alexametrics
Lingua

Imsakiyah

Oleh YUSUF M. RIDHO*
5 Mei 2019, 11:02:40 WIB

JawaPos.com – Besok (6/5) insya Allah umat Islam seluruh dunia mulai menjalani puasa 1440 Hijriah. Puasa merupakan ibadah fardu ain khusus saat Ramadan.

Satu kata yang bakal familier di telinga ialah “imsak”.

“Sepuluh menit lagi imsak. Yang belum sahur silakan segera sahur. Imsak kurang 10 menit lagi.” Peringatan yang dikumandangkan lewat pengeras suara masjid dekat rumah saya itu bakal menggelitik telinga selama sebulan penuh. Istilah imsak diudarakan menjelang salat Subuh. Begitu pula di masjid-masjid, musala-musala, surau-surau, atau langgar-langgar lain. Namun, hanya ada di Indonesia. Di negara lain tidak ada.

Apa itu imsak? Mungkin karena kadung begitu terkenalnya istilah tersebut di negeri ini, Kamus Besar Bahasa Indonesia sampai “terpaksa” mewadahinya. KBBI V versi daring mengartikan imsak sebagai, pertama, saat dimulainya tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum. Kedua, berpantang dan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sadik sampai datang waktu berbuka.

Jadi, makna imsak tidak lain adalah puasa itu sendiri. Puasa merupakan imsak dan imsak adalah puasa. Umat Islam diwajibkan berimsak mulai masuk waktu subuh sepanjang hari sampai matahari terbenam alias kala magrib. Sebab, imsak berasal dari kata amsaka – yumsiku – imsakan yang berarti menahan. Maksudnya, menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, dan semua hal yang membatalkan puasa.

Lalu, bagaimana peringatan yang selama ini kerap terdengar dari rumah Tuhan itu? Yang masih mengartikan imsak sama dengan waktu sekitar 10 menit sebelum waktu subuh sehingga secara syariat sebenarnya masih diperbolehkan untuk makan dan minum? Itulah salah kaprahnya.

Meski demikian, sebagian media cetak tanah air memasang jadwal “imsakiyah” setiap hari selama bulan suci tersebut. Termasuk Jawa Pos. Tentu yang paling dipelototi ialah deretan angka penunjuk waktu berbuka.

Bisanya perdebatan yang muncul: “Kok imsakiyah, pakai ‘Y’. Bukankah yang benar menurut kamus tanpa ‘Y’ alias imsakiah?”

Jawaban yang didapat, pada umumnya, “Yang populer kan imsakiyah, nggak ada yang nulis imsakiah.” Iseng saya mengetikkan kata imsakiah di mesin pencari Google. Muncullah keterangan: 66 hasil (0,27 detik). Lalu, imsakiyah. Wow: 1.270.000 hasil (0,40 detik). Ya sudah, disepakati memakai imsakiyah.

Jadi, jangan heran jika harian Jawa Pos membenarkan… eh memakai imsakiyah. Toh, yang hidup di masyarakat juga madrasah diniyah, ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah. Juga, Muhammadiyah.

Namun, kami tetap memakai tausiah, hadiah, jahiliah (berkategori nomina); kuliah (bergolongan kata nomina atau verba, bergantung konteks kalimat); serta ilmiah, alamiah, rohaniah, badaniah, lahiriah, insaniah, Hijriah (berkelas kata adjektiva/sifat) dan -iah–iah lainnya. Meski, di tulisan asalnya ada huruf ke-29 abjad Arab, ya (í).

Kok tidak mengikuti kaidah akhiran -iyyatun dalam bahasa Arab menjadi -iyyah jika bunyi akhir tun tidak dilafalkan dan bunyi -iyyah itu ditulis dengan i-a-h saja menjadi -iah, bukan -iyah?

Fungsi sufiks -iah sebenarnya membentuk kata benda menjadi kata sifat dan mempunyai makna gramatikal “memiliki sifat”. Kata alamiyyatun dan alamiyyah dalam bahasa Arab menjadi “alamiah” dalam bahasa Indonesia. Artinya “memiliki sifat alam”. Kata dasarnya “alam”.

Namun, itu tidak berlaku bagi kata imsakiyah. Meski imsak berkategori kata benda, kalau sudah memperoleh akhiran -iyah (menjadi imsakiyah), artinya bukan “memiliki sifat imsak”. Keduanya tetap nomina. Saat imsakiah dilafalkan/diucapkan/dibunyikan imsakiyah pun, maknanya tidak akan berubah. Yaitu, jadwal yang menetapkan waktu salat, termasuk imsak, setiap hari.

Terlebih, menurut Ferdinand de Saussure, salah seorang Bapak Linguistik Modern asal Swiss, bahasa itu arbiter. Yakni, sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, manasuka. Yang penting, sekali lagi, ada kesepakatan. Disepakati untuk diterapkan. Di kehidupan sehari-hari. Baik langsung maupun tidak langsung. Karena itulah, kami menyepakati ada yang -iah dan ada yang -iyah.

Kok tidak konsisten? Konsisten lah. Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia V edisi daring, konsisten dimaknai tetap (tidak berubah-ubah). Jadi, konsisten itu seperti usia manusia. Sepuluh tahun lalu, kalau Anda tanya umur saya, saya jawab 27 tahun. Sekarang, jika kita bertemu lagi dan Anda kembali bertanya tentang umur saya, dengan mantap dan istiqamah saya jawab, 27 tahun!

Eh, ngomong-ngomong, kayaknya lebih enak jadwal sahuriyah atau bukaiyah daripada imsak. Soalnya, dua kata itu lebih bermakna bagi orang yang berpuasa. Selamat berimsak! (*)

*) Penyelaras bahasa Jawa Pos

Editor : Ilham Safutra

Alur Cerita Berita

Lihat Semua