alexametrics

Serangan terhadap Polisi, lantas?

Oleh REZA INDRAGIRI AMRIEL *)
3 April 2021, 19:48:14 WIB

KEKERASAN, apalagi serangan bersenjata, terhadap polisi sesungguhnya ”tidak terlalu luar biasa”. Itu adalah risiko tugas. Setiap orang yang memilih menjadi polisi, sejak awal menjejakkan kakinya di lembaga kepolisian, tentu sudah tahu risiko maut yang bisa dihadapinya sewaktu-waktu.

Tentu, kalimat sedemikian rupa tidak bermakna bahwa aksi teror pantas dipandang sebelah mata. Kelangsungan hidup personel kepolisian juga harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Apalagi jika lingkungan Mabes Polri saja diteror, risiko lebih fatal bisa saja berlangsung di luar situ. Ketika keamanan aparat penegak hukum terusik, masyarakat biasa lebih rentan lagi mengalami viktimisasi. Intinya, ungkapan ”negara hadir” tidak hanya berlaku bagi warga sipil, tapi juga bagi seluruh personel penegak hukum.

Pada kejadian aksi penembakan di Mabes Polri (31/3), dalam waktu singkat seluruh media menyebutnya sebagai aksi teror. Sosok pemegang senjata yang tertangkap kamera juga dijuluki sebagai terduga teroris. Dramatis. Namun, patut dipertanyakan, pada fase kegentingan itu, seberapa jauh ketepatan penggunaan sebutan-sebutan yang berasosiasi dengan terorisme tersebut. Apakah setiap serangan terhadap polisi serta-merta bisa dikatakan sebagai serangan teror?

Perlu ditelisik, berapa sesungguhnya jumlah kejadian serangan terhadap polisi. Demikian pula, bagaimana respons kepolisian terhadap laporan-laporan tentang kekerasan yang diarahkan ke institusi Tribrata, baik terhadap personelnya maupun propertinya.

Ekspose data tentang hal tersebut barangkali bisa memunculkan kesan negatif. Sesedikit apa pun serangan terhadap polisi, apalagi yang sampai menjatuhkan korban jiwa dari pihak kepolisian, bisa mengesankan polisi sebagai lembaga atau personel yang rapuh. Namun, itu sebatas masalah tafsiran. Pastinya, data atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas meletakkan dasar bagi seberapa jauh penguatan perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan jaminan keselamatan bagi personel kepolisian.

Selanjutnya, kapankah serangan terhadap polisi layak dikategorikan sebagai aksi teror. Pertanyaan ini sekaligus kritik terhadap banyak pihak yang langsung menyebut aksi penembakan pada 31 Maret sebagai aksi teror dan pelakunya adalah (terduga) teroris.

Siapa Peduli?

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads