alexametrics

Gendering Terrorism

Oleh AKH. MUZAKKI *)
2 April 2021, 19:48:31 WIB

ERA baru terorisme dimulai. Selama ini publik dan pengamat masih samar-samar untuk memastikan adanya terorisme wanita. Penelitian Gentry dan Sjoberg (”Female Terrorism and Militancy” dalam J. Richard [ed], Handbook of Critical Terrorism Studies, 2016:145) menemukan reaksi dunia media, keilmuan, dan kebijakan yang samar-samar itu terhadap partisipasi perempuan dalam kekerasan yang bisa diklasifikasikan terorisme.

Alih-alih memperlakukan terorisme oleh wanita sebagai terorisme wanita, sejumlah kalangan tersebut cenderung menganggap keterlibatan perempuan sebagai akibat dari pengaruh pelaku lain. Bukan memperlakukan wanita teroris sebagai agensi pelaku perempuan terorisme.

Aksi terorisme oleh terduga Zakiah Aini (25 tahun) di Mabes Polri Jakarta (31/3) memberi bukti yang kuat atas adanya terorisme wanita, atau apa yang oleh Cyndi Banks (Women, Gender and Terrorism, 2019:181–187) disebut dengan gendering terrorism atau female terrorism. Kini aksi koboi Zakiah Aini itu menjadi penguat arus baru perempuan sebagai agensi terorisme di negeri ini.

Sebelumnya memang sudah tercatat indikasi adanya gendering terrorism melalui arus besar rekrutmen pelaku dengan memilih perempuan muda sebagai sasaran baru. Publik mungkin masih ingat, tiga tahun lalu, perempuan menjadi salah satu pelaku utama serangan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, 13 Mei 2018. Salah satu pelakunya adalah Puji Kuswati, 43, istri dari pelaku lain, Dita Oepriarto, 48.

Dua tahun sebelumnya, telah tertangkap oleh Densus 88 tiga tersangka rencana bom bunuh diri dengan menggunakan panci untuk meledakkan Istana Negara (10/12/2016). Selain dua pelaku yang berjenis kelamin laki-laki, yakni Nur Solihin dan Agus Supriyadi, ada Dian Yulia Novi yang merupakan sosok tersangka teroris perempuan muda.

Masuknya nama Puji Kuswati dan Dian Yulia Novi tersebut memang menjadi penanda utama keberadaan perempuan sebagai pelaku aktif terorisme dalam kurun lima tahun terakhir. Dan kini, tertembaknya terduga teroris Zakiah makin melengkapi data yang memperkuat identifikasi konsep gendering terrorism.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads