alexametrics

Mewaspadai Janji Manis Ekonomi Digital

Oleh RAHMA SUGIHARTATI *)
5 Mei 2021, 20:50:18 WIB

BANYAK harapan digantungkan pada industri e-commerce. Di tengah kondisi perekonomian yang menurun akibat pandemi Covid-19, ekonomi digital sering disebut-sebut bakal menjadi salah satu tulang punggung bagi perkembangan perekonomian nasional.

Proyeksi Bank Indonesia (BI) melaporkan transaksi perdagangan secara elektronik (e-commerce) akan melonjak 33 persen dari Rp 253 triliun pada 2020 menjadi Rp 337 triliun pada 2021. Transaksi uang elektronik diperkirakan naik 32 persen dari Rp 201 triliun menjadi Rp 266 triliun. Sedangkan transaksi digital banking diprediksi tumbuh 19 persen dari Rp 27.000 triliun menjadi Rp 32.200 triliun.

Berbeda dengan sektor perekonomian konvensional yang bergantung pada interaksi tatap muka antara penjual dan pembeli, dalam ekonomi digital semua transaksi dilakukan di ruang virtual. Dengan berbekal gadget atau laptop dan dukungan internet, konsumen dapat berselancar untuk memilih produk-produk yang mereka inginkan.

Sementara itu, tanpa harus memiliki lapak-lapak dan konter tertentu, para penjual dapat menjajakan produknya di dunia maya. Cyber mal dan shopping online kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat postmodern. Tanpa harus pergi ke mal-mal, konsumen sekarang sudah bisa berbelanja barang yang diinginkan melalui transaksi daring dari rumah. Kemudahan seperti inilah yang membuat aktivitas perekonomian tidak mati meski mobilitas sosial dibatasi.

Sharing Economy

Bagi pelaku ekonomi yang sudah mapan dan tidak kesulitan menanamkan investasi perangkat elektronik, kesempatan yang ditawarkan ekonomi digital jelas sangat menguntungkan. Seperti dikatakan Christian Fuchs (2014) dalam bukunya, Digital Labour and Karl Marx, bahwa dominasi kapitalis tidak akan terhenti meski zaman sudah berubah ke era digital.

Dengan keahlian dan dukungan modal besar yang dimiliki, kapitalis akan mampu mempertahankan dan bahkan terus berekspansi merebut ceruk-ceruk pasar baru. Selama pandemi Covid-19, kita bisa melihat bahwa pelaku ekonomi berskala raksasa rata-rata makin meningkat tingkat penguasaannya pada pasar.

Alih-alih ceruk pasar mereka sebagian terserap pelaku ekonomi berskala kecil dan menengah, yang terjadi justru sebaliknya. Perkembangan economy sharing yang disebut-sebut menjadi jembatan bagi pelaku UMKM untuk memperluas pangsa pasar tidak selalu menjanjikan. Menjadi pemasok produk UMKM ke situs-situs penjual produk online memang sepintas tampak menguntungkan. Tetapi, apakah pembagian margin keuntungan antara pelaku UMKM dan kekuatan kapitalis pelaku ekonomi digital berjalan proporsional?

Sharing economy adalah sistem transaksi ekonomi baru di mana pelaku ekonomi menggunakan platform teknologi pihak ketiga yang cocok dengan penyedia dan pengguna untuk bertukar barang, jasa, dan ide dengan cara yang tidak mengalihkan kepemilikan. Menurut Schor (2014), aktivitas sharing economy terbagi dalam empat kategori besar: resirkulasi barang, peningkatan pemanfaatan aset tahan lama, pertukaran layanan, dan berbagi aset produktif.

Dewasa ini, istilah sharing economy sering digunakan untuk menggambarkan spektrum layanan, aktivitas, bisnis, dan mode konsumsi yang sangat luas. Oleh karena itu, sharing economy sering digunakan sebagai istilah umum atau digunakan secara bergantian dengan ”konsumsi kolaboratif”. Ide inti sharing economy adalah berbagi daripada memiliki.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads