alexametrics

Kekebalan Nama (Diri)

Oleh Agus Sri Danardana*
5 Januari 2020, 17:32:29 WIB

SEKALIPUN Shakespeare (melalui Juliet dalam Romeo and Juliet) mengatakan, ”Apalah arti sebuah nama,” bagi banyak orang (Indonesia utamanya), nama adalah doa dan diyakini sebagai sumber energi.

Menurut Arkand Bodhana Zeshaprajna, ahli metafisika dari University of Metaphysics International Los Angeles, California, Amerika Serikat, melalui nama itulah objek dikenal dan kekuatan laten dalam nama itu diaktifkan.

Nama Amir, Soeharto, dan Naratungga, misalnya, termaktub harapan (doa) agar (kelak) penyandangnya menjadi pemimpin, kaya, dan terpilih. Ketiga nama itu, bahkan, juga dapat merujuk pada identitas/jati diri: Amir (Islam), Soeharto (Jawa), dan Naratungga (Indonesia).

Belakangan ini, persoalan penulisan nama diri kembali marak diperbincangkan. Pemantiknya adalah pemutakhiran KBBI Daring terbaru (minggu kedua November 2019). Pada kamus itu terdapat perubahan enam ejaan nama diri kata serapan bahasa Arab: Alquran menjadi Al-Qur’an; Baitulmakdis menjadi Baitulmaqdis; Kakbah menjadi Ka’bah; Lailatulkadar menjadi Lailatulqadar; Masjidilaksa menjadi Masjidilaqsa; dan Rohulkudus menjadi Ruhulqudus (kbbi.kemendikbud.go.id).

Sungguh, setiap bahasa memiliki sistem ejaannya sendiri. Bahasa Indonesia, misalnya, mengubah kata massive (Inggris) serta ummat dan kulliyah (Arab) menjadi masif, umat, dan kuliah karena tidak mengenal tasydid ’pengulangan/penekanan huruf’. Kalaupun bahasa Indonesia memiliki kata massa ’orang banyak’, hal itu semata-mata untuk membedakannya dengan kata masa ’waktu, kala, jangka’.

Penyesuaian ejaan seperti itu terjadi pada bahasa apa pun. Bahasa Inggris, misalnya, menyerap al-kuhli dan manaaraat menjadi alcohol dan minaret. Sementara itu, bahasa Arab menyerap pos dan Petrus menjadi bushthah dan Butros.

Bahkan, penulisan nama Muhammad pun terdapat banyak varian, seperti Muhamad, Muchammad, Mohamad, dan Muhammed. Konon, orang-orang Arab di Afrika Utara (seperti Mesir) juga kerap menuliskan u dengan o dan sy dengan sh: Umar Syarif ditulis Omar Sharif.

Contoh itu menegaskan bahwa bahasa sungguh-sungguh arbitrer (manasuka), unik, dan lahir atas kesepakatan. Lalu, salahkah pemutakhiran KBBI Daring pada minggu kedua November 2019 itu?

Tentu tidak salah. Toh bahasa itu berkembang. Namun, bukankah penulisan nama diri memiliki kekebalan: boleh tidak sesuai dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia? Buktinya, masih banyak orang yang menulis namanya dengan apostrof (’), oe, dan dh, seperti Mu’jizah, Soeharto, dan Dharma.

Atas dasar itu, pemutakhiran KBBI Daring pada minggu kedua November 2019 itu justru membuka kontroversi. Mengapa? Karena, di samping dikhawatirkan akan mengancam kearbitreran dan keunikan bahasa Indonesia, pemutakhiran itu juga menodai kesepakatan yang telah ada.

Sebagai akibatnya, perubahan enam ejaan atas nama diri kata serapan bahasa Arab itu memaksa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sebagai pemegang otoritas kebahasaan, untuk memilih: menambah daftar perkecualian penulisan (seperti Tuhan Yang Maha Esa dan Bhinneka Tunggal Ika) atau mengubah kaidah ejaan.

Celakanya, apa pun pilihannya tetap mengandung risiko karena, konon, salah satu penentu bahasa itu mudah dipelajari adalah kukuhnya kaidah dan sedikitnya perkecualian. (*)

*) Peneliti ahli madya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Editor : Ilham Safutra


Close Ads