alexametrics

Elite Penguasa, Jangan Bermain Api

Oleh BIYANTO *)
2 Agustus 2022, 19:48:13 WIB

HINGGA kini pengungkapan kasus terbunuhnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat pada Jumat (8 Juli 2022) masih misterius. Pemberitaan kasus tersebut semakin liar dan tak terkendali. Hal itu dapat dimaklumi karena pengaruh media sosial memang luar biasa. Apalagi untuk kasus-kasus yang sedang menjadi perhatian publik. Pemberitaan kasus ini semakin menarik karena diwarnai drama dugaan pelecehan seksual, perselingkuhan, dan baku tembak antaraparat.

Tidak ingin kasus ini memengaruhi integritas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bergerak cepat dengan membentuk tim khusus. Atensi khusus juga diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Presiden Jokowi memerintahkan agar kasus ini diusut tuntas dan transparan. Menurut Jokowi, transparansi dalam pengungkapan kasus ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik.

Komitmen Kapolri dan atensi Presiden Jokowi terasa sangat melegakan. Apalagi, dalam perkembangannya, pengacara keluarga korban menduga adanya skenario untuk menghabisi Brigadir Yosua. Untuk memperkuat dugaan tersebut, pengacara keluarga korban menghadirkan sejumlah bukti baru. Bukti-bukti baru itulah yang dibawa pengacara keluarga korban tatkala melaporkan dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yosua ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

Harus diakui, insiden terbunuhnya Yosua memang tergolong heboh. Apalagi, kasus ini terjadi di rumah dinas kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadivpropam) Polri. Karena itulah, dapat dipahami jika insiden ini menjadi sorotan media nasional dan bahkan internasional. Publik tentu akan terus mengikuti pemberitaan insiden yang sejatinya bisa disebut sangat mirip dengan permainan para polisi di film-film India.

Layaknya sebuah permainan, untuk sementara waktu sang sutradara dari drama kasus ini berhasil memainkan emosi publik. Tanpa disadari, publik terperangkap dalam alur cerita yang bisa jadi sesat dan menyesatkan. Pada konteks inilah integritas dan profesionalitas jajaran Polri benar-benar diuji. Publik tentu sangat berharap tim khusus yang dibentuk Kapolri atau tim independen lain dapat mengungkap kasus ini secara transparan.

Harapan tersebut penting karena kalau ditengok ke belakang sejatinya masih banyak kasus besar yang masih misterius. Salah satu kasus yang pernah menggemparkan adalah pembunuhan Direktur Putra Rajawali Banjaran Nasruddin Zulkarnain. Nasruddin ditembak mati setelah bermain golf di Padang Golf Modernland, Kota Tangerang, pada 15 Maret 2009. Kasus itu menyeret nama Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar. Antasari dituduh sebagai aktor intelektual.

Dalam pembelaannya, Antasari mengatakan bahwa dirinya telah menjadi korban pengadilan sesat dan penuh rekayasa. Antasari pun harus menerima kenyataan dipenjarakan selama delapan tahun. Setelah menjalani masa penahanan, Antasari menuduh penguasa pada zaman itu berada di balik semua yang dialaminya. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang merasa tertuduh dengan pernyataan Antasari bereaksi dengan mengatakan: ”Para penguasa berhati-hatilah dalam menggunakan kekuasaan. Jangan bermain api, terbakar nanti.”

Terlepas siapa yang berbohong dan siapa berkata jujur dalam kasus Antasari, hingga kini publik belum memperoleh jawaban yang terang benderang. Selain kasus yang dialami Antasari, masih banyak kasus besar yang misterius. Kasus-kasus besar itu seperti menguap begitu saja. Di antaranya kasus bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Kasus lainnya adalah pengadaan teknologi informasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam Pemilu 2009.

Demikian juga kasus dugaan suap pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP). Yang paling heboh adalah kasus megaskandal Bank Century. Saat itu pemerintah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk menyelamatkan Bank Century. Banyak dugaan yang menyertai kasus Bank Century. Tetapi, sangat disayangkan, publik belum mendapat kejelasan dari kasus-kasus besar yang begitu menguras energi. Publik juga belum bisa melupakan kasus Hambalang, kardus durian, dan lainnya.

Pertanyaannya, siapa bermain api dalam kasus-kasus besar tersebut? Karena tidak kunjung menemukan jawaban memuaskan, akhirnya nalar publik menyimpulkan bahwa ada sutradara di balik sejumlah kasus yang menghebohkan itu. Ibarat permainan berbahaya, sang sutradara layaknya sedang bermain api. Sang sutradara mungkin tidak menyadari bahwa ada hukum tak terelakkan: ”Barang siapa bermain api, pasti akan terbakar.”

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: