alexametrics

Refleksi Idul Adha 1441 H: Kesehatan dan Sandang Pangan

Oleh AGOES ALI MASYHURI *)
1 Agustus 2020, 16:36:02 WIB

BELAJARLAH hidup bahagia dengan menikmati apa yang Anda miliki. Sebab, sehat walafiat berada dalam kebahagiaan. Maka, sangatlah cerdas orang bijak bersemboyan bahwa ketenangan jiwa separo dari kesehatan seseorang. Alexis Carrel berkata, ’’Pengusaha yang tidak tahu bagaimana cara melawan rasa cemas akan mati muda. Orang kulit hitam Amerika dan orang China sangat jarang terkena penyakit jantung karena mereka menyikapi hidup dengan kesederhanaan dan menjalaninya apa adanya.”

Jika kita perhatikan dengan cerdas dan cermat sikap dan perilaku manusia saat ini, kita melihat betapa besar hasrat dan kecintaannya pada dunia, betapa keras dan ketat persaingannya, untuk mendapat materi dan menghimpun kekayaan. Banyak orang menumpuk harta yang tidak mereka makan. Banyak orang mendirikan bangunan yang tidak mereka tinggali. Jadilah engkau orang yang selalu disifati kebaikan dan jangan menjadi orang yang hanya bisa menerangkan kebaikan-kebaikan saja.

Allah SWT berfirman, ’’Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ’Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian (QS Al-Baqarah: 126).’’

Ayat itu merupakan doa Nabi Ibrahim kepada Allah. Ada dua kata kunci dalam ayat ini, yaitu (1) jadikanlah negeri yang aman dan (2) berikanlah rezeki. Terhadap fase pertama, kita dapat mengajukan pertanyaan retoris berikut. Bukankah kala itu, jumlah manusia tidak sebanyak sekarang? Bukankah kala itu Nabi Ibrahim tidak sedang berhadapan dengan alam yang segersang sekarang? Bukankah situasinya tidak secanggih dan semodern sekarang sehingga model kejahatan juga tidak sekejam sekarang? Dan, kita masih dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan retoris lainnya untuk melihat tingkat kepentingan permohonan (doa) rasa aman (keamanan) oleh Nabi Ibrahim. Panjatan doa Nabi Ibrahim tersebut memberikan pelajaran bagi kita bahwa keamanan menjadi syarat utama dan pertama bagi terselenggarakannya segala kegiatan manusia.

Pemerintahan, misalnya, tentu tidak akan dapat menyelenggarakan pembangunan bangsa dan negaranya dengan baik bila negara dalam keadaan kacau. Bagi pedagang, tentu tidak akan melakukan perdagangan dengan baik bila sistem ekonomi sedang tidak menentu. Bagi petani, tentu akan tidak dapat mengerjakan sawahnya dengan baik bila cuaca dan keadaan alam sedang tidak bisa diterka. Demikian pula pelaut, penambang, dan profesi-profesi pencari nafkah lainnya akan menghadapi masalah yang sama bila keamanan belum terselenggara.

Kata kunci kedua, dalam doa Nabi Ibrahim tersebut berbunyi berikanlah rezeki. Doa itu dipanjatkan setelah fase tentang terwujudnya keamanan negeri. Posisi itu dapat mengandung maksud bahwa rezeki akan tercurah manakala situasinya telah memungkinkan. Allah tahu kapan, di mana, dan kepada siapa rezeki itu akan diberikan dan dicurahkan, yaitu jika keadaan telah aman sentosa. Allah akan menganugerahi rahmat dan rezeki kepada manusia setelah manusia siap dengan dirinya sehingga rezeki itu diterima dengan baik, terhindar dari berbagai kemudaratan yang tak dikehendaki. Sebab, bila rezeki tersampaikan dalam situasi dan kondisi yang tepat, anugerah dan pemberian Allah itu akan lebih bermakna bagi manusia.

Keutamaan Bulan Zulhijah

Jika setiap orang memfungsikan akal dan hatinya secara objektif, niscaya kebenaran Islam tak terbantahkan. Agama akan membawa perubahan ke taraf yang lebih baik bila dipelajari, dihayati, dan diamalkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW bersabda, ’’Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Zulhijah).” Para sahabat bertanya, ’’Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi SAW menjawab, ’’Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun (HR Tirmidzi dan Abu Daud).’’

Hadis itu cukup pendek, tapi makna dan cakupannya sangat luas mendorong kita hendaknya cerdas memanfaatkan momen indah untuk berlari menuju Allah dengan memperbanyak amal saleh dan melakukan muhasabah secara cerdas agar menjadi orang yang selamat dan bahagia. Beberapa amal saleh yang harus kita lakukan adalah puasa, takbir, zikir, menunaikan ibadah haji dan umrah, memperbanyak amal saleh, dan tobat.

Allah SWT berfirman,

’’Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal (QS Al-Fajr: 1-5).’’

Imam Suyuthi telah berkata, bila Allah itu bersumpah dengan makhluk, pasti makhluk itu mempunyai sisi-sisi kelebihan.

Allah bersumpah dengan ’’fajar”. Fajar yang dimaksud adalah fajar yaum an-nahr (hari penyembelihan kurban), yaitu tanggal 10 Zulhijah. Sebab, ayat berikutnya membicarakan ’’malam yang kesepuluh”, yaitu sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.

Berikutnya Allah bersumpah dengan ’’malam yang kesepuluh”. Yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, yang merupakan hari-hari yang sangat dimuliakan pada hari-hari tersebut.

Berikutnya lagi Allah bersumpah dengan ’’yang genap” dan ’’yang ganjil”. Yang genap adalah yaum an-nahr, yaitu tanggal 10 Zulhijah dan ’’yang ganjil” adalah hari Arafah, yaitu tanggal 9 Zulhijah. Hari wukuf di Arafah, yaitu dimulainya ibadah haji dan 10 Zulhijah adalah hari mulai penyembelihan hewan kurban.

Rasulullah SAW bersabda, ’’Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba dari neraka sebanyak yang Dia bebaskan pada hari Arafah (HR Muslim).’’

Selanjutnya Allah bersumpah dengan ’’malam ketika berlalu”. Malam yang dimaksud adalah malam ketika jamaah haji sudah berlalu dari Arafah dan singgah di Muzdalifah dalam perjalanan menuju Mina saat pelaksanaan ibadah haji.

Pesan yang ingin disampaikan Allah dengan bersumpah di atas adalah bahwa orang yang mau menggunakan akalnya harus mengerti bahwa Allah Mahakuasa mengadakan, memelihara, menghancurkan, dan menghidupkan kembali alam ini. Karena itu, mereka seharusnya beriman dan berbuat baik.

Semoga bermanfaat. Jayalah bangsaku! Jayalah negeriku! (*)


*) Agoes Ali Masyhuri, Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, Jatim

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads