alexametrics

Anies, Buzzer, dan Residu Demokrasi

Oleh SUPRIANTO *)
1 Januari 2022, 07:30:34 WIB

PENGICAU, pendengung, atau apalah sebutan untuk buzzer, mereka ini seolah tak pernah kehabisan amunisi. Bila akhir 2019 polarisasi buzzer politik kubu cebong dan kampret sudah meredup setelah diangkatnya Prabowo Subianto sebagai menteri pertahanan, akhir 2020 giliran diksi dan stigma kadrun yang lebih populer untuk menghantam mereka yang dianggap tidak NKRI, tidak Pancasilais, dan intoleran. 

Akhir 2021 ini, dengungan mereka sudah menyerempet, bahkan terang-terangan, seputar kontestasi bakal calon presiden (capres). Karena itu, pada 2022, percakapan di dunia media sosial (medsos) hampir pasti akan makin riuh seputar hajatan lima tahunan tersebut, seiring dengan makin dekatnya pilpres. Objek yang jadi sanjungan dan hantaman mereka siapa lagi kalau bukan sosok yang potensial dan disebut akan maju sebagai capres.

Sejumlah lembaga sigi nasional sudah berulang memaparkan surveinya. Hasilnya, paling tidak, tiga nama ini selalu muncul sebagai tokoh yang elektabilitasnya berpeluang menjadi calon presiden dua tahun mendatang. Mereka adalah Menhan Prabowo Subianto, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. 

Tiga sosok dengan seabrek aktivitas jabatannya tersebut otomatis makin membuat namanya populer. Bagaimana tidak, hampir tiap hari foto dan nama mereka berseliweran di media. Belum lagi relawan, simpatisan, hingga buzzer sudah berkicau nyaring di media sosial. Itulah yang seolah menutup peluang nama lain untuk bisa mengungguli tiga nama tersebut.

Dari tiga tokoh itu, mencermati fenomena Anies Baswedan memang menarik. Bagaimana tidak, pada rentang waktu tertentu, namanya paling sering diperbincangkan dan lebih populer di medsos, tapi paling sering juga mendapatkan serangan dan sentimen negatif. Hasil riset LP3ES dan Drone Emprit, misalnya, pernah mencatat, dari 361.329 unggahan di medsos yang menyebut nama Anies, tingkat kesukaannya hanya 31 persen. Sementara di waktu yang sama, unggahan yang menyebut nama Ganjar hanya 109.389, tapi tingkat kesukaannya mencapai 53 persen. 

Banyak yang menyebut fenomena Anies di media sosial ini tak lepas dari kerasnya kontestasi Pilgub DKI 2017 lalu. Disusul tajamnya polarisasi pendukung pada Pilpres 2019 yang memunculkan stigma cebong-kampret oleh buzzer dan bot politik. Mereka ini memang dikenal sangat lihai dan mahir dalam mengelola kebohongan sebagai isu publik, tanpa berpikir masa depan demokrasi yang penuh caci maki. 

Fenomena buzzer pada lanskap perpolitikan di Indonesia ini tidak lepas dari makin banyaknya pengguna platform media sosial. Berdasar catatan agensi marketing We Are Social, pada 2021 hampir separo penduduk Indonesia menggunakan medsos. Tidak tanggung-tanggung, total pengguna mencapai 170 juta dari 274,9 juta atau berkisar 61,8 persen. 

Besarnya pengguna medsos itulah yang menarik pasar ekonomi maupun politik bagi para pendengung tersebut. Akun buzzer dengan beragam jenis dan motifnya kian hari kian tak terkendali. Makin sulit pula dibedakan mana voice (suara) atau noise (kebisingan) pada sebuah percakapan politik di ranah daring. 

Singkatnya, inilah keniscayaan demokrasi era digital dengan masifnya pengguna medsos. Demokrasi yang menyisakan residu kerasnya kontestasi di tingkat pilgub DKI itu rupanya bakal berlanjut dan makin seru pada jilid berikutnya di tingkat pilpres. Dan, kian dekat pilpres, sepertinya residu itu bakal makin nyaring berkicau dan berdengung dengan tetap menjadikan Anies sebagai objek ”pelengkap penderita”-nya. (*)


*) SUPRIANTO, Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos Koran

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads