alexametrics

Jatim Cerdas

Oleh M. SHOLAHUDDIN *)
1 Januari 2022, 09:45:29 WIB

AN investment in knowledge pays the best interest. Kira-kira artinya adalah investasi dalam pengetahuan selalu membayar bunga terbaik. Itu satu di antara kutipan populer dari Benjamin Franklin. Ada juga kutipan lain darinya, time is money, yang semua sudah tahu artinya. Juga, pasti mengamininya. Namun, tidak mudah melaksanakannya.

Benjamin Franklin adalah bapak pendiri Amerika Serikat. Juga, seorang ilmuwan, budayawan, dan negarawan. Tokoh multitalent yang mengawali perjalanan hidupnya sebagai seorang wartawan, kemudian menjadi editor. Yang harus putus sekolah di usia 10 tahun. Karena itu, kemudian dia sadar pentingnya pendidikan dan pengetahuan.

Iki nek ndak konco, ndak tak kandani! Wkkk…

Pendidikan dan pengetahuan bak dua sisi mata uang. Tidak terpisahkan. Sebagaimana pasangan Romeo dan Juliet. Awet. Saling mengisi. Melengkapi. Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan. Karena itu, sangatlah tepat ketika mendapat amanat sebagai gubernur Jatim sejak 2018, Khofifah Indar Parawansa menjadikan Jatim Cerdas sebagai satu program prioritas dari Nawa Bhakti Satya. Yakni, outline program di masa kepemimpinannya.

Jatim Cerdas itu bukan sebatas jargon. Gubernur Khofifah melalui dinas pendidikan sebagai instrumennya selama ini begitu getol untuk terus menggelorakan semangat Jatim Cerdas tersebut. Pendidikan itu. Baik formal maupun nonformal. Gubernur yang juga ketua umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) ingin pendidikan tidak sekadar mengantongi ijazah, tetapi harus lebih dari itu. Pendidikan harus membawa dampak manfaat. Pendidikan yang mengubah.

Sama dengan kesimpulan Benjamin Franklin, sebagai sosok yang dibesarkan dari ekosistem pesantren, Gubernur Khofifah juga sangatlah memahami betapa penting pendidikan dan pengetahuan tersebut. Keyakinan itu begitu terlihat. Betapa antusiasme dan semangatnya beliau saat menghadiri forum-forum dunia pendidikan. Pidato motivasinya selalu berapi-api. Menginspirasi dan mencerahkan.

Tentu, bukan hanya itu. Keteguhan tekad untuk melambungkan spirit Jatim Cerdas tersebut juga dibuktikan dengan keberpihakan anggaran. Alokasi dana untuk membiayai program-program untuk tumbuh kembangnya inovasi dan prestasi pendidikan di Jatim terbilang fantastis. Yakni, mencapai 51,74 persen dari APBD.

Tidak salah kalau pendidikan di Jatim pun menjadi barometer nasional. Indeks pembangunan manusia (IPM) Jatim pun terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Pada 2021 sebesar 72,14 persen. Naik 0,60 persen jika dibandingkan pada tahun sebelumnya.

Dari data BPS, pertumbuhan IPM pada 2021 dipengaruhi meningkatnya seluruh indikator pembentuknya. Baik indeks pendidikan, kesehatan, maupun pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan.

Indikator pendidikan, misalnya. Untuk komponen harapan lama sekolah (HLS) tercatat 13,36 persen. Lebih tinggi 1,29 persen daripada 2020, yakni 13,19 persen. Lalu, komponen pendidikan lainnya, rata-rata lama sekolah (RLS) mencapai 7,88 persen atau meningkat 1,29 persen.

Dari sisi kesehatan, bayi yang lahir pada 2021 memiliki harapan hidup hingga usia 71,38 tahun atau lebih lama 0,08 tahun jika dibandingkan dengan mereka yang lahir pada tahun sebelumnya.

Data tersebut menjadi satu bukti bahwa ada korelasi liner. Semakin warga Jatim terdidik dan berpengetahuan, makin meningkat IPM, angka harapan hidup, peluang untuk mendarmabaktikan hidupnya, dan makin banyak peluang untuk memberikan kemanfaatan. Rasanya itu juga yang membuat Gubernur Khofifah menaruh perhatian sangat besar pada pengembangan sumber daya manusia di Jatim agar menjadi lebih bernilai.

Kendati demikian, diakui atau tidak, sejauh ini masih ada disparitas IPM di kabupaten/kota di Jatim. Ada daerah-daerah yang begitu menonjol. Sebaliknya, masih ada sejumlah daerah yang perlu mendapat intervensi lebih. Kota Surabaya, misalnya. Sejauh ini, Surabaya tetap dominan sebagai barometer kabupaten/kota lain di Jatim dengan IPM 82,23 persen.

Nah, ketimpangan itu yang tampaknya menjadi pekerjaan rumah ke depan. Tentu beban itu tidak hanya terpikul di pundak seorang gubernur, tetapi juga di pundak bersama. Gubernur sudah begitu gigih. Tinggal para stakeholder, pemerintah kabupaten/kota, dan pihak ketiga seperti kalangan industri atau pelaku usaha. Mesti terus bersama. Berlomba menguatkan jahitan sinergisitas, kolaborasi, dan inovasi demi sebuah investasi pengetahuan. Sejalan dengan perubahan dan tantangan zaman.

Dengan demikian, generasi Jatim kelak makin menjadi ekosistem yang bernilai dan cerdas. Ya, anak didiknya, ya pendidikannya, keluarga, hingga lingkungan sosialnya. Tidak lagi ada disparitas. Semoga! (*)


*) M. SHOLAHUDDIN, Redaktur Jawa Pos Koran

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads