alexametrics

Kita Pernah Jadi Macan Asia (Tenggara)

Oleh BASKORO YUDHO *)
1 Januari 2022, 08:15:04 WIB

INDONESIA raja Asia Tenggara? Predikat itu memang pernah kita sandang beberapa dekade silam. Tepatnya saat Indonesia mulai berpartisipasi di pentas SEA Games 1977. Sejak kali pertama tampil, kontingen Merah Putih langsung menyandang predikat juara umum di pentas olahraga antarnegara Asia Tenggara tersebut.

Indonesia berhasil memutus dominasi Thailand yang kala itu sangat superior di kawasan Asia Tenggara. Thailand sempat merebutnya kembali pada 1985 dan 1995. Mereka kala itu memanfaatkan betul statusnya sebagai tuan rumah. Namun, di luar dua edisi tersebut, bendera Merah Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya-lah yang paling sering berkumandang saat prosesi penyerahan medali.

Lalu, bagaimana posisi Indonesia sekarang? Kita harus fair mengakui bahwa dalam dua dekade terakhir prestasi atlet Indonesia di ajang multievent sudah tertinggal dari negara-negara tetangga. Banyak faktor yang melatarbelakangi. Misalnya soal regenerasi yang macet, sarana dan prasarana olahraga yang kurang menunjang, serta kualitas dan intensitas kompetisi dalam negeri yang masih kurang.

Predikat raja Asia Tenggara rasanya juga sulit kembali disandang pada perhelatan SEA Games 2022 di Hanoi. SEA Games edisi ini seharusnya dihelat pada 2021. Namun, karena masih maraknya persebaran virus Covid-19, perhelatan diundur pada 12 hingga 23 Mei 2022.

Meski molor setahun, bukan berarti persiapan kontingen lebih maksimal. Sebab, banyak hambatan di masa pandemi yang mengganggu persiapan SEA Games 2022. Tak heran jika kemudian Indonesia hanya berani memasang target 45–50 medali emas. Jumlah medali sebanyak itu praktis hanya akan menempatkan Indonesia di peringkat ketiga atau keempat.

Bukan hanya SEA Games 2022. Hajatan yang lebih besar sudah menanti para atlet pada 2022, yakni Asian Games Hangzhou 2022. Seperti SEA Games, Indonesia juga pernah disegani di pentas olahraga antarnegara Asia ini. Tiongkok dan Jepang memang merajai kawasan ini sejak Asian Games kali pertama dihelat pada 1951. Namun, dalam beberapa kali keikutsertaannya, Indonesia membuktikan diri bukan kontingen pelengkap.

Pada edisi 2018 lalu, kontingen Merah Putih mampu menduduki peringkat keempat dengan koleksi 31 medali emas. Itu lonjakan prestasi yang luar biasa. Pasalnya, sejak edisi 1994 atau dalam enam edisi sebelumnya (sebelum 2018), Indonesia tak pernah masuk sepuluh besar. Prestasi paling fenomenal dicatat pada 1962. Kala itu Indonesia berhasil menempati posisi runner-up!

Tapi, perlu diingat, sukses di dua edisi tersebut diraih saat Indonesia berstatus tuan rumah. Tentu bakal sulit mengulangi pencapaian tersebut di Hangzhou tahun depan. Apalagi, ada beberapa cabor seperti pencak silat yang tak lagi dipertandingkan. Padahal, pada edisi 2018, pencak silat menjadi lumbung medali Indonesia dengan kontribusi 14 emas.

Namun, Dewan Olimpiade Asia (OCA) bersama Panitia Penyelenggara Asian Games 2022 Hangzhou (HAGOC) sudah membuat keputusan final. Indonesia harus mencari lumbung medali dari cabor-cabor lainnya.

Pencinta olahraga di tanah air juga berharap bendera Merah Putih bisa kembali berkibar di ajang SEA Games dan Asian Games 2022. Persoalan dengan Badan Antidoping Dunia (WADA) harus segera dituntaskan. Sangat janggal rasanya jika saat prosesi penyerahan medali, bukan Sang Saka Merah Putih yang berkibar. Tapi malah bendera KOI (Komite Olimpiade Indonesia). (*)


*) BASKORO YUDHO, Kepala Kompartemen Sportainment Jawa Pos Koran

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads