alexametrics

Kematian Dokter di Tengah Pandemi

Oleh BRAHMANA ASKANDAR *)
4 September 2020, 19:48:02 WIB

IKATAN Dokter Indonesia (IDI) telah mengumumkan bahwa jumlah dokter meninggal yang terkonfirmasi Covid-19 mencapai 100 orang. Data yang dirilis pada 31 Agustus 2020 itu sangat memprihatinkan. Kematian tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di Asia.

Pada 2017 rasio dokter dan penduduk sekitar 47 per 100.000. Artinya, 1 dokter untuk 2.100 penduduk. Itu berarti kematian 100 dokter bisa mengganggu layanan kesehatan sekitar 210.000 penduduk. Ini masih hitungan secara kasar. Hitungan lebih fokus yang dihubungkan dengan Covid-19 menunjukkan bahwa jumlah spesialis yang melayani langsung pasien korona di rumah sakit (RS) sangat terbatas. Terdiri atas spesialis paru, spesialis anestesi/intensive care, dan spesialis penyakit.

Di seluruh Indonesia hanya terdapat sekitar 1.200 dokter spesialis paru, sekitar 4.600 spesialis penyakit dalam, sekitar 2.300 spesialis anestesi, dan sekitar 350 dokter intensive care. Jumlah yang sangat terbatas untuk 267 juta penduduk Indonesia. Di Jawa Timur saja hanya ada 151 dokter spesialis paru dan 257 dokter spesialis anestesi untuk 38 juta penduduk.

Kematian dokter dan nakes semoga tidak berlanjut terus karena dampaknya sangat luar biasa. Dokter yang gugur tidak serta-merta bisa digantikan dengan mendidik dokter baru secara cepat dengan kualifikasi sama. Dokter seperti konsultan intensive care memerlukan waktu pendidikan yang lama, yakni 6 tahun pendidikan dokter, 5 tahun pendidikan spesialis, dan 2 tahun pendidikan konsultan.

Gugurnya dokter, perawat, dan nakes bisa berdampak pada layanan pasien Covid-19. Masyarakat tidak boleh jadi korban Covid-19. Untuk itu, perlu layanan kesehatan yang baik; perlu dokter dan nakes yang cukup.

Paparan Covid ke Dokter

Dari 100 dokter yang meninggal selama pandemi, bukan semuanya dokter yang bertugas di ruang isolasi khusus pasien Covid atau ruang perawatan intensif pasien Covid. Hal itu menunjukkan bahwa mungkin dokter yang bertugas di ruang khusus Covid dan ruang perawatan intensif saat bertugas telah menggunakan alat pelindung diri (APD) terbaik dan sejak awal dengan kewaspadaan tingkat tinggi.

Dokter bisa terpapar dari mana pun. Sebagai gambaran, dokter tidak mungkin memilah mana pasien Covid dan non-Covid saat berpraktik. Karena tidak mungkin melakukan tes cepat untuk memilah pasien di poliklinik. Dokter bisa terpapar dari pasien, keluarga pasien, sesama dokter, nakes, teman, dan saudara. Sebab, selain memberikan pelayanan kesehatan, dokter menjalankan aktivitas sosial layaknya masyarakat umum.

Di Surabaya ada delapan dokter anggota IDI yang telah meninggal. Perinciannya, 1 dokter sudah tidak berpraktik aktif, 1 dokter spesialis anestesi dan intensive care, 1 dokter penyakit dalam, 2 dokter sedang menempuh pendidikan spesialis di RS rujukan Covid-19, 1 dokter jaga UGD, 1 dokter praktik umum, dan 1 dokter spesialis bedah tulang.

Data IDI Jawa Timur menunjukkan, dari semua dokter yang meninggal, 26 persen melakukan praktik pribadi, 22,2 persen bekerja di puskesmas, dan 18,5 persen merupakan dokter spesialis. Artinya, paparan Covid-19 yang dialami dokter tidak selalu berasal dari ruang perawatan khusus di RS. Paparan bisa datang dari mana pun.

Dokter bisa terpapar dari sesama dokter saat di RS ataupun di luar RS. Dokter bisa terpapar dari sesama dokter saat menghadiri rapat, bahkan saat beraktivitas santai seperti olahraga bersama. Hal itu mengingatkan akan pentingnya selalu mematuhi protokol kesehatan dalam setiap kesempatan. Sesuai aturan, dokter bisa menjalankan praktik di tiga tempat sehingga risiko paparan makin tinggi. Belum lagi bila suami istri sama-sama dokter dan masing-masing berpraktik di tiga tempat. Maka potensi paparan kian meningkat.

Tentu tidak mungkin membatasi dokter berpraktik hanya di satu tempat. Sebab, akses masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan dari dokter bisa makin sulit. Apalagi di tengah kondisi pandemi dan keterbatasan jumlah dokter. Selama enam bulan pandemi, sebagian dokter yang terlibat langsung layanan Covid-19 sering kali bekerja lembur demi kesehatan pasiennya sehingga daya tahan tubuh menurun.

Menggantikan peran mereka tidak mudah, mengingat kompetensinya sulit digantikan dokter lain. Kombinasi paparan yang tinggi, daya tahan tubuh yang turun, apalagi bila disertai keterbatasan alat pelindung diri, membuat dokter sangat rentan terpapar Covid-19.

Upaya Pencegahan

Sebagian besar dokter berpraktik di fasilitas kesehatan atau RS. Untuk itu, peran RS penting dalam memberikan perlindungan kepada dokter dan nakes dari kemungkinan paparan dan kematian Covid-19. RS harus mengatur waktu jam kerja dokter dan nakes sedemikian rupa agar para dokter mempunyai waktu istirahat cukup. Ketersediaan APD yang standar juga harus dijamin.

RS juga perlu mengidentifikasi penyakit komorbid pada dokter dan nakes. Misalnya usia lanjut, diabetes melitus, hipertensi, obesitas, penyakit paru, dan kardiovaskuler, harus diatur secara khusus waktu dan tempat kerjanya. Sebab, bila terpapar Covid-19, akibatnya bisa fatal.

Nakes harus mendapat fasilitas pemeriksaan swab PCR rutin untuk memutus rantai penularan. Masyarakat dan nakes harus berkomitmen bersama mencegah penularan dengan mematuhi protokol kesehatan. Bila rantai tidak diputus, fasilitas kesehatan bisa kewalahan. Layanan kesehatan bisa lumpuh. Dokter dan nakes berguguran dan akhirnya memengaruhi layanan terhadap pasien Covid-19. Rakyat Indonesia harus tetap sehat. Jangan sampai menjadi korban Covid-19 dan harus mendapatkan perawatan terbaik. Semoga dokter, nakes, dan seluruh rakyat Indonesia tidak berguguran dan menang melawan Covid-19. Harapan selalu ada. (*)


*) Brahamana Askandar, Ketua IDI Surabaya, dosen Fakultas Kedokteran Unair

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads