alexametrics

Budaya dan Hidup Sehari-hari

Oleh Leak Kustiyo *)
1 Januari 2022, 07:00:05 WIB

KALAU bisa dipersulit, kenapa dipermudah? Kalau masih bisa dibelak-belokkan, jangan dibikin lempeng! Aturan baru membolehkan, tapi undang-undangnya belum diganti.

Budaya-budaya yang menghambat, muter-muter, bikin sulit, masih bertebaran dan belum akan banyak berubah dalam 365 hari mendatang. Pemerintah, dalam hal ini Presiden Jokowi, harus tetap kenceng dalam mengawal gerakan revolusi mental. Karena semua budaya buruk itu betul-betul sebuah problem yang hulunya adalah mental.

Dua tahun gempuran pandemi dan hadirnya Undang-Undang Cipta Kerja belum sungguh-sungguh ampuh mengikis budaya-budaya yang mempersulit gerak kita dalam bekerja, mengembangkan. Kita masih dalam bayang-bayang budaya birokrasi yang tidak kunjung memperlancar. 

Ngobrol

Piknik, jalan-jalan, dan makanan enak bukan lagi materi obrolan tanggal muda dan jelang hari libur saja. Tapi menjadi obrolan dari Senin hingga Minggu. Sepanjang aturan bepergian masih ketat, rindu piknik dan kangen jalan-jalan, makan makanan yang belum pernah dicicipi, akan terus menguat dalam pikiran, dan sebagian besar cuma bisa diobrolkan. 

Paket

Pengantar pesanan makanan dan paket semakin sering datang ke rumah dan mulai tak mengenal jam kerja. Pagi, siang, malam, larut malam pun: permisi, pakeeett…!!

Wajah

Bapak-bapak semakin banyak yang ikut perawatan wajah karena terseret budaya macak ibu-ibu yang meng-glowing-kan muka. Tertular virus cakep! Sukses besar dua perusahaan kosmestik milenial asal Jatim yang rukun, yaitu MS Glow dan KLT, memicu terus munculnya brand-brand kosmestik baru kelas indie dengan maksud mengikuti, memfotokopi.

Senggang

Demam sepeda angin mulai mereda, menyisakan pemancal pedal militan seperti road bike dan MTB. Driving range semakin ramai oleh mereka-mereka yang belajar memukul bola golf. Namun, hanya sebagian yang berlanjut ke fairway karena sebagian besar ternyata hanya untuk kebutuhan upload foto di Instagram saja. Nih, gue main golf..

Semakin banyak yang demen olahraga di pagi hari. Jalan pagi, lari pagi, sepedaan pagi-pagi. Di kawasan G-Walk, Surabaya Barat, misalnya, fenomena itu ditangkap peluangnya oleh para pengusaha resto. Sekarang ini setidaknya sudah ada delapan resto yang menjual bubur di G-Walk yang sudah mulai buka jam enam pagi. 

F&B

Terjadi perpindahan mencolok di kelas konsumen makanan dan minuman. Murah tapi kenyang semakin tidak menarik. Tempat makan yang estetis, enak, dan mahal, meski tidak membuat kenyang, akan semakin sering dikunjungi.

Ritel

Indomaret semakin pede menjual durian kupas dengan harga se-lining-nya Rp 100 ribu lebih. Padahal, Indomaret juga menjual durian utuh (belum dikupas) yang harga per bijinya tak sampai Rp 100 ribu. Kalau dikupas, bisa didapat empat lining durian. Masyarakat semakin cuek dengan kalkulasi ribet apa itu murah, apa itu mahal. Dilihat menarik, siap dimakan, tak perlu repot mengupas, dibeli! 

Ini juga pertanda, petani lokal telah mampu memberi jaminan ketersediaan durian sepanjang tahun. 

Komunitas

Fenomena komunitas semakin kuat. Dengan pengelompokan kesamaan kesenangan dan hal-hal yang sejenis. Komunitas pencinta fotografi, sama-sama penyelam, klub pemancing parit sawah, pencinta vespa ndok, Pajero club, Kijang kotak, Jimny Jangkrik, dan seterusnya. Mengelompok dalam profesi sejenis pun dirasa tak cukup. Muncullah perkumpulan dokter pendaki gunung, arsitek-arsitek pemilik Land Rover, dan lain-lain.

Jadwal temu kangen terus dirancang meskipun seminggu sebelumnya sudah bertemu. 

Warna

Cat rumah dengan tone searah seperti seri morning fog, vision-nya Jotun, dipadu pebble stone dan evening sky –aksen agar terasa lebih anteb– akan banyak dipilih oleh mereka yang interes desainnya simpel dan modern seperti gaya Paulus Setyabudi, Andra Matin, dan yang meledak-ledak ekspresinya: Revano Satria. Termasuk gaya modern tropis yang tenang dan konsisten mempertimbangkan proporsi bidang merujuk pada kearifan lokal seperti desain Budi Harmunanto, Yori Antar, dan kawan-kawan. Untuk hunian, tampilan warna jrang-jreng semakin ditinggalkan. Ini sangat bertolak belakang dengan viralisme Kampung Jodipan atau Kalicode di masa Romo Mangun di waktu lampau. 

Beat 

Sweet seventeeners Surabaya belum luntur demennya dengan DJ Tripleks. Me time dengan berjedug-jedug di kelab masih akan diakrabi DJ Yasmin, Una, Angger Dimas, dan konco-konconya. Tapi, hajatan kampung yang hanya mampu menyewa sound system saat gelar resepsi pernikahan akan memutar dangdut koplo. Di pasar-pasar tradisional, sejak subuh penjual daging sudah memutar dentum bas garapan DJ Pong Pong dan DJ Santuy sambil mencincang iga sapi.

Desa

Jatim menjadi provinsi besar pertama yang dinyatakan lolos dari desa tertinggal di akhir 2021. Jawa Timur juga menjadi provinsi dengan jumlah desa mandiri terbanyak di Indonesia: 697 desa. Pelan-pelan akan terus terjadi perubahan nuansa di seluruh pelosok Jatim yang tadinya udik, menjadi kampung rasa kota.

Kota

Yang juga mencolok di Kota Surabaya adalah terjadinya perubahan suhu. Sangat kecil kemungkinan terjadi korsleting hubungan panas arus pendek antar pimpinan di Surabaya Raya dan gubernur Jatim. Gubernur, wali kota, dan para bupati di wilayah urban Surabaya, cara berpikirnya kini cenderung adem, simpel, tidak ruwet, muda, dan gaul. Masyarakat sangat merasakan sepoi-sepoinya. 

Digital

Akan ada tren ganti pesawat televisi karena per November 2022 siaran TV lama akan berganti ke TV digital. Karena diakhirinya era analog menjadi full digital. TV jadul bisa tetap dipakai dengan cara ditambahi alat penangkap siaran digital. Tapi, seperti halnya fenomena handphone, kita tak akan betah pakai HP yang ada antenanya bila tetangga kanan-kiri punya HP yang lebih baru dan lebih smart.

iPhone 13 akan terus dicita-citakan untuk dibeli dan menjadi obsesi di sepanjang 2022. Fitur sinematiknya akan banyak mengubah tampilan video. Di medsos, video-video pendek akan kelihatan lebih pro: objek utama tajam, latar blur. 

Media

Koran semakin tersegmentasi di kelas menengah dan atas, yaitu kelompok masyarakat yang butuh informasi akurat, beretika, dan pasti. Mereka cenderung membeli koran secara berlangganan dan membayar bulanan. Pasar koran eceran dengan pembeli tukang becak, sopir angkot, semakin menghilang seiring hilangnya becak dan angkot reyot. Sebagai pembaca, ke mana mereka pindah? Ke warkop!

Ngopi

Yang masih akan booming dan fenomenal adalah tumbuhnya kafe dan warkop. Kesantaian, ngomong ngalor-ngidul, rasa pahit, manis, pertemanan, cinta, curhat kesedihan, tawa, semua seperti dijanjikan ada di kafe dan warkop-warkop. Selain rasa-rasa tadi, apa janji kafe dan warkop-warkop? Wifi gratis, baca koran gratis! 

Di warkop, satu eksemplar koran Jawa Pos bisa dibaca hingga berpuluh-puluh orang. Halaman demi halaman dilepas, lalu ditaruh di meja berbeda. Meja sini baca sepak bola, meja sana baca politik. Meja pojok baca berita hukum. Satu koran dibaca ramai-ramai sampai lecek. Ini sungguh zaman warkop. Bukan lagi zaman satu koran dibaca satu sopir angkot. Turunnya tiras eceran tidak serta-merta membuat turunnya jumlah tingkat baca (readership). Dalam pergeseran perilaku ini, banyak orang koran gagal paham dan hilang orientasi.

Selamat dan sukses buat Kopi Kenangan, contoh unggul kedai kopi Indonesia yang awal tahun 2022 masuk kelas unicorn. 

Sambil ngopi aku tetep moco koran, kowe dasterannn… (*)


*) Leak Kustiyo, Direktur Utama Jawa Pos Media (Koran, Online, TV)

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads