Peringatan Hari AIDS dalam Pusaran Covid-19

Oleh ARI BASKORO *)
1 Desember 2020, 19:48:12 WIB

PANDEMI Covid-19 yang saat ini kita alami bersama dapat memicu rasa cemas, stigma, paranoid, bahkan hingga masalah multidimensi, termasuk resesi global. Pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA), persoalan tersebut dapat menimbulkan beban tambahan di berbagai lini kehidupannya.

Sejak kali pertama diselenggarakan pada 1988, peringatan Hari AIDS Sedunia (tiap 1 Desember) dimaksudkan untuk makin meningkatkan kesadaran pentingnya berjuang melawan infeksi human immunodeficiency virus (HIV) yang berujung pada terjadinya penyakit/kumpulan gejala yang disebabkan menurunnya kekebalan tubuh (acquired immunodeficiency syndrome/AIDS). Dengan kata lain, AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.

Menurut data UNAIDS (badan WHO yang mengurusi masalah AIDS), sejak HIV dinyatakan sebagai epidemi, diperkirakan 75,7 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi dan menimbulkan kematian 32,7 juta orang. Untuk tahun 2019 saja, tercatat 1,7 juta kasus baru infeksi HIV dan mengakibatkan 690 ribu kematian di seluruh dunia. Merujuk sumber data yang sama, pada 2019 tercatat 38 juta orang hidup bersama HIV, termasuk 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak (0–14 tahun).

Tema yang akan diusung pada peringatan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2020 adalah Global Solidarity, Shared Responsibility. Fokus perhatian internasional saat ini ditujukan pada situasi pandemi yang sangat memengaruhi hidup dan kehidupan seseorang. Seperti halnya HIV/AIDS, Covid-19 menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara masalah kesehatan dan isu-isu penting lainnya. Misalnya persoalan hak asasi manusia, ketidakadilan, kesetaraan gender, perlindungan sosial, dan pertumbuhan ekonomi. Tanpa solidaritas, empati, peran, dan tanggung jawab bersama, persoalan mendasar dua penyakit itu tidak akan mendapat jalan keluar sesuai dengan yang diharapkan.

Pada masa pandemi seperti saat ini, bisa dikatakan, tidak ada seorang pun yang bisa dijamin aman dari penularan. Terlebih pada ODHA. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan, berupaya melibatkan semua pihak yang terkait untuk mencapai three zero pada 2030. Yaitu, tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma serta diskriminasi pada ODHA. Mungkin tidak mudah menggapai harapan itu. Namun, pengalaman puluhan tahun menghadapi epidemi HIV dapat memberikan kesempatan besar penanggulangan pandemi Covid-19.

Terdapat tiga pilar utama yang perlu disoroti. Yaitu (1) Bagaimana pelajaran penting yang bisa dipetik dari penanggulangan HIV/AIDS bisa memberikan informasi yang bisa didayagunakan bagi mitigasi pandemi Covid-19. (2) Bagaimana infrastruktur yang selama ini telah didayagunakan untuk pengelolaan HIV/AIDS dapat memberikan arah dan mempercepat program mitigasi pandemi Covid-19. (3) Bagaimana respons terhadap Covid-19 dan HIV/AIDS bisa memberikan kesempatan bersejarah untuk membangun suatu jembatan sistem kesehatan masyarakat yang mudah beradaptasi.

Dalam hal pengelolaan HIV/AIDS, pengadaan obat-obatan anti-HIV (antiretroviral/ARV) secara gratis oleh pemerintah merupakan tulang punggung bagi ODHA untuk meningkatkan kualitas dan harapan hidupnya. Harapan hidup yang tidak berbeda dengan non-ODHA asalkan mau disiplin mengonsumsi ARV secara teratur.

Optimisme seperti itu bukanlah hal yang berlebihan dalam menghadapi pandemi Covid-19. Kelompok dukungan yang terbukti berkontribusi membantu pengentasan HIV/AIDS bisa dijadikan contoh keterlibatan masyarakat dalam menyelesaikan masalah Covid-19. Kelompok tersebut merupakan komunitas yang di antara anggotanya dapat berbagi masalah, berbagi kecemasan, mencari solusi bersama, saling memberikan saran, dan mungkin bisa membentuk ikatan sosial yang lebih kuat.

ODHA akan lebih nyaman berada dalam komunitas semacam itu. Mereka merasa tidak sendirian menderita. Informasi yang diperoleh tidak bersifat teoretis, tapi lebih bersifat melihat fakta-fakta kehidupan yang nyata.

Menurut analisis UNAIDS, dampak pandemi Covid-19 terhadap HIV/AIDS bisa berpotensi menimbulkan masalah yang serius. Pertama, pada negara-negara dengan pendapatan per kapita yang tergolong rendah hingga menengah, akan dapat mengganggu pengadaan ARV yang digunakan untuk pengobatan HIV/AIDS.

Kedua, karantina wilayah ataupun pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang bertujuan meredam penularan Covid-19 bisa berdampak pada produksi dan distribusi obat-obatan yang pada gilirannya memicu kenaikan biaya ekonomi serta suplai yang terganggu.

Ketiga, dari prediksi perhitungan matematis, bila terjadi hambatan pada pengobatan HIV/AIDS selama enam bulan, bisa menimbulkan penambahan angka kematian hingga 500 ribu kasus yang terkait langsung dengan AIDS.

Keempat, bila pelayanan dalam upaya pencegahan penularan secara vertikal dari ibu hamil dengan HIV terhadap janinnya terganggu selama enam bulan, diprediksi terjadi peningkatan infeksi HIV baru pada anak-anak yang bisa mencapai lebih dari 100 persen. Terutama pada negara-negara sedang berkembang.

Covid-19 merupakan penyakit yang serius, khususnya pada ODHA yang tidak terkontrol dengan baik atau yang dalam stadium lanjut. Mereka perlu mendapat perhatian ekstra dalam menjalankan protokol kesehatan agar terhindar dari paparan virus penyebab Covid-19.

Untuk itu, seharusnya ODHA selalu dapat mengakses sarana pelayanan kesehatan yang bisa menjamin ketersediaan ARV yang semestinya mereka konsumsi secara reguler. Walaupun upaya peningkatan perang melawan HIV tetap digalakkan, UNAIDS memperkirakan sekitar 15 juta ODHA di seluruh dunia tidak akan dapat mengakses ARV ini yang berakibat bisa memperburuk sistem imunitas mereka. Semoga ”pita merah” masih menjadi bahan penyemangat semua pihak agar tidak pernah kendur dalam berperang melawan HIV. (*)


*) Ari Baskoro, Dosen senior Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: