alexametrics

Vaksin vs Mutan

Oleh DOMINICUS HUSADA *)
4 Mei 2021, 19:48:23 WIB

KENYATAAN bahwa sudah lebih dari 1 miliar dosis vaksin Covid-19 disuntikkan kepada manusia di berbagai negara di seluruh dunia sungguh menggembirakan. Memang masih ada kesenjangan yang besar antarnegara. Namun, saat ini kita sedang menapak di jalan yang relatif tepat.

Ada beberapa pertanyaan dan penghalang dalam kaitan dengan vaksinasi massal ini. Salah satu di antaranya menyangkut virus mutan. Laporan tentang mutan datang dari banyak negara dan memang sangat perlu diwaspadai atau bahkan ditakuti.

Mutasi virus sebagaimana makhluk hidup lain akan senantiasa terjadi dan tidak mungkin dihindari. Masih untung kemampuan mutasi virus SARS-CoV-2 relatif tidak seganas virus influenza, apalagi virus HIV. Ibaratnya, virus Covid-19 ini masih relatif bayi. Sekalipun demikian, virus asli yang diidentifikasi di Wuhan praktis sudah tidak lagi didapatkan di dunia dan berganti dengan virus mutan alias yang sudah mengalami pergantian sekuen genetik yang bervariasi.

Secara internasional, mutasi virus ini membuat penggolongan menjadi lebih rumit dan hingga saat ini berbagai kesepakatan telah dicapai dalam hal identifikasi dan penamaan. Mutan yang diwaspadai dikategorikan sebagai variant of interest (VOI). Jika VOI dibarengi dengan peningkatan kemampuan transmisi atau keganasan atau mengakibatkan khasiat vaksin menurun, kategori meningkat menjadi variant of concern (VOC).

Beberapa mutan yang paling terkenal saat ini adalah B117 (Inggris), B1351 (Afrika Selatan), dan P1 (Brasil). Belakangan muncul virus dari India, B1617, dengan mutasi ganda yang dianggap berbahaya di dalamnya.

Antibodi yang diperoleh seorang pasien ketika sembuh dari infeksi SARS-CoV-2 tidak semuanya sanggup bertahan menghadapi mutan. Sejauh ini telah dilaporkan beberapa kasus infeksi ulang pada kelompok mantan penderita di berbagai negara. Mutan juga mampu membuat uji diagnostik memberikan hasil palsu jika gen yang diuji mengalami mutasi.

Para peneliti dan produsen vaksin Covid-19 sudah menaruh perhatian khusus terhadap para mutan, bahkan sejak uji klinis pertama dilakukan. Pfizer, misalnya, adalah salah satu yang langsung menguji varian mutan baru dengan vaksin miliknya di kesempatan pertama. Mereka mendapatkan bahwa varian B117 dan P1 masih bisa ditanggulangi. Adapun untuk B1351, vaksin masih bisa digunakan sekalipun kemampuannya jauh lebih rendah dibandingkan menghadapi virus ”asli”.

Syarat efikasi 50 persen dari WHO adalah batas terendah. Jika vaksin masih mampu berfungsi di atas batas tersebut, kita boleh tetap yakin akan kemampuannya. Berdasar hasil penelitian tersebut, Pfizer tidak mengubah desain awal untuk program di AS dan negara lain. Pfizer menyiapkan vaksin baru yang dimodifikasi untuk persiapan vaksin ulangan atau boster.

Vaksin mRA lain milik Moderna memberikan hasil yang setara dengan milik Pfizer. Vaksin efektif untuk varian Inggris dan Brasil, namun kehilangan banyak kekuatan menghadapi varian Afrika Selatan (hingga 6–8 kali lipat) sekalipun masih dalam batas yang bisa diterima.

Vaksin berbasis virus adeno yang juga ada di Indonesia, milik Oxford/AstraZeneca, bertahan baik menghadapi varian Inggris, tapi rontok di Afrika Selatan. Hal ini membuat pemerintah Afrika Selatan membatalkan pemesanan vaksin Oxford dan menggantinya dengan vaksin berbasis serupa milik J&J dari AS.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads