alexametrics

Main Dua Kaki

CATATAN R. BUDIJANTO*
3 Juli 2022, 16:58:16 WIB

MEGAWATI Soekarnoputri mengultimatum. Melarang keras kader PDIP ”main dua kaki, main tiga kaki membuat manuver” dalam pencapresan 2024. Setelah tepuk tangan forum rakernas mereda, ketua umum PDIP itu melanjutkan warning-nya. Kalau masih nekat melakukannya, disuruh ke luar atau dipecati. ”Ingat lho lebih baik keluar deh, lebih baik keluar deh. Daripada saya pecati lho, saya pecati lho.” Seram.

Padahal, kalau mau enteng-entengan, bukankah manusia selama hidupnya main dengan dua ”kaki”? Hanya ketika masih bayi merangkak dengan empat ”kaki”. Dan, kalau sudah sepuh terbongkok-bongkok, main dengan tiga ”kaki”. Bahkan, kalau sepuh bisa lebih banyak ”kaki”. Sebab, selain pakai tongkat, ada yang menuntun. Main ”lima kaki”?

Politik memang bisa menjungkirbalikkan istilah-istilah yang wajar. Kewajaran manusia memainkan dua kaki justru menjadi masalah kalau dalam politik. Padahal, kalau dibayangkan, alangkah ganjilnya main satu kaki. Kaki sebelah diangkat, mirip bangau sedang istirahat. Kalau jalan seperti orang main engklek. Dengan satu kaki melompat dari kotak ke kotak. Lucu.

Ketidakwajaran yang lain, kenapa main dua kaki dianggap sebagai sikap mendua? Padahal, ketika menggunakan dua kaki, manusia hanya bisa menempuh satu tujuan. Tak bisa satu kaki ke kanan, satu kaki ke kiri. Apalagi satu ke depan atau satu ke belakang. Coba saja kalau bisa.

Mengapa manusia bermain dengan ”dua kaki” dijadikan istilah negatif? Bahkan dianggap dekat-dekat ke sifat munafik dan dianggap tak loyal tegak lurus. Entah bagaimana bisa terjadi logika yang bengkok ini.

Padahal, kalau orang berdiri di dua kaki, malah bisa tegak lurus. Tak gampang terhuyung-huyung seperti ketika berdiri di satu kaki. Istilah ”main dua kaki” yang dianggap tak wajar ini pun jadi salah kaprah.

Penggunaan ”kaki” yang sampai sekarang juga tak jelas logikanya adalah ”kaki lima”. Penggunaannya bukan untuk nenek-nenek atau orang sepuh yang bertongkat (tiga ”kaki”) dan dituntun seseorang (berkaki dua). Meski secara hitungan bisa dijumlahkan dia ”main kaki lima”. Namun, kita tahu istilah ”kaki lima” dipakai para pedagang yang memanfaatkan trotoar untuk jualan. Mereka mengalih fungsi jalur pejalan kaki untuk jualan (sebenarnya istilah ”pejalan kaki” di sini berlebihan, seperti halnya ”tepuk tangan”. Tak akan hilang makna kalau ”kaki” dan ”tangan” dihilangkan).

Secara linguistik, rumit melogikakan istilah ”kaki lima” ini. Katakanlah seorang pedagang (dua kaki) bakso yang menggunakan satu meja (empat kaki) semestinya disebut ”kaki enam”. Atau ditambah satu bangku panjang (empat kaki). Jadilah ”kaki sepuluh”. Lalu, dari mana istilah pedagang kaki lima (PKL) ini? Dari pedagang yang menggunakan meja tiga kaki? Tak jelas. Padahal, istilah itu sudah masuk dalam terminologi hukum, setidaknya dalam perda-perda.

Lebih mudah melogikakan kata majemuk berbasis ”kaki” lainnya, yakni ”kaki seribu”. Betulkah binatang luwing (Trigoniulus corallinus) itu berkaki seribu? Tentu saja tidak persis. Tetapi jelas kelihatan banyak. Dan, memang banyak. Ada penelitian yang sudi menghitung, jumlahnya antara 778–1.306 kaki! Tak jauh-jauh amat dari sebutan kaki seribu. (Seandainya manusia, tentu akan memperkaya pabrik sandal atau sepatu). Yang jelas, sebutan kaki seribu itu bentuk hitungan gampang-gampangan berdasar pandangan kasatmata.

Logika ”kaki seribu” itu tak bisa diteruskan ke ”langkah seribu”. Sebab, yang satu untuk binatang antropoda luwing, sedangkan yang belakang untuk manusia. Untuk manusia yang lari terbirit-birit, bukan kaki seribu yang sedang berjalan. Padahal, sangat tepat kalau binatang kaki seribu melakukan “langkah seribu” saat berjalan.

Tapi, begitulah logika bahasa. Tak selalu sejalan dengan logika umum. Apalagi kalau sudah memasuki wilayah politik. Begitu pun terkait dengan ”main dua kaki” tadi. Semestinya tak tepat untuk menggambarkan sikap mendua.

Kalau mau menggunakan ”main” untuk sikap mendua, KBBI memberikan beberapa pilihan yang kurang lebih mengarah ke sikap itu. Misalnya, main serong (menyeleweng), main angin (ucapannya selalu berubah), main mata (bersekongkol), main sabun (tak jujur), atau main gila (bertindak semaunya). Justru ”main dua kaki” belum masuk dalam lema di KBBI. Bisa jadi karena salah kaprah itu.

Dan, istilah yang lebih tepat menggambarkan sikap sana-sini oke adalah dua muka. Manusia jelas seram kalau sampai mempunyai dua muka. Meski, kedua-duanya tersenyum. Hanya Didik Nini Thowok yang bisa menari dua muka (dwimuka) dengan ciamik. Di YouTube, bisa dilihat betapa luwesnya maestro ini menjadikan bagian belakangnya menari seolah-olah depan. Topeng di bagian belakang kepalanya juga terasa ”hidup”. Sehidup bagian depan, wajahnya yang asli. Tetapi, itu di dunia tarian. Dan, yang bisa melakukan hanya maestro.

Kalau dalam politik, manuver dua muka jelas membingungkan. Dan bisa dianggap tak loyal karena secara oportunistis mengambil peluang sana-sini. Maklum bila pemilik partai yang merasa harus ditegaklurusi karena punya hak prerogatif (”terserah aku”) jadi ”keluar tanduknya.” (*)

*) Senior Editor Jawa Pos

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: