Membaca Situasi Covid-19 pada 2022

Oleh ARI BASKORO *)
4 Januari 2022, 19:48:54 WIB

MENJELANG dua tahun pandemi Covid-19 melanda dunia, belum ada suatu tanda bahwa wabah tersebut akan berakhir. Sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020, penyakit itu telah menimbulkan dampak signifikan bagi kehidupan manusia. Setidaknya, hingga menjelang tutup tahun 2021, lebih dari 278 juta penduduk dunia telah terinfeksi. Dari jumlah tersebut, hampir 5,5 juta meninggal karenanya.

Amerika Serikat (AS) merupakan negara dengan jumlah korban terbesar di dunia. Sementara Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dengan total kasus terkonfirmasi positif mendekati 4,3 juta orang. Jumlah korban meninggal dilaporkan hampir 145 ribu jiwa. Dengan munculnya varian virus baru yang dilabeli sebagai Omicron, kekhawatiran akan tetap berlangsungnya pandemi menjadi tidak terbendung lagi. Akankah Covid-19 dengan berbagai macam variannya masih akan ”mendominasi” masalah global? Atau sebaliknya, kehidupan manusia akan kembali pulih dan mampu ”mengambil alih” kendali terhadap Covid-19?

Menganalisis keberlangsungan pandemi tak ubahnya analogi suatu prediksi pertandingan sepak bola. Seorang pengamat akan menakar dengan saksama antara keunggulan dan kelemahan masing-masing ”kubu kesebelasan”.

Kubu” Virus (SARS-CoV-2)

Sejak mulainya wabah yang diawali dari Wuhan, Tiongkok, pada Oktober 2019, para pakar kesehatan di seluruh dunia berusaha keras mempelajari sifat-sifat virus Covid-19. Berbagai upaya riset dilakukan untuk menaklukkan virulensi mikroba tersebut. Mutasi yang kerap terjadi pada SARS-CoV-2 merupakan suatu ”keunggulan” virus yang sulit diprediksi. Virus mutan tidak selalu menimbulkan akibat yang merugikan terhadap kehidupan manusia. Namun, bila terjadi sebaliknya, bisa disertai bahaya besar.

Perhitungan para ahli difokuskan pada kemampuan virus ini dalam menginfeksi seseorang. Dampak infeksi yang berpotensi lebih mematikan merupakan sisi penting ”keunggulan” virus yang sangat dikhawatirkan. Peningkatan ”daya gedor” virus korona lainnya adalah kemampuannya menghindari sergapan sistem imun. Sebenarnya sistem imun yang mumpuni bisa diinduksi melalui vaksinasi atau setelah sembuh dari infeksi alamiah (penyintas Covid-19).

Namun, imunitas tersebut hanya berlangsung dalam waktu yang relatif terbatas (sekitar enam bulan). ”Kelincahan” virus menghindari sistem imun berdampak pada menurunnya efektivitas vaksin dan pengobatan yang berbasis antibodi. Terapi plasma konvalesen yang mengandung antibodi dalam titer tertentu dipastikan akan menghadapi kendala/kegagalan.

Hingga menjelang akhir tahun 2021, dari sisi ”kesebelasan” virus, para ahli memusatkan perhatiannya pada dua ”pemain kunci”. Varian Delta yang telah banyak menimbulkan dampak pada tingginya angka perawatan di rumah sakit dan kematian masih menjadi ”bintang”. Dalam beberapa riset, varian yang untuk kali pertama dilaporkan di India ini juga mampu menurunkan efektivitas vaksin.

Omicron sebagai ”striker” teranyar mampu menyedot perhatian para ahli. Daya tularnya yang meningkat berkali-kali lipat dibanding varian Delta sangat mencemaskan berbagai pihak. Perkembangan terakhir menunjukkan kontribusinya pada peningkatan harian jumlah kasus Covid-19 yang sangat pesat. Itu terutama terjadi di beberapa negara Eropa dan AS.

Dari sisi jumlah kasus baru yang dilaporkan, saat ini Omicron telah mampu mengambil alih dominasi varian Delta. Selain daya tularnya, ”kehebatan” varian baru ini disertai juga dengan ”kelincahannya” berkelit dari sergapan sistem imun/antibodi.

Menurut riset, hampir semua vaksin yang tersedia saat ini menurun kemampuannya dalam menghadang varian anyar ini. Fakta itulah yang dapat menerangkan kenapa Omicron masih dapat menular pada seseorang yang telah menjalani vaksinasi lengkap. Antibodi pada penyintas juga tidak mampu membendung terjadinya infeksi ulang bila terpapar Omicron.

Kolaborasi genetika antara varian Delta dan Omicron yang disebut sebagai Delmicron tidak mempunyai basis ilmiah sama sekali. Berita tentang Delmicron hanya suatu ilusi yang justru dapat menimbulkan kepanikan.

Dalam hal pemeriksaan PCR, penggunaan gen target S (spike) bisa luput untuk mendeteksi Omicron. Ini bisa terjadi karena terdapat banyak titik mutasi pada segmen tersebut. Tetapi, gen target lainnya masih dapat mendeteksinya dengan baik. Justru adanya fenomena ini (S gene target failure/SGTF) merupakan indikasi awal adanya Omicron. Tindakan selanjutnya adalah memastikannya dengan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS).

”Untungnya”, beberapa profil ”keunggulan” Omicron tidak disertai dengan kemampuannya menimbulkan dampak klinis yang lebih mematikan. Setidaknya hingga saat ini pengamatan para ahli menyimpulkan bahwa Omicron tidak seganas varian Delta. Namun, kekhawatiran pada pesatnya peningkatan jumlah kasus dalam waktu yang singkat diprediksi dapat ”melumpuhkan” layanan fasilitas kesehatan yang tersedia.

Kubu” Manusia

Berbicara tentang benteng pertahanan manusia dalam menghadapi gempuran virus Covid-19, protokol kesehatan (prokes) terbukti sangat ampuh. Bila digunakan secara benar, masker sebagai palang pintu utama dapat mengurangi risiko paparan virus secara signifikan. Persoalannya hanya pada sisi konsistensinya. Abai menjalankan prokes merupakan titik lemah manusia yang bisa dimanfaatkan virus untuk menyerang.

Lini kedua pertahanan manusia adalah vaksinasi. Vaksin dapat meningkatkan daya pertahanan tubuh manusia melalui aktivitas berbagai komponen sistem imun. Bukan hanya imunitas humoral yang indikatornya berupa antibodi netralisasi, tetapi juga imunitas seluler/limfosit T. Peran sel memori sistem imun bagaikan ”playmaker” yang andal. Komponen tersebut mampu dengan cepat merespons serangan virus berikutnya dan segera mengendalikan serangan balik.

Walaupun tidak seluruh gempuran virus dapat dihadang, vaksinasi sudah terbukti ampuh mengurangi risiko fatalitas penyakit secara signifikan. Untuk meningkatkan kemampuan sistem pertahanan ini, booster vaksin sangat diperlukan. Ibarat ”pemain pengganti” yang masih bugar, booster vaksin dapat meningkatkan kinerja sel memori sebagai ”playmaker”. Menurut riset terakhir, paparan Omicron tidak cukup dipertahankan dengan vaksinasi primer sebanyak dua dosis.

”Striker” andal yang dimiliki kubu manusia adalah obat antivirus. Saat ini sudah ditemukan obat yang dapat melumpuhkan serangan Covid-19. Molnupiravir dan Paxlovid (terdiri dari Nirmatrelvir dan Ritonavir) sudah mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) dari Food and Drug Administration/FDA (BPOM-nya AS). Obat dalam bentuk pil itu sangat efektif bila digunakan sesegera mungkin setelah terkonfirmasi positif Covid-19. Sebaiknya tidak lebih dari waktu lima hari.

Memprediksi masa pandemi memang tidak mudah. Namun, cakupan vaksinasi yang kian meningkat dan temuan antivirus yang efektif merupakan senjata pemungkas yang bisa diandalkan. Pemerataan vaksinasi dan booster akan makin memperkukuh lini pertahanan menghadapi virus. Asalkan tidak abai dan konsisten menerapkan prokes, ”kubu” manusia akan dapat meraih kemenangan. Semoga pandemi bisa diakhiri. (*)


*) ARI BASKORO, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: