan itu sah dalam demokrasi- kemudian diseret-seret ke ranah perbedaan agama dan kesukuan.

Akibatnya, kita kemudian lebih mahir mencari titik perbedaan daripada mencari titik persamaan. Kelompok yang satu mencari apa saja perbedaan kelompok lain dengan kelompoknya. Tidak lagi mencari persamaan nilai yang sebenarnya bisa membuat keduanya bergerak dengan nilai-nilai kebaikan dan keindahan yang sama.

Nilai-nilai kebaikan dan keindahan dari filsafat hidup yang terdapat pada tiap-tiap suku dan agama di negeri ini tidak lagi ditemukan apalagi dijiwai. Nilai-nilai itu telah tergantikan oleh kebencian, kecurigaan, kenyinyiran, karena perbedaan pandangan politik sektarian.

Politik sektarian tidak hanya berbahaya, tapi juga membahayakan. Tidak hanya kerdil, tapi juga mengerdilkan. Bila gaya politik semacam itu kita gunakan, persatuan dan kesatuan kita sebagai sebuah bangsa benar-benar terancam.

Politik sektarian membuat hari demi hari kita dijalani dengan hati yang terbakar api kebencian dan bara kedengkian. Akhirnya, keakuan makin kukuh, dan pada saat yang sama kekitaan pun makin roboh. Energi kita, cipta, rasa, karsa, yang semestinya kita gunakan untuk mendesain dan membangun peradaban bangsa ini justru terkuras habis karena dipakai untuk bermusuhan dan bertengkar dengan saudara sebangsa dan se-tanah air sendiri.

Politik, yang sejatinya menjadi media untuk membangun tatanan negara bersama-sama, dengan nilai-nilai kebaikan dan cita-cita keindahan yang sama, justru menjadi media untuk mengoyak-ngoyak persaudaraan sesama anak bangsa. Sampai di sini, kita mengerti: jangankan sampai pada sila keadilan sosial dalam Pancasila, pada sila persatuan Indonesia saja kita belum sanggup mengamalkannya.

Pancasila, yang merupakan wasiat agung para pendiri bangsa, seakan-akan hanya menyisakan kata-kata belaka. Ia hanya didiskusikan, diseminarkan, dilembagakan, bahkan diproyekkan, tapi tidak diamalkan. Dengan luka-luka itu, bangsa kita akan berjalan menuju hari esok dengan langkah sempoyongan.

Ironisnya, situasi ini dinikmati bahkan ditunggangi elite politik yang juga para pemangku kebijakan. Mereka tak henti-henti memperebutkan jabatan meski harus menggunakan cara-cara busuk dan hina seperti politik sektarian semacam itu. Pada saat yang sama, mereka juga tak henti-henti merampok uang negara serta menggadaikan atau menjual aset-asetnya demi memperkaya diri dan keluarganya, atau dijadikan modal untuk mencalonkan dirinya lagi pada kontestasi politik selanjutnya.

Saudaraku, bangsa yang dahaga ini sedang mondar-mandir kelimpungan mencari mata air keteladanan. Mata air ini harus segera ditemukan agar kita kembali menjadi bangsa yang utuh, hingga negeri ini kelak benar-benar menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja, negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Negeri yang tidak hanya tenteram, tapi juga menenteramkan. Ketenteraman yang tidak hanya dirasakan bangsa sendiri, tapi juga oleh bangsa-bangsa lain.

Dua sosok dari Bali Utara di awal tulisan ini memang bukanlah orang penting dalam sistem-sistem sosial, politik, dan ekonomi kita. Namun, keduanya adalah orang penting dalam kebudayaan kita. Orang-orang seperti mereka berdualah yang kukira akan terus menjaga harmoni keindonesiaan kita, dan akan terus membuat kita optimistis bahwa ke depan, Indonesia tidak hanya akan baik-baik saja, tapi juga akan menjadi kiblat peradaban dan keadaban dunia. (*)

*) Pemandang budaya, tinggal di Bali

Editor : Ilham Safutra



Close Ads