alexametrics

Perlukah Anak SD Diimunisasi Covid-19?

Oleh DOMINICUS HUSADA *)
4 Oktober 2021, 19:48:51 WIB

KABAR membahagiakan datang dari Pfizer/BioNTech menyangkut hasil uji klinis pada anak berusia 5–11 tahun. Sekalipun belum dipublikasikan di jurnal kedokteran, pengumuman pers perusahaan menyebutkan, hasil uji ternyata memuaskan. Keamanan vaksin tetap terjaga dan upaya perlindungan sangat baik. Hasil itu relatif tidak mengejutkan karena secara umum kita bisa menggunakan data pada anak 12–17 tahun, yang telah lebih dahulu digunakan, sebagai perbandingan.

Pfizer menjadi perusahaan ketiga yang mengeluarkan hasil uji klinis. Dua perusahaan lain yang juga sudah menyampaikan hasil penelitian mereka adalah vaksin Sinovac dan Sinopharm dengan usia termuda adalah 3 tahun. Sesuai peraturan di Amerika Serikat (AS), diperkirakan izin darurat dari FDA bagi vaksin Pfizer, dan kemungkinan juga Moderna yang segera menyusul, akan dikeluarkan di akhir Oktober 2021.

Semua vaksin pada anak usia sekolah dasar (SD) berusia 5–11 tahun menggunakan komponen yang sama dengan kelompok usia di atasnya, namun dalam dosis yang lebih kecil. Para ahli sebenarnya tidak mengkhawatirkan manfaat klinis untuk penerima vaksin. Para ahli lebih khawatir mengenai efek simpang vaksin.

Laporan Sinovac menyebutkan beberapa gejala dan tanda, seperti panas badan, yang jelas berbeda dengan kelompok usia 12 tahun ke atas. Hal itu juga yang menjadi salah satu bahan pertimbangan para ahli Indonesia dalam ITAGI untuk menahan rekomendasi penggunaan vaksin tersebut pada usia di bawah 12 tahun. Di negara maju vaksin inaktif Tiongkok kurang mendapat perhatian karena perbedaan standar yang digunakan. Namun, di dunia berkembang dua vaksin tersebut memperoleh porsi sangat besar.

Sebenarnya jumlah subjek dalam uji klinis anak sangat terbatas. Hanya ada 1.000–3.000 anak yang dilibatkan pada setiap vaksin. Jumlah yang sedikit membuat sebagian efek simpang yang relatif lebih jarang ditemukan tidak akan muncul. Penelitian vaksin standar di negara seperti AS memerlukan sedikitnya 30 ribu subjek. Hal itu merupakan perbaikan peraturan setelah muncul kasus invaginasi pada penggunaan vaksin rotavirus generasi pertama yang saat ini sudah dilarang beredar.

Perkecualian tentu diberikan dalam konteks pandemi. Izin yang dikeluarkan pun bukan izin penuh. Bagi vaksin yang menggunakan dosis lebih besar seperti Moderna, kekhawatiran efek simpang tentu lebih besar lagi. Vaksin Moderna menggunakan dosis sekitar tiga kali lipat vaksin Pfizer dan menghasilkan respons kekebalan yang lebih baik. Tentu saja keluhan subjek yang menerima vaksin berdosis lebih besar cenderung lebih banyak.

Secara medis semua ahli sepakat bahwa vaksin Covid-19 bermanfaat untuk anak SD. Tidak ada keragu-raguan sedikit pun untuk hal tersebut. Itu sebabnya, semua ahli menilai pada saatnya semua anak akan memperoleh vaksin. Ketakutan akan efek simpang yang relatif jarang akan ditutup dengan pengawasan yang lebih ketat setelah vaksin diberikan dalam jumlah besar. Hal ini sebenarnya sudah inheren setiap kali izin edar dikeluarkan. Kasus peradangan otot jantung pada penerima vaksin mRNA berusia muda yang tidak muncul saat uji klinis ternyata langsung bisa terdeteksi pada fase ini.

Saat ini sudah cukup banyak negara yang memberikan vaksin Covid-19 pada usia 12–17 tahun. Beberapa negara bahkan juga sudah memberikan pada usia di bawah 12 tahun. Sebagai contoh, Tiongkok melakukan pada anak kurang dari 12 tahun dengan dua vaksin inaktif mereka, UEA memberikan dengan vaksin Sinopharm, dan Cile mulai akhir September ini memberikan vaksin Sinovac.

Negara yang memberikan vaksin anak dalam skala besar biasanya adalah negara yang sudah mencapai cakupan imunisasi kelompok dewasa dan lansia yang tinggi. UEA dan Cile termasuk deretan negara dengan cakupan vaksin Covid-19 paling tinggi di dunia. Tiongkok dikabarkan telah mendistribusikan sekitar hampir dua miliar vaksin.

Negara berangka cakupan yang masih rendah tidak banyak yang melakukan pada anak. Hal itu bisa dipahami karena prioritas tertinggi masih pada kelompok lansia, orang dengan komorbid, serta orang dewasa lainnya. Proporsi kelompok anak relatif rendah, kecuali di beberapa negara seperti Indonesia, India, dan AS.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads