alexametrics

Perlu Stimulus untuk Dorong Konsumsi

Oleh BHIMA YUDHISTIRA ADHINEGARA*
3 Desember 2019, 17:53:22 WIB

PERLAMBATAN ekonomi membawa dampak pada aktivitas masyarakat di akhir tahun ini. Padahal, tren peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat biasanya terjadi menjelang Natal dan tahun baru.

Memang, secara musiman, capaian inflasi di akhir tahun ini pasti naik. Biasanya kenaikan terjadi pada komponen volatile food dan administered price. Namun, memang hal itu sebagian besar disumbang oleh aktivitas masyarakat jelang Natal dan tahun baru yang lebih banyak jalan-jalan. Jadi, hal itu juga disumbang komponen inflasi untuk perhotelan maupun pakaian jadi karena memang banyak permintaan.

Tapi, di sisi lain, ada indikator konsumsi rumah tangga yang cenderung melambat. Jadi, kalau pertanyaannya apakah inflasi di akhir tahun ini akan setinggi tahun-tahun sebelumnya? Belum tentu. Sebab, bisa jadi malah menunjukkan tren konsumsi yang cenderung sedikit rendah. Hal itu berdampak pada kenaikan harga di akhir tahun yang tidak terlalu tinggi.

Sementara itu, situasi-situasi tersebut juga tentu berpengaruh pada kondisi uang beredar. Hingga kini uang beredar menunjukkan tren perlambatan. Bank Indonesia (BI) mencatat, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh melambat pada Oktober 2019.

Posisi M2 pada Oktober 2019 tercatat Rp 6.025,6 triliun atau tumbuh 6,3 persen secara year-on-year (yoy). Angka itu melambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 7,1 persen yoy.

Perlambatan M2 berasal dari seluruh komponennya. Komponen uang kuasi melambat dari 7 persen yoy pada September 2019 menjadi 6,1 persen yoy, dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan simpanan berjangka, tabungan, dan giro valuta asing (valas).

Perlambatan uang beredar itu menunjukkan tren bahwa aktivitas bisnis maupun konsumsi rumah tangga sedikit terhambat. Jadi, dari sektor bisnis, banyak yang mengurangi ekspansi usaha karena ada kekhawatiran terkait kondisi ekonomi tahun depan yang mengalami ketidakpastian, lalu biaya produksi naik, maka mereka (kalangan usaha) cenderung menahan ekspansi.

Hal itu juga dibarengi dari sisi sektor rumah tangga yang khawatir iuran BPJS Kesehatan dinaikkan, subsidi BBM diturunkan sehingga harga-harga naik tahun depan, sampai subsidi listrik 900 VA yang akan dikurangi. Hal itu semua membuat kalangan rumah tangga menunda belanja atau konsumsi.

Memang, di akhir tahun ada kecenderungan inflasi rendah, tapi rendahnya itu justru menimbulkan tanda tanya terkait konsumsi rumah tangga yang slow down. Artinya, perlu banyak stimulus.

Ke depan, beberapa langkah harus dilakukan pemerintah. Kebijakan omnibus law juga tidak bisa langsung berdampak. Sebab, sebuah kebijakan memerlukan proses atau time lag (jeda waktu), tidak mungkin secepat yang diinginkan. Lagi pula, pembahasan di DPR kan juga tidak mungkin cepat.

Yang masih diandalkan adalah konsumsi dalam negeri. Maka itu, pemerintah perlu menjaganya. Bagaimana caranya? Pertama, dari sisi perpajakan. Jadi, dalam kondisi saat ini jangan dikejar, pajaknya jangan terlalu agresif. Justru harus diberi banyak kelonggaran sehingga orang masih mau belanja. Kedua, menurut saya, pemerintah perlu mempertajam insentif yang sudah ada. Insentif fiskal ataupun nonfiskal disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha. Terakhir, pemerintah perlu menjaga stabilitas politik dan keamanan. Lalu, ini yang paling penting juga, sebaiknya tidak ada kenaikan harga yang diatur pemerintah (administered price) di tahun depan.

*)  Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : dee/c10/oni



Close Ads