alexametrics

Menatap 2021 dengan Optimistis, namun Tetap Waspada

Oleh Prof. SRI ADININGSIH*
1 Januari 2021, 15:43:54 WIB

Covid-19 yang kita hadapi hampir setahun ini telah mengubah kehidupan, mesti menerapkan new normal, dan berdampak luas bagi perekonomian. Bahkan, instabilitas ekonomi makro sempat terguncang karena kekhawatiran masyarakat pada awal pandemi. Pembatasan pergerakan/kegiatan telah menurunkan permintaan sehingga terjadi deflasi pada Juli, Agustus, dan September 2020.

DATA BPS menunjukkan, ekonomi Indonesia yang biasanya tumbuh sekitar 5 persen dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan tajam menjadi 2,97 persen pada kuartal pertama 2020. Bahkan, akhirnya terjadi kontraksi -5,32 persen dan -3,49 persen di kuartal II dan III tahun 2020.

Kontraksi besar dialami sektor transportasi, akomodasi & makanan minuman, jasa perusahaan, serta perdagangan dan industri. Meski, sektor informasi dan komunikasi tumbuh sekitar 10 persen. Pertanian dan produksi untuk pemenuhan kebutuhan pokok masih bergerak.

Keterpurukan ekonomi meningkatkan pengangguran dari 5,28 persen pada 2019 menjadi 7,07 persen pada Agustus 2020 di mana peningkatan terbesar berada di perkotaan. Pandemi meningkatkan pengangguran 2,56 juta dari Februari hingga Agustus 2020, banyak masyarakat yang dirumahkan ataupun menutup bisnisnya, dan menambah kemiskinan. Dampak pandemi merata di seluruh dunia meski tentu saja derajat keterpurukan antarnegara tidak sama, bergantung pada karakteristik ekonominya dan kebijakan yang diambil otoritasnya. Indonesia termasuk negara yang terpuruk meski tidak parah.

Proses Pemulihan Ekonomi

Dalam menghadapi pandemi, otoritas Indonesia mengeluarkan berbagai kebijakan darurat yang diperlukan untuk mengatasi Covid-19 dan dampaknya serta pemulihan ekonomi. Di antaranya, mengeluarkan UU No 2 Tahun 2020. Dana yang diperlukan untuk mengatasi pandemi cukup besar (Rp 695,2 triliun) sehingga defisit APBN menjadi 6,32 persen dari PDB 2020. Sebanyak Rp 87,55 triliun dianggarkan untuk bidang kesehatan dan Rp 607,65 triliun untuk pemulihan ekonomi. Dana untuk demand side (perlindungan sosial seperti program PKH, sembako, bansos, kartu prakerja, diskon listrik, dan BLT dana desa) Rp 203,9 triliun dan supply side Rp 403,75 triliun. Program untuk pemulihan ekonomi, termasuk untuk UMKM (subsidi bunga, penempatan dana restrukturisasi, penjamin kredit modal kerja, pajak yang ditanggung pemerintah), insentif usaha (seperti pajak ditanggung pemerintah dan pembebasan PPh 22 impor), pembiayaan korporasi (seperti talangan modal kerja dan penyertaan modal negara), serta sektoral dan pemda (seperti untuk program padat karya, insentif pariwisata dan perumahan). Serapan anggarannya mencapai Rp 481,61 triliun atau mendekati 70 persen hingga 14 Desember 2020. Meski serapan dana belum maksimal, hasilnya mulai tampak. Berbagai indikator ekonomi mulai positif.

Kabar baiknya adalah bahwa keterpurukan ekonomi diyakini sudah mencapai dasarnya. Ekonomi mulai menggeliat lagi. Meski kontraksi ekonomi masih akan terjadi hingga akhir 2020, kontraksinya mengecil.

Kita beruntung bahwa transformasi ekonomi digital tengah berlangsung di Indonesia sebelum pandemi. Sehingga begitu kita mesti menerapkan gaya hidup baru, menggunakan online, bisa dilakukan. Ekonomi digital mengalami perkembangan yang pesat, semakin dalam, luas dan merata di seluruh tanah air, flight to digital. Sehingga ekonomi dan bisnis tertolong oleh digitalisasi pada masa pandemi.

Baca juga: Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Berakhir Februari 2021

Syukur, banyak pihak yang membantu meningkatkan akses dan literasi digital di seluruh tanah air. Sebagai contoh, di Papua dengan Gerakan Belanjain UMKM, Acil Asmah di Kalimantan Selatan, dan Sonjo di Jogja sehingga sekarang semakin banyak UMKM ataupun pedagang di pasar rakyat, petani, dan nelayan yang memanfaatkan digital. Pada 2020, 37 persen konsumen yang memanfaatkan internet adalah baru, di mana mayoritas (56 persen) di luar metropolitan Jakarta. Ekonomi internet masih tumbuh 11 persen, mulai 2019 hingga 2020. Bahkan, belanja online mengalami pertumbuhan 110 persen pada masa pandemi, tertinggi di ASEAN. Demikian juga pemanfaatkan mobile banking tumbuh tahunan 44 persen pada Januari−September 2020 (Google, Temasek, dan Bain & Company 2020) yang menunjukkan bahwa ekonomi internet bertumbuh meski tentu saja berbagai permasalahan juga merebak.

Prospek Ekonomi

Faktor pandemi akan banyak memengaruhi ekonomi Indonesia ke depan. Saat ini vaksinasi sudah dilakukan di beberapa negara. Indonesia diharapkan mulai tahun depan. Selain itu, kebijakan pemulihan ekonomi yang menjadi faktor penting kebangkitan ekonomi akan diteruskan hingga tahun depan. Demikian juga Undang-Undang Cipta Kerja dan peraturan turunannya yang diharapkan bisa menjadi tonggak penting kebangkitan bisnis dan investasi.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi dunia (mitra bisnis) diperkirakan meningkat. Purchasing managers index (PMI), keyakinan konsumen, serta penjualan semen dan mobil dalam negeri naik beberapa bulan ini. Permintaan masyarakat mulai meningkat dengan kembalinya inflasi sejak Oktober. Serta transformasi digital yang semakin luas di mana mayoritas konsumen online baru (97 persen) akan meneruskan pemanfaatan online meski pandemi berlalu. Pertumbuhan ekonomi internet diperkirakan 37 persen per tahun rata-rata hingga 2025 di mana nonmetropolitan Jakarta akan dua kali lebih pesat (Google, Temasek, dan Baik & Company 2020). Dengan begitu, kita bisa optimistis bahwa ekonomi akan membaik. Bahkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari Bank Dunia, IMF, ADB, dan OECD adalah antara 4 persen hingga 6,1 persen untuk tahun 2021, sementara proyeksi pemerintah 5 persen.

Kita berharap, pada 2021 akan terjadi kebangkitan ekonomi seperti proyeksi tersebut. Meski demikian, kita mesti waspada bahwa vaksinasi masal perlu waktu dan adanya mutasi baru Covid-19 membuat tahun depan tetap perlu new normal. Sebagai catatan, Barro dkk (NBER Working Paper, April 2020) menyampaikan bahwa kemerosotan ekonomi (GDP dan konsumsi) mencapai hingga 6 persen pada masa pandemi 1918−1920. Data juga menunjukkan, dampak pandemi 1918 pada perekonomian dunia bisa bertahun-tahun. Pada 1918, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi -3,4 persen. Pada tiga tahun berikutnya, ekonomi mulai tumbuh positif meski hanya sampai 0,4 persen dan baru tumbuh 5,7 persen pada 1922 (International Energy Agency). Itu berarti diperlukan waktu empat tahun untuk pulihnya ekonomi. Tentu saja, saat ini kondisinya tidak sama dengan berbagai kemajuan teknologi dan peradaban manusia. Kita bisa menyongsong tahun 2021 dengan optimistis, ekonomi akan tumbuh, mudah-mudahan 4 persen hingga 6,1 persen. Namun, tetap berjaga-jaga berbagai kemungkinan yang terjadi, termasuk jika pertumbuhan separo dari proyeksi. Untuk itu, kita perlu tetap bersemangat dan menjaga kesehatan. (*)

*) Prof. SRI ADININGSIH, Guru Besar FEB UGM dan Founder Institute of Social Economic and Digital

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra


Close Ads