alexametrics

Menagih Pancasila Sebagai Etika Sosial-Politik Indonesia

Oleh: Muhammad Elfiansyah Alaydrus
4 Juni 2021, 20:47:24 WIB

LAYAKNYA seperti tradisi tahunan, setiap tanggal 1 Juni kemarin para pimpinan lembaga negara, pimpinan organisasi, bahkan kita sendiri berbondong-bondong meng-upload ucapan “Selamat Hari Lahir Pancasila” pada laman media sosialnya. Entah untuk membuktikan seberapa Pancasialis diri kita atau hanya ikut rame. Fenomena jargon tanpa makna ini mesti dihentikan dari sekarang!

Sudah saatnya untuk bersungguh-sungguh berpikir apa guna Pancasila bagi bangsa Indonesia. Sekedar alat “gebuk” lawan politik yang tak sejalan dengan pemerintah, serta mengukur seberapa luas wawasan kebangsaan beberapa pegawai KPK?. Agar lebih berguna, yang harus kita dilakukan ialah mengkukuhkan Pancasila sebagai landasan etika sosial-politik bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Pancasila butuh ditafsirkan dengan lebih detil agar memungkinkan untuk diimplementasikan hingga pada level diri setiap warga.

Kita akan menafsir Pancasila dimulai dari sila kelima. Kata kunci dalam sila ini ialah keadilan sosial; adil dan sosial. Kata adil tidak bisa direduksi hanya menjadi persoalan adil dalam arti materil saja. Sebab, adil merupakan serapan dari bahasa Arab; ‘adl yang artinya sama, lurus. Dari sini adil berarti tidak berpihak (lurus) karena bersikap sama pada setiap kenyataan, kalaupun harus berpihak maka hanya berpihak kepada kebenaran.

Saya menyimpulkan bahwa adil adalah suatu sikap atau tindakan yang berlandaskan pada kebenaran. Sedangkan sosial, berasal dari kata latin socius yang artinya teman. Saya terjemahkan sebagai interaksi yang dihasilkan antar individu hingga kelompok. Dengan demikian saya menafsirkan keadilan sosial sebagai sebuah tindakan yang melahirkan interaksi antar individu hingga kelompok yang berlandaskan pada kebenaran.

Apa maksud yang benar di sini? Kita sering membolak-balikan antara yang benar dan yang baik. Yang baik kita anggap yang benar, sehingga apabila kita melakukan korupsi karena itu baik bagi kita hingga kita bisa hidup mewah, bisa memastikan kebutuhan keluarga, maka tindakan korupsi menjadi tindakan yang benar bagi kita. Yang baik belum tentu yang benar tetapi yang benar pasti adalah yang baik. Korupsi adalah tidak benar sehingga sudah pasti merusak keadilan.

Kenapa keadilan dan kebenaran hal yang sama? Mari kita ambil contoh; sebuah pelanggaran HAM berat; kejahatan terhadap kemanusiaan. Mengapa sebuah pelanggaran HAM disebut merusak rasa keadilan seseorang atau orang banyak? Karena melanggar HAM dengan menghilangkan nyawa orang lain, misalnya, adalah tindakan yang tidak benar. Karena itu tindakan tidak benar dan berhubungan dengan individu dan kelompok lain (sosial), maka tindakan tersebut akan merusak keadilan sosial.

Editor : Kuswandi

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads