alexametrics

Belajar Mengurus HIV dari Tetangga

Oleh DOMINICUS HUSADA *)
2 Desember 2019, 16:07:25 WIB

THAILAND adalah salah satu negara pertama di Asia yang terkena hantaman badai infeksi HIV/AIDS (human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome). Thailand hingga saat ini juga merupakan salah satu negara dengan persentase penderita HIV terbesar di Asia. Namun, ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari negara tetangga itu jika Indonesia mengharapkan perbaikan dan kemajuan.

Pertama, pada 2016 Thailand dinyatakan telah terbebas dari penularan HIV ibu ke anak. Bagi negara maju, itu prestasi yang sudah banyak dicapai. Namun, untuk negara berkembang, hal tersebut sangat patut dihargai. Di Asia Tenggara, baru Malaysia yang pada 2018 berhasil menyusul jejak Thailand. Jangan lupa, Thailand adalah salah satu negara dengan penderita HIV/AIDS terbanyak di Asia, selain India.

Prestasi Thailand menghapuskan penularan HIV dari ibu ke anak dicapai dengan tidak mudah. Thailand sejak lama menyadari bahwa salah satu kunci utama mengatasi infeksi HIV adalah memotong rantai penularan. Dari beberapa cara penularan, yang terjadi pada bayi adalah model penularan vertikal dari ibu.

Pemutusan rantai dilakukan dengan sedikitnya empat upaya. Upaya paling awal adalah kewajiban tes HIV bagi semua ibu hamil. Saat ini angka keberhasilan cakupan mencapai lebih dari 95 persen, sedangkan di Indonesia masih sangat rendah. Memang Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru memulai kewajiban tersebut beberapa tahun terakhir. Upaya kedua, semua ibu hamil yang diketahui terinfeksi HIV perlu diobati.

Unsur ketiga adalah pemberian obat HIV sebagai upaya pencegahan pada semua bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV. Jadi, si bayi juga menjadi fokus, bukan hanya si ibu. Thailand juga menambahkan unsur keempat. Yakni, menyediakan susu formula untuk semua bayi dari ibu yang terjangkit HIV. Susu diberikan secara gratis oleh pemerintah hingga bayi berusia 18 bulan.

WHO (World Health Organization) sebenarnya membolehkan bayi dari ibu yang terinfeksi HIV mengonsumsi ASI (air susu ibu). Jadi, keputusan sepenuhnya berada di tangan orang tua. Usaha memenuhi kebutuhan ASI maupun susu formula juga menjadi tanggung jawab orang tua. Bagi para tenaga kesehatan, opsi menyusui tetap selalu ditawarkan karena merupakan hak penderita. Yang jelas, bukti menunjukkan, jika jumlah virus di tubuh ibu sangat rendah, risiko penularan boleh dibilang hampir tidak ada.

Kedua, Thailand dengan berani membuka status dirinya yang menderita wabah infeksi HIV, sekalipun menyadari bahwa pengumuman kepada dunia akan menjadi aib karena klaim sebagai bangsa yang religius menjadi hancur berantakan. Semua itu dinomorduakan oleh para pemimpin bangsa yang lebih memilih untuk mengumumkan kepada dunia mengenai situasi wabah itu.

Yang terpenting dan harus menjadi prioritas adalah keselamatan rakyat. Mengumumkan dan membuka diri berarti membuka masuknya bantuan alat, obat, metode, dan tenaga untuk kepentingan perbaikan. Faktanya, saat ini Negeri Gajah Putih menjadi salah satu negara dengan riset HIV paling banyak dan mampu mengatasi beberapa persoalan lebih cepat daripada negara sejenisnya, terutama di Asia.

Ketiga, mengenai obat generik bagi penderita HIV. Itu bukan sembarang obat. Pabrik farmasi biasa tidak akan tertarik untuk memproduksi karena pasar yang terbatas dan regulasi yang ketat. Sebagian besar obat lantas berada dalam kendali negara maju dengan harga tinggi. Beberapa tahun silam, Thailand dan Brasil memelopori gerakan minta izin memproduksi obat sejenis di negara masing-masing. Tentu dengan royalti murah atau malah bebas sama sekali.

Upaya terobosan tersebut membuat suplai obat tidak lagi bergantung negara besar dan harga menjadi lebih murah. Memang penderita HIV tidak membeli obat secara pribadi. Sebagian besar negara di dunia menggratiskan obat HIV. Indonesia juga telah memproduksi sendiri beberapa obat HIV. Dan, itu tentu merupakan langkah penghematan yang cukup besar.

Faktor keempat, pemerataan pelayanan di pelosok yang disertai sarana dan tenaga yang sesuai. Thailand telah mampu melakukannya. Kita sebenarnya juga sudah memutuskan untuk memperluas pelayanan hingga tingkat puskesmas. Yang perlu kita benahi adalah kualitas tenaga dan sarana. Pemeriksaan diagnostik serta penatalaksanaan yang paling dasar adalah dua hal terpenting.

Pemeriksaan darah saat ini sudah bisa cepat dan relatif murah. Sayangnya, pemerintah melakukan pembatasan jumlah dan jenis tes apabila hasil tes pertama sudah negatif. Keputusan internasional itu mengandung aspek positif dan negatif. Distribusi obat juga bisa menjangkau seluruh pelosok. Namun, tentu masih banyak celah untuk disempurnakan.

Yang juga perlu terus ditingkatkan barangkali keterampilan tenaga medis untuk bisa mengejar para ahli di sarana kesehatan yang lebih lengkap. Pelayanan kesehatan pasien HIV itu seumur hidup. Karena itu, kemudahan, kedekatan dengan tempat tinggal, dan keakraban dengan tenaga kesehatan yang merawat menjadi sangat penting.

Sekalipun di beberapa hal kita perlu belajar dari negara tetangga, sebenarnya di sebagian hal lain kita boleh dikata telah mencapai kemajuan bermakna. Boleh dibilang penderita HIV yang datang ke sarana pengobatan pada tahap relatif dini sudah tidak perlu lagi meninggal dengan cepat. Kualitas hidup juga bisa terjaga sebagaimana penderita penyakit menahun lain. Kita pun tidak lagi melihat kasur bekas penderita HIV yang dirawat di rumah sakit dimusnahkan dan dibakar hanya karena keterbatasan pengetahuan tenaga kesehatan yang bersangkutan.

Banyak penderita HIV yang menjadi motivator bagi lingkungan dan sesamanya. Memberi harapan hidup, membekali dengan keterampilan tambahan, dan membantu perawatan anak yang umumnya kehilangan minimal satu orang tua adalah contoh nyata yang sudah terjadi. Jumlah relawan di bidang HIV semakin banyak dan hampir semua bekerja dengan sungguh-sungguh. Kunjungan ke rumah dan lingkungan untuk pembinaan penderita HIV semakin kerap dilaksanakan.

Saat ini jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia telah melampaui angka dua ratus ribu dan jumlah itu masih akan terus meningkat. Kecenderungan pertambahan belum akan menampakkan perlambatan dalam waktu dekat. Ironisnya, sejak lama kita tahu bahwa salah satu kelompok terbesar penderita penyakit itu di negara kita justru ibu rumah tangga.

Semua kemajuan yang dipaparkan sebelumnya memang belum cukup baik. Di depan kita, masih sangat banyak pekerjaan rumah. Dengan belajar dari berbagai pihak lain, terutama dari negara tetangga, mudah-mudahan kemajuan kita lebih banyak dan lebih cepat. Hasil akhirnya tetap diperuntukkan bagi kemaslahatan umat manusia, terutama yang berkaitan dengan infeksi HIV. Semoga. (*)

*) Koordinator HIV Anak RSUD dr Soetomo, konsultan infeksi dan penyakit tropik anak FK Unair/RSUD dr Soetomo, Surabaya

Editor : Ilham Safutra



Close Ads