alexametrics

Madrasah dan Kemandirian Digital

Oleh MOH. ISHOM *)
4 Mei 2022, 21:19:56 WIB

TRANSFORMASI digital menjadi proses tak terelakkan dalam pertumbuhan masyarakat. Namun, apa sejatinya makna digital dan transformasi digital belum benar-benar terjawab secara memuaskan.

Kata digital memang tidak bisa dipisahkan dari teknologi. Oleh karena itu, sebagian orang mengatakan bahwa digital adalah teknologi. Bagi para pebisnis, digital adalah cara baru memperlakukan customer. Ada juga yang bilang bahwa digital merepresentasikan seluruh cara baru dalam menjalankan bisnis.

Namun, ada yang menarik dari pemetaan yang dilakukan Karel Dörner dan David Edelman (pimpinan senior di Digital McKindsay Jerman) terhadap berbagai definisi digital tersebut. Ada tiga cakupan penting dari kata digital. Pertama, menciptakan nilai pada batas baru dunia bisnis. Kedua, menciptakan nilai dalam proses eksekusi sebuah visi pengalaman customer dan ketiga, membangun kapasitas dasar yang mendukung seluruh struktur.

Ada sejumlah kata kunci penting dalam pemetaan tersebut. Pertama adalah menciptakan nilai. Nilai ini bisa dimaknai beragam, termasuk kebermanfaatan, kepuasan, kebermudahan, dan pengalaman baru. Kedua, membangun foundational capabilities (kapasitas-kapasitas dasar) untuk mendukung seluruh struktur, apa pun struktur itu, bisa berupa struktur masyarakat, sistem pendidikan, politik, dan sebagainya. Ketiga adalah bisnis. Digitalisasi selalu berujung pada bisnis (dalam makna yang luas, bisa bisnis pendidikan dan sebagainya). Keempat, pengalaman baru customer.

Digitalisasi mempermudah dan ”memanjakan” customer. Customer tidak hanya cukup dimaknai sebagai pembeli, tetapi juga user. Digitalisasi dalam pendidikan, misalnya, customer-nya adalah siswa, orang tua ataupun pengguna (user) alumni.

Dari sini kiranya bisa dikatakan, transformasi digital merupakan integrasi teknologi digital ke dalam semua area bisnis, yang secara mendasar mengubah bagaimana kita mengoperasikan dan menyampaikan nilai kepada customer. Transformasi digital juga berkaitan dengan perubahan budaya yang membutuhkan organisasi-organisasi untuk secara terus-menerus menantang status quo, eksperimen, dan menjadi nyaman dengan kegagalan.

Salah satu kunci yang tak bisa diabaikan dalam transformasi digital adalah munculnya talenta digital masyarakat. Bahkan, pemerintah menargetkan pada 2030 Indonesia harus memiliki 9 juta talenta digital, yang terampil dan siap bersaing di dunia global. Talenta digital ini menjadi prasyarat agar Indonesia tidak ketinggalan di tengah perkembangan revolusi industri 4.0 yang makin cepat. Lantas, apa yang telah dan akan dipersiapkan oleh madrasah dalam membangun kemandirian digital?

Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah sebagai induk pendidikan madrasah di seluruh Indonesia senantiasa merespons semangat zaman tersebut. Ada dua program penting yang merespons transformasi digital tersebut, yakni Kompetisi Robotik Madrasah (KRM) dan Akademi Madrasah Digital (AMD).

KRM adalah program tahunan sejak 2015. Kegiatan itu didorong oleh menjamurnya kegiatan ekstrakurikuler robotik di madrasah dan pencapaian prestasi di bidang robotika oleh siswa-siswi madrasah, baik tingkat nasional maupun internasional, sejak 2013. Dalam robotika, banyak unsur yang dipelajari, mulai imajinasi, kreativitas, rancang bangun, sensor, otomasi, hingga pengoperasian internet of things (IoT). Bukan hanya itu, teamwork atau kolaborasi juga menjadi nilai tersendiri dalam kompetisi ini. Kolaborasi adalah cara baru dalam berkarya, begitulah kata Rhenald Kasali, inisiator Rumah Perubahan.

Peserta diminta merespons persoalan di sekitar lingkungannya. Bahkan, dua tahun terakhir, Direktorat KSKK Madrasah memberikan tema spesifik dalam kompetisi. Ketika Indonesia sering dilanda bencana alam pada 2019, KRM mengusung tema: Robots Save the Earth. Ketika dunia dilanda pandemi Covid-19, KRM mengusung tema: Robots for Global Pandemic.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads