Lagi-Lagi Minuman Beralkohol

Oleh ARI BASKORO *)
1 Maret 2021, 19:48:44 WIB

MINUMAN keras kembali menjadi biang pertumpahan darah. Diduga lepas kendali setelah menenggak minuman beralkohol, anggota Polri bernama Bripka CS meletuskan tembakan yang mengakibatkan tiga korban meninggal.

Mabes Polri, pada pertengahan November 2020, memaparkan data tentang sejumlah kasus pidana yang dilatarbelakangi miras atau mihol. Sejak 2018–2020, terjadi 223 kasus terkait dengan minuman yang dapat memabukkan tersebut, yang saat ini rancangan undang-undangnya sedang dibahas DPR.

Ada sisi manfaat atau sisi positif alkohol sebagai produk-produk fermentasi, namun penulis melihat dari dimensi yang mungkin berbeda, terutama dari sisi dampak mihol bagi kesehatan manusia.

Alkohol merupakan zat kimia yang banyak beredar di kalangan masyarakat sebagai produk minuman, obat-obatan, bahan keperluan medis pencuci hama, bahan-bahan rumah tangga, dan industri. Sebagai produk minuman, cairan itu banyak beredar di masyarakat, baik secara legal maupun ilegal, karena relatif mudah diproduksi.

Dari beberapa jenis alkohol (etanol, metanol, etilen glikol, dietilen glikol, propilen glikol, isopropil alkohol) yang paling banyak disalahgunakan dan bisa berdampak tidak hanya pada masalah kesehatan, namun dapat memicu masalah psikososial, adalah etanol dan metanol. Alkohol dapat memengaruhi kondisi fisik dan mental, bisa membuat perasaan santai dan senang, namun dalam kondisi tertentu dapat berakibat serius pada masalah kesehatan.

Berdasar data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, terdapat kecenderungan peningkatan konsumsi alkohol secara nasional dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Di antara 35 provinsi yang disurvei, Bali menjadi provinsi yang peningkatannya paling tajam. Merujuk pada sumber data yang sama, alkohol yang paling banyak dikonsumsi di seluruh Indonesia adalah miras tradisional, diikuti bir, anggur-arak, wiski, miras oplosan, dan jenis lainnya.

Peningkatan konsumsi alkohol nasional juga paralel dengan meningkatnya korban tewas akibat miras oplosan. Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) melakukan suatu riset dan menyatakan terjadi peningkatan cukup signifikan, yakni sekitar dua kali lipat korban tewas akibat miras tak berizin pada 2014–2018, jika dibandingkan dengan kurun waktu 2008–2013. Menurut CIPS, pemerintah sudah berupaya mengendalikan distribusi mihol dengan tarif bea impor dan cukai yang tinggi. Selain itu, lebih dari 150 peraturan daerah membatasi distribusi dan konsumsi alkohol, namun sejumlah aturan itu dinilai tidak efektif.

Badan Narkotika Nasional (BNN) melaporkan, pada 2016, sekitar 8 persen penduduk Indonesia pernah mengonsumsi alkohol sepanjang hidupnya. Sebanyak 5 persen penduduk aktif mengonsumsi alkohol dalam setahun terakhir. Hal ini berdampak pada angka ketergantungan terhadap alkohol yang prevalensinya 0,7 persen.

Sepintas persentase ketergantungan alkohol ini tampak ’’kecil’’. Namun, apabila dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia saat itu, didapatkan angka 1.180.900. Ini jumlah yang bisa menimbulkan berbagai problem sosial. WHO memperkirakan penyalahgunaan minuman yang mengandung alkohol mengakibatkan 2,5 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia.

Penyalahgunaan mihol, khususnya pada remaja, hingga berujung terjadinya ketergantungan terhadap alkohol disebabkan faktor kepribadian (rasa kurang percaya diri, mudah kecewa, rasa ingin tahu dan coba-coba, pelarian dari suatu masalah) dan faktor lingkungan (keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan masyarakat). Penyalahgunaan alkohol yang bisa berdampak pada keracunan sering disertai dengan perilaku berisiko seperti aktivitas seksual yang tidak aman, kecelakaan, dan tindak kejahatan. Dampak perilaku tersebut dapat menimbulkan masalah kronis seperti kecacatan akibat kecelakaan, infeksi HIV, serta hepatitis virus B dan C karena aktivitas seksual yang tidak aman.

Alkohol merupakan suatu senyawa depresan yang berarti bisa memperlambat fungsi otak. Kehilangan rasa malu dan keseimbangan mungkin bisa terjadi, selain memengaruhi saraf yang mengendalikan refleks detak jantung, pernapasan, dan muntah. Mihol dapat mengiritasi lambung dan memicu rasa mual dan refleks muntah.

Kondisi itu amat berbahaya apabila pada saat bersamaan terjadi gangguan kesadaran sehingga bisa terjadi aspirasi bahan muntahan pada paru-paru yang dikenal sebagai aspirasi pneumonia. Jika minum banyak dalam waktu singkat, jumlah alkohol dalam aliran darah atau blood alcohol concentration (BAC) dapat sangat tinggi dan bisa menjadi bukti apabila terjadi kasus medikolegal. Semakin tinggi kadar BAC dalam darah seseorang, semakin meningkat risiko terjadinya keracunan atau overdosis.

Gangguan kesadaran (koma) dan kematian secara langsung bisa terjadi karena efek penekanan pada area-area otak yang mengendalikan pusat kesadaran, pernapasan, dan detak jantung. Derajat beratnya keracunan akut, selain ditentukan oleh BAC, dipengaruhi adanya riwayat penyakit dasar, khususnya gangguan pada fungsi hati dan ginjal. Dua organ penting ini merupakan sarana metabolisme dan ekskresi metabolit alkohol.

Metanol

Metanol atau spiritus merupakan jenis alkohol yang paling sederhana, sangat ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas. Bahan kimia ini digunakan untuk produk-produk industri dan juga sebagai campuran alkohol untuk miras tradisional (misalnya, cukrik). Produk-produk industri yang menggunakan metanol adalah pembersih mobil, pelarut cat, parfum, bahan bakar mobil, dan produk industri lainnya.

Dampak toksis senyawa ini terutama pada sistem saraf pusat yang berfungsi mengendalikan gerakan motorik, emosi dan kognisi, serta saraf mata. Pada beberapa kejadian yang pernah ramai diberitakan, cukrik mengakibatkan kematian sia-sia warga yang sedang ’’berpesta’’ miras oplosan akibat metabolit metanol yang bersifat asam (asidosis metabolik) yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa. Gangguan penglihatan yang bersifat permanen pun sering kali terjadi.

Semoga peristiwa akibat dampak buruk miras tidak terulang. (*)


*) Ari baskoro, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/ RSUD dr Soetomo

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: