alexametrics

Menyalakan Optimisme Ekonomi dari Tunjungan

Oleh ANGGIT SATRIYO NUGROHO
1 Januari 2022, 08:00:49 WIB

TUNJUNGAN ROMANSA menjadi salah satu penanda menggeliatnya perekonomian warga Surabaya. Datanglah ke sana, lalu nikmati suasananya. Setiap petang, jalan legendaris itu hiruk pikuk oleh lalu-lalang orang. Mereka tak sekadar jalan-jalan, berfoto di spot-spot heritage, menikmati musik trotoar, tapi juga menikmati jajanan khas Surabaya. Jangan heran bila kemudian usaha kecil begitu menggeliat di sana. Omzet pedagang semanggi bisa Rp 2 juta semalam. Bila weekend, bisa mengantongi Rp 5 juta.

Ada efek dominonya. Toko-toko di sepanjang jalan itu ikut hidup. Namun, mereka mengubah diri menjadi kafe.

Banyak yang akhirnya diuntungkan dengan pembangkitan ekonomi ala Wali Kota Eri Cahyadi itu. Seniman, pengusaha, dan pedagang kecil bisa ikut bernapas di era pandemi seperti ini.

Ada rencana pemkot mereplikasi cara itu di daerah-daerah lain. Surabaya punya spot-spot heritage yang bisa menjadi pengungkit ekonomi. Kawasan Ampel yang khas Arab, Kembang Jepun yang nuansa Tionghoa, Jalan Panggung dengan rasa Melayu-nya, hingga kampung Peneleh yang menjadi jejak sejarah Bapak Bangsa H.O.S. Tjokroaminoto dan proklamator Soekarno.

Sejak awal, Wali Kota Eri menginginkan taraf hidup warga Surabaya harus naik. Pandemi tak boleh menjadi penghalang. Perizinan warga yang akan berusaha dimudahkan. Kelengkapan dokumen dibantu. Ketua-ketua RT dilibatkan untuk mengurusnya dengan sentuhan teknologi. Bahkan, urusan permodalan tak bisa dibilang sebagai penghalang. Intinya, tak ada alasan lagi bahwa hidup di kota besar makin sulit. Warga tetap bisa berkompetisi secara ekonomi dengan sehat. Syaratnya asal mau gerak saja, bisa hidup.

Ekonomi kerakyatan juga akan makin hidup dengan dukungan transportasi massal. Ada program buy the service yang akan dilaksanakan. Bus-bus yang nyaman akan dioperasikan. Waktu tunggunya dirancang tidak sampai sepuluh menit.

Buy the service akan memudahkan mobilitas publik. Ke mana-mana di Surabaya menjadi lebih mudah dan simpel. Naik dan bayar bus bisa dioperasikan dengan handphone.

Bagaimana soal infrastruktur? Rasanya, kini hal itu bukan lagi persoalan di Surabaya. Saat hujan deras, genangan surut dalam waktu cepat. Itu disebabkan rumah pompa penyedot banjir dibangun di mana-mana. Boezem-boezem dikeruk sedimennya agar bisa berfungsi. Kalaulah hujan deras seharian mengguyur, Kota Pahlawan tak sampai lumpuh. Eri kerap terjun langsung. Dia menginspeksi saluran-saluran kecil untuk mencari penyebab sumbatan jalannya air. Mungkin dalam pikirannya, pelayanan kota dalam hal pematusan harus sampai ke dalam-dalam. Bukan yang tampak saja.

Jangan heran, kalangan pengusaha terus memandang Surabaya sebagai kawasan yang molek. Setidaknya itu ditandai dengan terus menggerojoknya investasi di Surabaya. Setahun ini ada Rp 27,8 triliun modal yang masuk ke Surabaya. Pemodal rata-rata adalah investor dalam negeri dalam bidang properti, perkantoran, dan industri.

Pemodal juga tak perlu bersusah-susah sebelum menginvestasikan duitnya. Segala data tentang kota ini tersaji dalam klinik investasi. Keputusan investasi pun cepat diputuskan. Dengan segala potensi itu, pemkot yakin pada 2022 target investasi Rp 45 triliun mudah dicapai. (*)


*) ANGGIT SATRIYO NUGROHO, Kepala Kompartemen Metropolis Jawa Pos Koran

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads